60DTK.COM — Kabar membanggakan datang dari Yayasan Gorontalo Baik Indonesia (Goroba). Lima relawan penerima program Beasiswa Goroba Peduli Pendidikan berhasil menuntaskan pendidikan strata dua (S2) dan resmi menyandang gelar Magister setelah mengikuti prosesi wisuda di STIE IBMT (International Business Management Technology) Surabaya.
Kelima penerima beasiswa tersebut yakni Muhlis Pateda, Rezkiyah Anastasya Hulungo, Sofyan Rauf, Sartika Ente, dan Adiputra Wijaya Katili.
Kelulusan lima relawan tersebut menjadi bagian dari komitmen Goroba dalam membuka akses pendidikan sekaligus mendukung pengembangan kapasitas relawan yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Program Goroba Peduli Pendidikan merupakan salah satu bentuk pengembangan relawan yang dijalankan Yayasan Gorontalo Baik Indonesia. Dalam program pengembangan relawan, Goroba tidak hanya memberikan ruang bagi para relawan untuk terlibat dalam aksi kemanusiaan, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas melalui pendidikan, pelatihan, pengembangan hard skill maupun soft skill, serta program beasiswa.
Founder Yayasan Gorontalo Baik Indonesia, Ririn Afitri Tatu, mengatakan beasiswa tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus investasi Goroba terhadap para relawan yang telah banyak berkontribusi membantu masyarakat.
“Kelima wisudawan ini adalah penerima program Beasiswa Goroba Peduli Pendidikan. Program ini kami khususkan bagi relawan yang selama ini telah banyak memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan kontribusinya dalam berbagai aksi kebaikan di Goroba,” kata Ririn.
Menurut Ririn, Goroba memiliki prinsip bahwa relawan yang selama ini banyak membantu orang lain juga harus mendapatkan ruang dan kesempatan untuk berkembang serta memperjuangkan masa depannya sendiri.
“Prinsipnya sederhana, mereka yang selama ini banyak menolong orang lain juga perlu diberikan kesempatan untuk menolong dirinya sendiri, salah satunya dengan menyelesaikan pendidikan. Kami ingin para relawan bukan hanya tumbuh dalam pengabdian, tetapi juga bertumbuh secara pribadi, akademik, dan profesional,” ujarnya.
Ririn menambahkan, pendidikan menjadi salah satu cara untuk memperkuat kapasitas relawan agar di masa mendatang dapat menghadirkan dampak yang semakin luas bagi masyarakat.
“Berbuat baik kepada orang lain bukan berarti harus meninggalkan mimpi sendiri. Justru ketika relawan semakin berilmu, semakin berdaya, dan memiliki kapasitas yang lebih baik, maka kami percaya manfaat yang bisa mereka berikan kepada masyarakat juga akan semakin besar,” tambahnya.
Hal tersebut sejalan dengan fungsi empowering yang dikembangkan Goroba, yakni meningkatkan potensi dan kapasitas relawan agar mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan di masyarakat.
Salah satu penerima beasiswa, Rezkiyah Anastasya Hulungo, menyampaikan rasa syukur karena dapat menyelesaikan perjalanan pendidikan S2 melalui kesempatan yang diberikan Goroba.
“Kami sangat bersyukur akhirnya bisa menuntaskan studi ini. Kesempatan yang diberikan Goroba menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi kami, karena di tengah aktivitas dan pengabdian sebagai relawan, kami tetap diberikan ruang untuk belajar dan mengembangkan diri,” ujar Rezkiyah.
Ia mengatakan perjalanan menyelesaikan pendidikan S2 bukan proses yang mudah. Namun, berbagai tantangan yang dilalui menjadi pengalaman berharga hingga akhirnya mereka dapat menyelesaikan studi dan meraih gelar Magister.
“Perjuangan ini akhirnya terasa tidak sia-sia. Ada banyak proses, tantangan, waktu, dan tenaga yang kami lewati sampai berada di titik ini. Kami berharap ilmu yang kami dapatkan membawa berkah, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan semakin menguatkan kontribusi kami kepada sesama,” ungkapnya.
Rezkiyah juga menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Gorontalo Baik Indonesia yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada para relawan untuk melanjutkan pendidikan.
“Semoga kesempatan baik yang kami terima ini bisa kami balas dengan terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat yang lebih luas. Gelar ini bukan akhir dari perjalanan, tetapi menjadi tanggung jawab baru bagi kami untuk mengamalkan ilmu yang sudah diperoleh,” katanya.
Keberhasilan lima relawan tersebut sekaligus memperkuat semangat Goroba untuk terus menempatkan relawan sebagai bagian penting dari ekosistem kebaikan yang juga perlu diberdayakan dan dikembangkan.
Dalam perjalanan organisasi, Goroba menjadikan pengembangan relawan sebagai salah satu program utamanya, termasuk pemberian beasiswa pendidikan. Yayasan juga memiliki semangat untuk menghubungkan kebaikan, membangun kolaborasi, serta mengembangkan relawan agar dapat menciptakan dampak nyata dan berkelanjutan.
Ririn berharap capaian lima penerima beasiswa tersebut menjadi inspirasi bagi relawan lainnya agar terus berani bermimpi dan meningkatkan kualitas diri di tengah aktivitas pengabdian kepada masyarakat.
“Hari ini mereka membuktikan bahwa mengabdi untuk sesama dan mengejar pendidikan dapat berjalan beriringan. Semoga gelar yang diraih menjadi pintu menuju lebih banyak kebaikan, karya, dan kebermanfaatan. Kami ingin setiap relawan Goroba percaya bahwa ketika mereka membantu orang lain bertumbuh, mereka juga berhak untuk ikut bertumbuh,” tutup Ririn.
Yayasan Gorontalo Baik Indonesia atau Goroba dengan tagline Satu Hati Berbuat Baik, merupakan organisasi sosial yang dirintis sejak 2017 dan berbadan hukum pada 2020. Goroba bergerak dalam pendampingan medis, bantuan nonmedis, pendidikan, serta pengembangan relawan. Dalam company profile yayasan, hingga 2026 Goroba tercatat memiliki sekitar lebih dari 500 relawan dan menjangkau lebih dari 4.000 penerima manfaat. (rls)






