Uji Spesimen Covid-19 BPOM Gorontalo Dapat Pengakuan Balitbangkes Kemenkes RI

60DTK, Gorontalo – Uji Spesimen Covid-19 yang dilaksanakan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Gorontalo, mendapatkan pengakuan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Kepala BPOM Gorontalo, Yudi Noviandi mengungkapkan pengakuan ini disampaikan atas uji konfirmasi di laboratorium Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar kesehatan, Balitbangkes Kemenkes RI. Hasilnya mununjukan bahwa metode Real Time RT-PCR 100 % susuai.

“Alhamdulillah BPOM Gorontalo sudah mendapat pengakuan dari Balitbangkes untuk uji spesimen covid-19. Itu artinya, uji swab yang kita lakukan sejak 24 April sudah sesuai standar dan prosedur yang ada,” ungkap Yudi, Selasa (09/06/2020).

Baca Juga: Wagub Gorontalo Ikut Rapat Koordinasi Gugus Tugas Reformasi Agraria

Yudi menjelaskan Laboratorium BPOM Gorontalo tentu saja dalam hal uji Spesimen Covid-19 sudah dilengkapi dengan fasilitas yang terbilang canggih. Ia mengungkapkan fasilitas yang canggih dimaksud ini adalah ruang bio sefety cabinet sebagai tempat kerja untuk melindungi penguji dari risiko kontaminasi. Ada juga Automatic Extraction Robotic untuk mengambil RNA atau asam Ribonukleat.

“RNA yang sudah di master mix dimasukkan ke alat PCR untuk mendeteksi spesimen tersebut positif atau negatif. Alat ini bisa melakukan uji 500 spesimen per hari. Hingga 9 Juni 2020 kita sudah melakukan uji kepada 3355 spesimen,” jelasnya.

Baca Juga: Rusli Habibie Serahkan Tiga Jenis Bantuan Di Kabupaten Boalemo

Sementara itu, Juru Bicara Penanganan Covid-19 Provinsi Gorontalo, Triyanto Bialangi sampaikan rasa syukurnya atas pengakuan dari Balitbangkes Kemenkes RI. Menurutnya ini semua tidak lepas dari usaha kerja keras dari bapak Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie.

“Alhamdulillah ini perlu kita syukuri. Upaya bapak Gubernur Rusli Habibie dan semua pihak agar Gorontalo bisa melakukan uji swab PCR mandiri sampai saat ini bisa terlaksana. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana sulit dan lamanya proses uji sampel jika harus dikirim terus ke Manado, Makassar atau bahkan Jakarta,” jelas Triyanto.

 

Pewarta: Hendra Setiawan