WNI Eks ISIS Sudah Bukan Warga Indonesia, Tidak Perlu Pusing Memulangkan Mereka

  • Whatsapp
Anggota DPR RI, Idah Syahidah. Sumber Foto : Hulondalo.id

60DTK-Gorontalo: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Idah Syahidah, angkat bicara terkait polemik Warga Negara Indonesia (WNI) yang terlibat dengan keanggotaan Islamic State Irak and Syiria (ISIS), yang banyak diperbincangkan beberapa waktu terakhir.

Idah menuturkan, hal ini sudah sangat jelas diatur dalam Pasal 23 Undang – Undang Kewarganegaraan, di mana pada poin d disebutkan bahwa seseorang dapat kehilangan kewarganegaraan jika masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari presiden.

Bacaan Lainnya
banner 468x60

Baca juga: Amerika Serikat Mulai Bangun Kemitraan Dengan Organisasi Berbasis Agama

“Dalam hal ini, ISIS adalah sejenis tentara asing itu,” ucap Idah.

Sementara dalam poin f, disebutkan juga seseorang bisa kehilangan kewarganegaraan jika secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing, atau bagian dari negara asing tersebut.

Baca juga: Idah Syahidah Sosialisasi Bahaya Sampah Plastik, Hingga Bagi – Bagi Tumbler Gratis

“ISIS seperti terlihat dalam video-videonya sudah menyatakan jelas hal tersebut. Dan otomatis kewarganegaraanya menjadi hilang karena selama ini juga tidak ada perwakilan Indonesia yang memberi perlindungan terhadap mereka,” lanjut istri Gubernur Gorontalo itu.

Ia pun menegaskan bahwa sejak seorang WNI menyatakan diri sebagai bagian dari ISIS, maka sejak saat itu pula orang tersebut melepas statusnya sebagai WNI, karena secara tidak langsung sudah menganggap ISIS sebagai negara mereka.

Baca juga: Idah Syahidah Bagi 400 Ekor Bibit Ayam Ternak Untuk Forum GenRe Gorontalo

“Jadi sebenarnya pemerintah Indonesia tidak memiliki kewajiban lagi untuk melindungi mereka. Akan tetapi secara manusiawi melihat mereka, kita ya, kasihan juga. Mereka jadi tidak punya kejelasan status kewarganegaraan jadinya. Tetapi karena kondisinya terjadi saat tidak di sini, ya tidak perlu pusing untuk me-warganegarakan mereka,” tutup Idah.

Pos terkait