Review Terkini Perekonomian Gorontalo Oleh BAPPEDA Provinsi

60dtk – Gorontalo : Review Terkini Perekonomian Gorontalo oleh Badan Perencanaan, Penelitian dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Gorontalo yang di selenggarakan di Aula Kantor BAPPEDA pada Selasa (25/9/2018).

Kepala Litbang Muh Arief Azis membuka acara yang juga di hadiri oleh sejumlah praktisi ekonomi yang berkompoten di bidangnya. Di antaranya Deputi Kepala BI Perwakilan Gorontalo Gunawan Prabowo serta Pakar Ekonomi Universitas Hasanuddin Dr. Agussalim.

Arief Azis mengatakan bahwa “kegiatan ini sengaja digelar untuk memberikan gambaran kepada stakeholder tentang kondisi terkini ekonomi daerah dan juga untuk memberikan gambaran kebijakan apa yang dapat dijalankan oleh pemerintah daerah,” kata Arief Azis

Dalam 5 tahun terakhir, Gorontalo selalu masuk 5 besar provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional dan pada dua tahun terakhir ini pertumbuhan ekonomi Gorontalo menunjukan tren positif.

Disisi lain, Deputi Kepala BI Perwakilan Gorontalo Gunawan Prabowo menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Gorontalo tahun 2018 diprediksi berada di angka 6,9% hingga 7,3%. Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, ekspor dan investasi.

Konsumsi rumah tangga terutama didorong oleh meningkatnya pendapatan masyarakat, seiring peningkatan kinerja pertanian dan upaya pemerintah, untuk meningkatkan produksi dan ekspor komoditas pertanian berupa jagung pipilan.

“Perbaikan kinerja sektor konstruksi didorong oleh, rencana proyek multiyear berupa pembangunan infrakstruktur Bendungan di Bone Hulu, yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional bersama dengan program Revitalisasi Danau Limboto tahun kemarin sampai dengan hari ini,” jelas Gunawan

Selain itu, Dr. Agussalim pakar Ekonomi memaparkan bahwa cara untuk mengakselerasi ekonomi Gorontalo yakni dengan menumbuhkan industri pengolahan di daerah. Industri ini diperlukan karena dapat memberikan nilai tambah atas komoditas yang dihasilkan oleh petani.

“Industri pengolahan pertanian juga memiliki multiplier effect yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Selain itu, industri pengolahan juga mampu menyerap tenaga kerja yang relative lebih terdidik,” papar Dr. Agussalim Pakar Ekonomi UNHAS.

Hal ini dilanjutkan oleh Dosen Universitas Hasanuddin yang juga memberikan analisisnya, terkait anomali yang terjadi ketika pertumbuhan ekonomi cenderung menguat pada 2017. Tetapi, tingkat Pengangguran Terbuka meningkat. Di jelaskan hal ini mengindikasikan bahwa tingkat produktivitas tenaga kerja Gorontalo masih rendah, pasar kerja cenderung menyerap tenaga kerja yang tidak terdidik.

“Yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah adalah menjaga pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan serta mendorong ekspor dan pengembangan industri pengolahan,” lanjutnya.

Agussalim berharap agar serapan anggaran pemerintah melalui dana APBN dan APBD, harus maksimal setiap tahun, sebab ekonomi Gorontalo masih sangat tergantung anggaran tersebut. Penggunaan APBD juga harus dipastikan penggunaannya, untuk hal-hal yang berguna dan tepat sasaran untuk menekan angka kemiskinan. (rls/MP).