Akses Jalan Menara Ditutup, Pendapatan PKL Menurun

  • Whatsapp
Yusna Gani (kiri) saat melayani pembeli, Rabu malam (23/2). Yusna merupakan salah satu pedagang kaki lima (PKL) yang telah berjualan di sekitaran Menara Limboto sejak Tahun 2002. Foto : Andi/60dtk

60DTK – LIMBOTO : Memasuki hari kesepuluh perbaikan plafon dan kaki Menara Pakaya Tower, pendapatan pedagang kaki lima di sekitaran menara dan Taman Limboto mulai menurun. Hal itu disebabkan adanya penutupan akses jalan yang melintasi kaki menara sejak (4/2) lalu.

Sebelumnya, selama proses perbaikan Ikon Kabupaten Gorontalo ini, Pemkab telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk adanya penutupan akses jalan. Ini dilakukan untuk kelancaran proses pengerjaan. Sementara itu, para pedagang kaki lima (PKL) tetap diberikan kesempatan untuk berjualan.

Bacaan Lainnya
banner 468x60

Yusna Gani, salah satu pedagang kaki lima yang sudah berjualan di sekitar menara sejak Tahun 2002 silam, penutupan akses jalan itu sangat berpengaruh pada pendapatannya.

“Biar bagaimanapun, adanya penutupan jalan ini berpengaruh sekali pada pendapatan kami sebagai pedagang. Karena jumlah pengunjung juga menurun,” ungkap Yusna saat di wawancarai, Rabu malam (13/2/2019).

Yusna menambahkan, sejak Launching lampu Menara Pakaya pada malam tahun baru kemarin, khsusnya malam Kamis dan malam Minggu pendapatannya ikut naik. Namun, sejak adanya penutupan jalan di bawah kaki menara, pendapatannya juga menurun.

Tempat jualan Karsum B. Kidam begitu sepi pada malam kamis. hal terbet di anggap sebagai dampaj adanya penutupan akses jalan yang melintasi kaki menara limboto. Foto : Andi/60dtk

“Pendapatan yang agak lumayan itu, malam kamis dan malam minggu. Pendapatan yang tadinya sekitar Rp. 700.000, dengan adanya penutupan jalan ini turun Rp. 500.000. Kalau di hari – hari yang lain biasanya dapat di atas Rp 300.000, sekarang tinggal Rp. 150.000 atau Rp. 100.000,” jelas Yusna.

Sama dengan Yusna Gani, PKL lainnya Karsum B. Kidam menjelaskan, dengan di tutupnya akses jalan di bawah kaki Menara Keagungan Limboto, ada penurunan pendapatan yang Ia rasakan.

“Pendapatan menurun. Biasanya saya masak nasi kuning 4 – 5 Liter, sekarang 2/5 Liter saja susah habis terjual. Begitu juga dengan nasi putih. Biasanya 8 Kg, sekarang saya tinggal masak 6 Kg, tapi itu juga tidak terjual habis. Sejak penutupan jalan ini, hanya sekali jualan saya terjual habis,” keluh Karsum.

Meskipun begitu, sebagai manusia yang selalu mensyukuri nikmat yang ada, para pedagang kaki lima tersebut tetap memberikan apresiasi untuk pemerintah daerah Kab. Gorontalo.

“Tapi saya senang dengan kebijakan Pemerintah Daerah untuk memperbaiki Menara ini. Karena akhirnya (selesai pengerjaan) dampaknya juga kami (pedagang kaki lima) yang senang. Hanya saja yang paling penting kami tidak di jauhkan dari Menara ini,” tegas Yusna.

Penulis           : Andrianto Sanga

Editor              : Kasim A.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan