60DTK.COM – Penghujung bulan suci ramadan 1447 Hijriah, masyarakat Gorontalo selalu melakukan tradisi tumbilotohe atau malam pasang lampu.
Sama halnya yang berlangsung di Bone Bolango. Sejumlah anak muda yang tergabung dalam komunitas Pemuda Penggerak Bersatu melakukan pemasangan ratusan lampu botol dan lampion warna-warni.
Panitia Perayaan Malam tumbilotohe Pemuda Penggerak Bersatu, Abdullanto Ibrahim, mengatakan konsep yang diangkat tahun ini sengaja mengusung nuansa tradisional seperti pada masa dahulu.
Dalam artian kata Abdullanto, banyak generasi muda yang tidak lagi mengetahui bagaimana perayaan Tumbilotohe secara tradisional menggunakan lampu botol dengan sumbu dan minyak tanah.
“Sekarang ini jangankan lampu botol yang menggunakan sumbu dan minyak tanah, kita lihat sudah banyak yang tidak merayakan malam pasang lampu ini,” kata Abdullanto, Senin (16/03/2026).
Sehingga, kata Abdullanto tumbilotohe menjadi salah satu ajang pengingat kepada anak-anak muda bahwa pentingan selalu melestarikan budaya Gorontalo.
“Anak-anak sekarang pun banyak yang tidak tahu bahwa dahulu perayaan tumbilotohe menggunakan lampu botol, alikusu, dan lampion, jadi ini penting untuk dijaga dan diperkenalkan kepada anak muda,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya akan terus berkomitmen menjaga serta memperkenalkan kembali tradisi tumbilotohe kepada generasi muda.
“Harapannya tumbilotohe tidak sekadar menjadi hiasan malam menjelang akhir ramadan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya agar warisan leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” tambahnya. (adv)






