Gubernur Khofifah: Arahan Presiden Kontraksi Ekonomi Akibat Covid Harus Dibalik Menjadi Pertumbuhan Yang Positif

60DTK, Blitar – Produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jawa Timur turun sekitar 0,3 % berdasarkan Laporan Kinerja Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur 2018 – 2019 kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur di kisaran 57,52%, dari total 12,1 juta unit UMKM, sementara di tahun 2020 ini hanya memberikan kontribusi sebesar 54%.

Hal ini seperti apa yang disampaikan Gubenur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat meresmikan Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar sebagai desa Digital dan UMKM pada Sabtu (13/9/2020).

Baca Juga: Khofifah Indar Parawansa Resmikan RSUD Srengat

Alasanya, faktor yang mempengaruhi penurunan itu menurut Khofifah, adalah adanya pandemi Covid-19 ini. Sehingga sangat mempengaruhi daya beli masyarakat maupun produk yang dihasilkan oleh pelaku UMKM.

“Karena masyarakat saat ini masih cenderung untuk saving atau menabung. Maka dari itu, bagaimana sekarang menggerakkan industri kreatif dan UMKM, akan tetapi masyarakat juga bergerak untuk membeli gitu. Sehingga marketnya ini bisa tumbuh,” jelasnya.

Kemudian, kata Khofifah, untuk menumbuhkan keseimbangan antara produktifitas yang dihasilkan oleh pelaku UMKM dengan daya beli masyarakat harus dibarengi dengan tindakan untuk mendorong hal tersebut,  seperti bantuan subsidi gaji dan subsidi upah.

Lebih lanjut mantan menteri sosial pada kabinet kerja 2014-2019 ini mengatakan, kalau produktifitas UMKM ini tidak diserap pasar atau tidak ada market share (pangsa pasar), maka, tidak ada multiplier effect (efek berganda).

“Jadi format – format UMKM utamanya di bidang mamin, sesuai arahan bapak Presiden diharapkan bisa tumbuh secara bertahap, sehingga kontraksi ekonomi ini bisa kita balik menjadi pertumbuhan yang positif,” jelas Khofifah.

Baca Juga: Ciptakan Berbagai Inovasi, Dispendukcapil Kab.Blitar Cepat Melayani Masyarakat

Sementara itu, Kepala Desa Rejowinangun Bagas W menandaskan, kalau untuk Desa Rejowinangun itu sendiri merupakan pilot project dari Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM. Ia menyebutkan, di desanya ada lebih dari 126 pelaku usaha mikro bergerak dalam makanan dan minuman olahan.

Saat pandemi Covid-19 ini, kesulitan yang dihadapi adalah distribusi pemasaran, dan penurunan daya beli. Apalagi sektor pariwisata juga terdampak cukup parah, hal ini sangat berkaitan sekali.

“Sehingga pemerintah desa bergerak ikut campur tangan didalam melakukan terobosan, yakni dengan membuat website dan membantu pemasaran,” tutur Bagas.

Dampaknya, dalam proses pemasaran tersebut, kata Bagas, melalui portal desa digital untuk memasarkan produk melalui katalog online, produktifitas UMKM yang ada di desanya tidak terlalu berpengaruh walapun mengalami sedikit penurunan di masa pandemi Covid-19 ini.

“Alhamdulillah pandemi Covid-19 dari bulan Maret sampe kini, tidak ada kendala yang berarti karena sinergitas antara pemerintah dan masyarakat, semua dapat teratasi,” pungkasnya.

 

 

Pewarta: Achmad Zunaidi