Lukisan Sejarah Idah Syahidah dan Prabowo Subianto di Gorontalo

Lukisan Sejarah Idah Syahidah dan Prabowo Subianto di Gorontalo
Presiden Prabowo Subianto bersalaman dengan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah. Foto: ist

60DTK.COM – Sejarah terus terukir, Idah Syahidah Rusli Habibie adalah contoh konkrit bahwa perempuan memiliki pengaruh dalam kekuasaan. Idah perlahan tapi pasti terus menggerus stigma bahwa perempuan berada dalam bayang kaum lelaki diwilayah kekuasaan.

Diawal reformasi, para aktivisi perempuan radikal sering menyuarakan penghapusan sistem gender karena dianggap sebagai ruang penindasan dan peniadaan perempuan diarena pengambilan keputusan.

Bacaan Lainnya

Bahkan mereka menginginkan adanya kehidupan masyarakat baru yang menyetarakan posisi antara perempuan dan laki-laki dimanapun keberadaannya.

Di Gorontalo, telah hadir seorang tokoh perempuan yang lahir dari kapabilitas. Kapabilitas yang membuat orang-orang yakin dan percaya bahwa perempuan tidak lagi dianggap sebagai second line diarena kekuasaan.

Kapabilitas memaksa orang-orang mengakui bahwa perempuan bisa bekerja, landasan utama adalah kerja nyata.

Publik tercengang bagaimana performance Idah Syahidah saat menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke Gorontalo, Sabtu (9/5/2026).

Tampil gagah, Idah mengirimkan pesan penghapus diskriminasi terhadap kaum perempuan, bukan hanya pengalaman tapi sudah pada titik representasi kesetaraan bahwa perempuan bisa berada pada arena kekuasaan.

Dalam percepatan pembangunan Gorontalo, duet kepemimpinan Gusnar-Idah jadi wajah kolaboratif-progresif, ditengah tumpukan ‘Pekerjaan Rumah’, Gusnar Ismail tak jarang memberi ruang besar kepada Idah Syahidah untuk mewakilinya dalam berbagai agenda pemerintahan.

Idah pun melaksanakan tugas dengan penuh tanggungjawab dan membanggakan. Kehadiran Idah dalam arena kekuasaan menyuburkan sikap optimisme kaum perempuan.

Lukisan sejarah antara Idah Syahidah Rusli Habibie dan Presiden Prabowo Subianto di Gorontalo akan terus diingat publik, sekaligus mengkonfirmasi bahwa hari ini, esok dan akan datang kualifikasi kepemimpinan berada pada sikap objektif bernama, kapabilitas.

Pos terkait