TPA Talumelito Diperkirakan Hanya Mampu Bertahan 2 Tahun Lagi

60DTK, Gorontalo – Baru masuk tiga tahun setengah, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Talumelito, Kabupaten Gorontalo, sudah hampir penuh. Pasalnya, kapasitas sampah yang dibuang ke tempat tersebut setiap harinya bisa mencapai 100 ton.

Hal ini diketahui saat Panitia Khusus (Pansus) DPRD Provinsi Gorontalo untuk Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) gubernur tahun anggaran 2019, melakukan pemantauan di TPA tersebut, Selasa (5/05/2020).

Baca juga: Tampung 30 Ribu Ton Tiap Tahun, TPA Talumelito Nyaris Penuh

Ketua Pansus LKPJ Gubernur Gorontalo 2019, Thomas Mopili, saat diwawancarai usai melakukan pemantauan di TPA Talumelito, Kabupaten Gorontalo, Selasa (5/05/2020). (Foto – Hendra 60dtk)

Usai melakukan pemantauan, Ketua Pansus LKPJ, Thomas Mopili mengungkapkan, pihaknya berkesimpulan bahwa TPA ini rupanya hanya akan bisa bertahan selama satu sampai dua tahun ke depan, untuk menampung sampah.

“100 ton setiap hari. Bayangkan 100 ton untuk Kabupaten Gorontalo saja. Bagaimana untuk Kota Gorontalo? Bagaimana dengan Gorut kalau dikirim ke sini? Pasti setahun dua tahun sudah tidak memungkinkan di sini. Kita perlu siapkan TPA lain lagi,” ujar Thomas.

Baca juga: Gubernur Gorontalo Perjuangkan Pengembangan TPA Talumelito Ke Menteri PPN/Bappenas

Senada dengan hal ini, Kepala TPA Talumelito, Agus Dama menjelaskan, keadaan TPA Talumelito saat ini memang sudah bisa dikategorikan genting, karena setiap hari harus menampung sampah 100 ton. Akhirnya, TPA yang diperkirakan bisa bertahan selama tujuh tahun ini, di tahun ke empat sudah hampir penuh.

Shelter 4 ini, luas permukaannya 2,1 hektare dengan kedalaman 9 meter, dan itu diperkirakan bisa dipakai selama 7 tahun. Tapi ini baru tiga tahun setengah, sudah penuh,” ungkap Agus.

Baca juga: TPA Talumelito Sumbang PAD Rp. 1,8 Miliar

Kepala TPA Talumelito, Kabupaten Gorontalo, Agus Dama, saat diwawancarai awak media usai melakukan pemantauan di TPA Talumelito bersama Pansus LKPJ Gubernur Gorontalo, Selasa (5/05/2020). (Foto – Hendra 60dtk)

Menurut Agus, hal ini disebabkan oleh sistem pengelolaan sampah di kalangan masyarakat yang masih belum teratata dengan baik, seperti pemilahan sampah organik dan sampah non-organik.

“Belum ada pemilahan secara baik dan benar dari sumbernya, dari tingkat rumah tangga, toko – toko, dari pasar, dari segala macam yang menghasilkan sampah itu belum dipilah sesungguhnya dengan baik dan benar,” tutupnya. (adv)

 

Pewarta: Hendra Setiawan