Me’eraji: Tradisi Religius Gorontalo yang Mulai Tidak Diminati

60DTK – Gorontalo: Me’eraji atau yang lebih dikenal oleh orang Gorontalo pada umumnya adalah Isra Mi’raj, sebuah perjalanan panjang Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang ditempuh hanya dalam satu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan menuju Sidratal Muntaha/langit ketujuh menggunakan buraq.

Me’eraji sendiri merupakan tradisi keagamaan yang dilaksanakan di Gorontalo, tradisi tersebut sebagai bentuk kesyukuran yang dilaksanakan oleh orang Gorontalo untuk mengingat peristiwa terjadinya Isra Mi’raj tersebut.

Pada pelaksaan Me’eraji tiba, Me’eraji dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama, Me’eraji dilaksanakan secara Nasional, Nasional di sini diartikan oleh beberapa imam/pembaca Me’eraji dilaksanakan secara berpidato. Dan Kedua, dilaksanakan secara tradisional, yakni dilaksanakan dengan tata upacara adat.

Pelaksanaan Me’eraji biasanya dilaksanakan tepat pada 27 Rajab dan akan berakhir pada 15 Saban, jenjang pelaksanaannya pun bertahap. Me’eraji akan diawali di masjid dan setelah pelaksanaan di Masjid selesai, baru setelah itu pelaksanaan Me’eraji di rumah-rumah bisa dilangsungkan juga.

Marten Taha selaku Walikota Gorontalo atau Pembesar Negeri, saat menyampaikan sambutannya pada proses pelaksanaan Me’eraji dilaksanakan di Masjid Agung Baiturahim Gorontalo, Selasa (2/4/2019). Foto: Istimewa.

Proses pelaksanaan Me’eraji sangat unik, uniknya adalah dilaksanakan dengan secara adat istiadat, berbeda dengan proses memperingati Isra Mi’raj di daerah lain.

“Kalau di daerah lain Isra Mi’raj diperingati dengan biasa saja, diskusi dan kemudian dzikir. Di Bandung kalau seingat saya, Isra Mi’raj disebut dengan ‘Wawacan Nabi Mi’raj Muhamad’, kalau di Gorontalo dikenal dengan Me’eraji atau ‘Me’eraji li Nabi Muhammadi’,” terang Karmin Baruadi Guru Besar sekaligus akademisi Universitas Negeri Gorontalo dan penulis buku Me’eraji.

Dilain sisi, Karmin pun menjelaskan bahwa Me’eraji ini prosesnya dilaksanakan secara adat istiadat. Karena menurutnya, semua tradisi yang ada di Gorontalo dan yang dipengaruhi oleh islam akan dibalut secara adat istiadat.

Hal yang senada pun diungkapkan oleh Yamin Husain, ketua Dewan Adat desa Kramat, kecamatan Tapa, Kab. Bonebol. Desa Kramat merupakan desa Adat pertama di Gorontalo yang diresmikan pada tahun 2015 kemarin.

“Karena pada dasarnya daerah Gorontalo memiliki banyak tradisi religius, dan karena falsafah yang melekat pada orang Gorontalo ‘adat bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah/qur’an’ menjadikan setiap tradisi tersebut dilaksanakan secara adat istiadat,” jelas Yamin Husain saat diwawancarai.

Pelaksanaan Me’eraji secara adat istiadat pun, juga digambarkan pada bukunya Karmin Baruadi tentang Me’eraji. Dalam bukunya tersebut Karmin menggambarkan bagaimana posisi dan tempat duduk para Khalifah (Pembesar Negeri, Seperti: Bupati, Walikota, atau Gubernur), Wali-wali mowali (Pejabat Teras), Kadli (Pemimpin Adat), Para Imam, Tokoh Masyarakat/Instansi/Jawatan, Salada’a (Pegawai Syara’), Hatibi (Para Khatib), Apitalau ( Pemimpin Keamanan Adat), Baate (Pemangku Adat), Kimalaha (Kepala Desa), Sikili (Sekretaris Desa), Para Istri, Masyarakat, Mayulu (Petugas Keamanan Adat), (Baruadi, 2013: 38).

Skema tempat duduk Adat pada saat proses pelaksanaan Me’eraji dilaksanakan dengan tata upacara adat. Sumber Skema dari bukunya Karmin Baruadi tentang Me’eraji, Hlm 38, dan di desain kembali oleh Sila/60dtk.com

Proses upacara adat dalam Me’eraji pun, hanya dilaksanakan di masjid, tidak dilaksanakan pada pelaksanaan Me’eraji di rumah-rumah. Itu yang membedakannya.

