Dinkesprov Gorontalo Bekali Nakes Terkait Pemberian Makan Bayi dan Anak

60DTK, Gorontalo: Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo melaksanakan pelatihan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) tingkat Provinsi Gorontalo. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, yakni tanggal 2–6 November 2020, di Hotel New Rahmat Kota Gorontalo.

Pelatihan yang dihadiri oleh lima belas orang tenaga pelaksana gizi dan bidan ini bertujuan agar peserta dapat melakukan praktik pemberian Air Susu Ibu (ASI), pemberian makanan ibu hamil, ibu menyusui, pemberian makanan pendamping ASI, pemantauan pertumbuhan, menjelaskan gizi dan kesehatan ibu, serta konseling PMBA dengan baik.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk, dan KB, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Rosina Kiu menjelaskan, pemberian makan yang baik sejak lahir hingga usia dua tahun merupakan salah satu upaya mendasar untuk menjamin pencapaian kualitas tumbuh kembang sekaligus memenuhi hak anak.

“Menurut World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF), lebih dari 50 persen kematian anak balita terkait dengan praktik pemberian makan yang kurang tepat pada bayi dan anak,” ungkap Rosina.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat, Pengendalian Penduduk, KB dan Gizi, Syafiin S. Napu menekankan bahwa kegiatan yang dilakukan untuk mengintervensi anak dalam seribu hari pertama kehidupannya adalah dengan pelatihan konseling PMBA bagi petugas kesehatan, sebagai promotor kesehatan kepada masyarakat.

“Ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan alat bantu mendukung ibu, ayah, dan pengasuh dalam meningkatkan praktik pemberian makan kepada bayi dan anak serta ibu hamil secara optimal, yang difokuskan pada pemantauan pertumbuhan, pemberian makanan pendamping ASI, pemberian makan pada ibu, bayi, dan anak berbasis masyarakat,” tutup Syafiin.

Memang, perkembangan masalah gizi di Indonesia saat ini semakin kompleks. Selain masih menghadapi masalah kekurangan gizi, kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus ditangani dengan serius.

Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan masih tingginya prevalensi kekurangan gizi pada balita di Indonesia (BB/U), sebanyak 30,8 persen balita mengalami stunting (PB/U atauTB/U), dan 10,2 persen balita dalam kondisi kurus (BB/PB atau BB/TB). (adv/rls)

 

Sumber: Dinkes.gorontaloprov.go.id

Ikuti Kami

Ikuti perkembangan informasi disekitar anda melalui media sosial kami. Ubah hidupmu dengan membaca berita 60dtk.com

Related Articles