Gara – Gara Kongres, Ketua Cabang KPMIP Sulut Dicekik

60DTK-GORONTALO – Suksesnya pelaksanaan Kongres Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Pohuwato (KPMIP) ternyata masih jauh dari harapan. Pasalnya, kegiatan tersebut menyisakan polemik yang cukup besar bagi para kader KPMIP sendiri.

Dalam kongres yang sebelumnya dilaksanakan di Jogjakarta pada 12 Februari sampai dengan 15 Februari 2019 itu, sempat terjadi hal kurang mengenakan yang terjadi pada salah satu mahasiswa asal Sulawesi Utara (Sulut), yang tak lain adalah Ketua KPMIP Sulut, Taufik Haras.

Masalah timbul ketika Taufik mendapat telepon dari Rozlan Tawaa, yang pada saat itu berkeinginan untuk mencalonkan diri sebagai Ketua KPMIP.

Baca juga : Penetapan BEM UNG Tak Ada Kejelasan, Kinerja Penyelenggara Dipertanyakan

“Saya ditelepon dan diminta agar memberikan rekomendasi KPMIP cabang Sulut kepada dia, karena dia ingin maju lagi sebagai ketua,” ungkap Taufik.

Melalui sambungan telepon itu Taufik mengaku menerima ancaman akan di caretaker jika rekomendasi tidak diberikan.

“Akhirnya karena rekomendasi tidak saya berikan, cabang Sulut kena caretaker, yang pada saat itu kurang lebih tiga hari lagi pelaksanaan kongres,” ujar Taufik.

Taufik mengungkapkan, dari sini lah dirinya mulai mendapati berbagai ancaman.

“Saya mendapat intimidasi secara fisik. Saat akan masuk ke ruangan pelaksanaan kongres, saya ditahan pria gempal berambut gondrong. Katanya dia seksi keamanan panitia. Tapi saat saya memaksa masuk, leher saya malah dicekik,” kata Taufik.

Terkait konflik ini, Ketua KPMIP Gorontalo, Rifyan Saleh mengaku, hingga saat ini belum ada langkah penyelesaian yang coba dilakukan oleh Ikatan Alumni (IKA) KPMIP.

“Kami peduli organisasi ini, makanya kami selalu berharap konflik ini bisa direduksi secepatnya dan menemukan solusi bersama,” tegas Rifyan.

Sementara, Ketua KPMIP Jawa Timur, Janwar Hippy menegaskan, jika senior di tataran IKA tidak mau menjadi penengah, maka mereka akan membawa masalah ini ke jalur hukum.

Karena menurut Janwar, tidak hanya dugaan tindakan fisik, tapi juga ada dugaan pemalsuan tanda tangan yang dilakukan oleh beberapa oknum saat persidangan berlangsung.

“Kita sudah mengantongi beberapa bukti. Ini pelanggaran mal-administrasi yang serius. Mau jadi apa organisasi ini jika pemimpinnya terpilih hanya berdasar dari dokumen yang dipalsukan?” tandas Janwar.

Melihat banyaknya tanggapan dari para ketua cabang KPMIP, salah satu IKA KPMIP, Nasir Giasi pun turun tangan menengahi persoalan ini.

Ia berjanji kepada kedua pihak untuk segera menyelesaikan konflik kongres KPMIP pasca pemilu serentak 2019 itu.

 

 

Pewarta : Moh. Effendi
Editor : Nikhen Mokoginta

Comments are closed.