Me’eraji Tak Diminati

Menurut Karmin, orang Gorontalo dulu sering pergi ke Masjid atau ke rumah-rumah tetangga untuk mendengarkan Me’eraji. Karena pada waktu itu hanya Me’eraji satu-satunya media hiburan bagi orang Gorontalo.

“Dulu itu orang Gorontalo paling suka kalo (kalau) ada Me’eraji. Mereka bergerombol mendekati tempat-tempat Me’eraji dilangsungkan”.

Hal yang sama pula diungkapkan oleh Abdulah Djamal dan Rikson Muhamad, yang menghabiskan masa muda mereka untuk menjadi seorang pembaca Naskah Me’eraji atau ‘Me’eraji li Nabi Muhammadi’.

Menurut Rikson ada perbedaan yang secara mutlak terlihat untuk pelaksanaan Me’eraji saat ini. Orang-orang tidak lagi mau mengikuti proses Me’eraji sampai dengan selesai.

“Sangat disayangkan, banyak masyarakat yang mulai tidak tertarik lagi dengan Me’eraji ini. Padahal ini tradisi yang secara tahun ke tahun dilaksanakan, dan banyak sekali informasi yang perlu diketahui dalam pelaksanaan Me’eraji tersebut,” ungkap Rikson yang sedang membacakan beberapa kalimat dalam naskah Me’eraji yang ia punya.

Kerisauan akan kehadiran pendengar atau masyarakat Gorontalo dalam proses Me’eraji pun, turut dirasakan oleh Abdullah Djamal. Pengalamannya dari umur 20 tahun melakukan Me’eraji hingga saat ini  punya pandangan yang sama juga tentang keterlibatan masyarakat atau generasi muda dalam proses pelaksanaan Me’eraji.

“Dalam proses Me’eraji itu memang harus ada pendengar, kalau hanya pembaca saja, nilai-nilai dalam Me’eraji tersebut berkurang,” jelasnya.

Ia pun menambahkan keterlibatan pendengar merupakan hal yang seharusnya dalam Me’eraji, karena pada saat itulah nilai-nilai dalam Me’eraji tersampaikan dengan baik.

“orang-orang sekarang hanya mengikuti proses pada awalnya saja, yaitu doa. Setelah itu pergi meninggalkan ketika naskah Me’eraji mulai dibacakan”.

Kekhawatiran dan kerisauan Rikson dan Abdullah siapa penerusnya selanjutnya agar Me’eraji tetap terlaksana juga dirasakan oleh Budayawan Gorontalo Alim Niode.

Alim Niode menuturkan generasi mudalah yang paling penting saat ini, karena pada merekalah kebudayaan itu akan terus dilanjutkan.

“Saya menilai, tradisi semacam ini jika tidak ada yang melanjutkan lagi terlalu sayang. Saya juga terus memperhatikan generasi muda hanya sibuk dengan dunianya sendiri”.

Menurut Alim Niode, saat ia kecil dulu, untuk pertama kali mengikuti proses Me’eraji tersebut banyak masyarakat yang mengikuti prosesnya sampai selesai. Jika diibaratkan dengan kondisi saat ini, Me’eraji persis semacam konser, ramai, banyak dipenuhi warga yang ingin mendengarkannya.

“terlalu sayang jika tidak ada estafet selanjutnya. Dalam bahasa tutur, ‘kita mati di dalam hidup’, untuk hal dalam kebudayaan. Kita bisa membayangkan bagaimana sebuah tatanan kehidupan masyarakat tanpa sebuah kebudayaan,” Jelas Alim Niode budayawan Gorontalo itu.

Ia pun mencurigai banyak kalangan terutama generasi muda, tidak menyukai kebudayaan seperti ini. Karena mereka tidak tertarik dan mengerti tentang kebudyaan seperti ini. Sehingga kita harus punya konsep baru tentang Me’eraji, serta bagaimana konsep yang baru ini dibuat dan bisa terterima pada semua kalangan terutama pada kalangan remaja. Dan konsep tersebut tidak mengurangi makna ataupun substansi ritual yang ada dalam Me’eraji dan terhadap apa yang disampaikan berupa pesan ataupun nilai dalam Me’eraji tersebut.

Penulis : Zulkifli M.

Editor : Zulkifli M.

QR Code

Comments are closed.