Darmawan Duming Bersikukuh Pohon di Jalan Madura harus Ditebang

60DTK – Gorontalo: Persoalan rencana penebangan pohon yang berada di jalan Madura yang diprotes oleh Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Gorontalo untuk tidak ditebang, ditanggapi oleh Darmawan Duming selaku anggota perwakilan masyarakat sekitar dan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Gorontalo agar pohon mangga itu segera ditebang.

Darmawa Duming atau yang biasa disapa Haji Daru ini bersikukuh untuk menebang pohon tersebut. Dengan alasan keberadaan pohon itu dapat meresahkan pengguna jalan, kelancaran dan kenyamanan masyarakat sekitar, alasan lainnya karena selalu terjadi peristiwa yang tidak diharapkan sering terjadi di bawah pohon ini.

“Terkait penebangan pohon ini sudah dijelaskan tadi oleh Dishub Kota Gorontalo mengacu pada Peraturan Pemerintah itu harus ditebang. Sehingga saya selaku masyarakat, tokoh masyarakat, dan anggota perwakilan masyarakat di Liluwo ini, meminta kepada pemerintah kalau bisa ditebang pohon ini. Tapi penebangan pohon juga harus dilihat dari sisi estetika lingkungan hidupnya, itu harus kita perhatikan,” ungkapnya saat menghadiri pertemuan dengar pendapat antara masyarakat, Dinas PU, Dishub, masyarakat, dan FKH Kota Gorontalo, Jumat (18/10/2019).

Darmawan juga menuturkan, bahwa ia mengetahui seluk beluk dari sejarah pohon mangga ini berada di simpang tiga jalan Madura itu. Karena menurutnya di bawah pohon ini sering jadi tempat kriminalitas yang setiap hari pasti ada laporan yang masuk kepadanya.

“Penebangan pohon ini harus dilihat secara azas manfaatnya. Saya tidak mau lagi, ada orang mabo (mabuk) di sini, baku tabrak (bertabrakan) kemudian lari ke rumah saya, ‘Pak Haji ada orang mabo di bawah pohon mangga, so baku tabrak di bawah pohon mangga’, jadi saya lagi yang sibuk dan sakit kepala. Saya cuman minta kepada pemerintah kalau misalnya mau ditebang pohon ini, solusi yang ditawarkan apa?,” ujarnya secara tegas dalam pertemuan itu.

Namun, sikap Darmawan yang bersikukuh menebang pohon tersebut mendapat respon yang berbeda dari Rahman Dako selaku pegiat lingkungan di Gorontalo. Menurut Rahman, pohon ini kalau dilihat dari manfaatnya memang sangat banyak apalagi ada beberapa masyarakat yang menggantungkan jualan mereka dari kerindangan pohon ini.

“Kasihan masyarakat yang jualan di sini, jika pohon ini ditebang bagaimana nasib mereka selanjutnya. Dan ada pula masyarakat yang menolak pohon ini untuk tidak ditebang, termasuk ibu-ibu penjual di sini,” kata Rahman Dako saat menanggapi perkataan Darmawan Duming soal dukungannya terhadap penebangan pohon.

Mendengar perkataan Rahman Dako tadi mengenai masyarakat yang menolak penebangan pohon mangga tersebut, Darmawan kemudian mengomentari hal itu.

Menurutnya, masyarakat yang mendukung pohon ini jangan ditebang karena mereka berjualan di sini, tapi jika kita berikan pengertian mereka pasti akan mengerti. Tempat ini akan jadi wisata kuliner nantinya, sehingga mereka yang berjualan di bawah pohon akan dipindahkan ke wisata kuliner yang telah direncanakan pemerintah yang telah saya perjuangkan dari dua tahun yang lalu.

“Saya tidak mau ada masyarakat saya bertameng di pohon ini, saya tidak suka, berarti mereka pengecut, yang akan saya lihat untuk penebangan pohon ini demi kepentingan semua orang.  Ayo, kita tidak usah berdebat dengan beradu argumen ini dan itu, mari kita carikan solusinya,” ujarnya.

Darmawan juga menuding masyarakat yang pro terhadap pohon ini tidak ditebang merupakan masyarakat yang dibantu olehnya untuk tetap berjualan di bawah pohon mangga tersebut. “Karena secara aturan sudah tidak diijinkan lagi berjualan di sini, tapi saya memohon ke pemerintah untuk diberikan waktu agar mereka tetap berjualan di sini.  Sambil menunggu wisata kuliner yang dijanjikan pemerintah direalisasikan.”

“Saya sudah 40 tahun di daerah sini, jadi tempat apa pohon ini saya tahu. Maka dari itu pohon ini harus ditebang. Tapi juga harus memikirkan solusi, hanya saja saya tidak mau akibat satu pohon mangga ini pekerjaan pelebaran jalan akan terkatung-katung,” katanya di akhir wawancara.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.