Mengunjungi Pusat Kerajinan Karawo Di Kabupaten Gorontalo

Tak begitu jauh dari pusat keramaian Kota Limboto, Kelurahan Bulota hadir sebagai perwujudan eksistensi kain sulaman khas Gorontalo ini.

60DTK – Gorontalo: Setelah festival karawo 2019 yang telah berakhir pada Minggu (6/10) kemarin, juga ditandai dengan karnval, tak ada salahnya jika menyempatkan waktu luang untuk berkunjung ke Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo yang mengeksistensikan daerahnya sebagai Pusat Kerajinan Karawo.

Tak begitu jauh dari pusat keramaian Kota Limboto, Kelurahan Bulota hadir sebagai perwujudan eksistensi kain sulaman khas Gorontalo ini.

Ibu Nari Agus (56) pengrajin yang tetap setia melakukan pekerjaan menyulamnya selama 11 tahun di Kelurahan Bulota. Ia memulai pekerjaan sebagai pengrajin sejak ia duduk dikelas 4 Sekolah Dasar.

“11 Tahun saya bekerja seperti ini, banyak menerima pesanan juga. Pekerjaan ini saya jalani dari kecil,” kata Ibu Nari kepada wartawan saat diwawancarai di rumah, saat itu pula ia sedang menyulam beberapa motif karawo yang telah dipesan oleh pelanggannya. Senin (7/10/2019).

Pekerjaan menyulam ini secara otodidak dilakukan oleh Nari Agus, ia bisa menyulam seperti ini karena sering melihat orang tuanya dulu menyulam karawo.

“Saya bisa menyulam karena melihat orang tua, mereka dulu pengrajin seperti apa yang saya lakukan sekarang ini.”

Keuntungan yang didapatkan Nari Agus dari sulaman karawo juga beragam, tergantung kesusahan dan kemudahan motif yang dikerjakan. “Semakin besar motif yang dikerjakan, semakin lama pengerjaannya dan untungnya bisa lebih besar.”

“Paling mahal motif yang saya kerjakan itu di baju gamis, 250 ribu harganya. Dan paling murah pada pengerjaan jilbab 40 ribu. Itupun keuntungan yang didapatkan harus dibagi lagi kepada pengrajin yang tergabung dalam kelompok saya, kelompok Huyula,” ungkapnya.

Namun, Nari Agus menyesalkan sikap generasi penerus yang ada di Kelurahan Bulota tak mau belajar dan peduli terhadap keberadaan karawo ini ke depannya.

“Saya mau membuka pelatihan dan itu gratis. Tapi anak-anak di sini terlalu asik dengan mainan baru mereka handphone dan internet,” imbuhnya saat memberikan keterangan kepada wartawan.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.