Demi Anakku, Kanker Otak-pun Bukan Penghalang untuk Memulung

60DTK, Kabupaten Gorontalo – Hari itu, cahaya merah mulai terbentang di angkasa, menandakan sang surya akan kembali keharibaan. Beberapa anak kecil mulai kembali dari aktivitasnya setelah bermain dengan teman sebayanya di luar rumah.

Disamping rumah yang sederhana, tampak Sri Warti Polapa (42) masih saja sibuk melekatkan antara ujung selembar karung bekas dengan menggunakan sebuah jarum besar dan seutas tali rafia.

Sambil bekerja, perempuan itu terlihat beberapa kali menggaruk-garuk bagian atas kepalanya yang tidak lagi ditumbuhi rambut.

Saya ini ada ba bungkus barang-barang bekas. Abis ini somo ba bongkar-bongkar botol aqua dengan ba atur-atur dos. Soalnya besok dorang somo jemput,” ujar Sri, Sabtu (19/12/2020).

Baca Juga: Diduga Dipengaruhi Miras, Warga Pohuwato ini Tega Bunuh Adik Kandungnya

Memang, Sri adalah salah satu dari sekian warga Desa Huidu, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung barang-barang bekas. Pekerjaan ini sudah Ia geluti sejak suaminya meninggal dunia tahun 2011 silam.

Sejak saat itu, Sri tidak pernah meninggalkan pekerjaannya itu. Ia juga tidak pernah merasa malu dengan orang lain, termasuk saudara-saudara kandungnya. Bagi Sri, yang penting dirinya bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sri memiliki tiga orang anak. Anak tertua telah meninggal dunia pada beberapa tahun silam, anak kedua sudah berkeluarga, sementara anak terakhir masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Otomatis, anak paling bungsu itu masih menjadi tanggungannya.

Kalau saya mo ambe gaji, kalau tidak mo cukup selama satu bulan, kan somo ba pinjam. Jadi lebe bae saya bagini saja, karena ini cuman per minggu. Biar cuman botol aqua, bisa torang jual. Biasanya satu minggu itu saya bisa dapat uang Rp.200.000, kadang juga tidak sampai,” beber Sri.

Baca Juga: Dua Pria Baku Pukul di Kafe Pauwo, Satu Kena Tusuk

Sri mengakui, pekerjaan itu memang cukup berat baginya. Apalagi ia menderita penyakit kanker otak stadium 4, yang sudah di derita bertahun-tahun. sudah mencoba berobat ke salah satu rumah sakit di Gorontalo, tapi dokter yang menanganinya mengatakan bahwa penyakit itu sudah sulit disembuhkan, karena belum ditemukan obatnya.

Mendengar hal itu, Ia meminta kepada anak dan keluarganya segera dikeluarkan. Satu hal yang ada dipikirannya, Ia ingin kembali bekerja dan mendapatkan uang. Ia tidak ingin membebankan kebutuhannya kepada saudara maupun keluarganya.

Saya jalan kaki sambil dorong gerobak. Gerobak ini bisa mo nae, tapi saya sudah takut karena dulu saya pernah orang mabuk nae motor dapa tabrak. Karena saya juga ada penyakit, jadi setengah jam bajalan, setengah jam istirahat,” tuturnya.

Baca Juga: Ratusan Buruh Desak Pemkab Gorontalo Selesaikan Masalah PHK Sepihak di PT. Royal Coconut

Meskipun pekerjaan sebagai pemulung dan kondisinya fisiknya yang sudah sulit, tidak banyak yang diharapkan oleh Sri. Setiap harinya Ia hanya selalu berdoa agar diberikan kesehatan, rezeki yang cukup, dan umur panjang.

“Tidak banyak yang saya harapkan. Setiap hari saya hanya terus berdoa supaya diberi kesehatan, diberi rezeki, dan umur panjang. Apalagi anak yang terakhir ini masih sekolah, dia perempuan, dan tanggung jawab belum terlepas,” pungkasnya.

 

Pewarta: Andrianto S. Sanga

Ikuti Kami

Ikuti perkembangan informasi disekitar anda melalui media sosial kami. Ubah hidupmu dengan membaca berita 60dtk.com

Related Articles