Aksi Refleksi GESTAPU, Dan Kisah – Kisah Di Baliknya

60DTK-GORONTALO: Aksi Refleksi Gerakan September 30 (GESTAPU) yang digalangkan oleh Komunitas Literasi Sampul Belakang, bekerja sama dengan Komunitas Potret Tokoh (POTOH), Gorontalo Good Sunday, dan Mejoes Coffee di depan Gerbang Kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG), mengundang banyak peminat, Senin (30/09).

Pasalnya, usai aksi yang digaungkan melalui puisi, monolog, dan lagu – lagu sendu, para penggerak komunitas ini membuka sesi diskusi dengan tema yang sama, “Napas Terakhir Perang Ideologi” yang membahas GESTAPU dari berbagai perspektif berbeda, dari tiga orang narasumber.

Narasumber pertama, seorang Ketua Formatur DKB Eksekutif Nasional LMND DN, Abdul Rahman Halid membahas GESTAPU begitu runut sejak awal seorang Sneevliet masuk ke Indonesia, hingga bagaimana pecahnya peristiwa GESTAPU yang kerap dikait – kaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1965 silam.

Baca : Monolog, Puisi, Dan Lagu Sendu Dalam Refleksi GESTAPU Di Akhir September

Salah satu deklamator puisi, Ifa Aulia Magfirah bersama Shandi Igirisa dalam Aksi Refleksi GESTAPU yang diselenggarakan oleh Sampul Belakang, POTOH, Gorontalo Good Sunday, dan Mejoes Coffee di depan kampus UNG, Senin (30/09). (Foto – Eko Suleman)

Narasumber kedua, Kabid P.A HMI Cabang Gorontalo, Aris Setiawan mengambil jalan lain. Dalam penuturannya Ia berusaha mengungkap hal – hal yang selama ini sangat jarang diungkap.

Sementara narasumber ketiga, seorang Alumni LIGHTS LBHM 2019, Zulkifli Mangkau cukup berbeda. Tidak membahas sejarah secara utuh, namun dia mengambil perspektif Hak Asasi Manusia (HAM), dan mengangkat sisi – sisi kemanusiaan dalam sejarah kelam itu.

“Kami memang sengaja menghadirkan tiga orang narasumber yang berpotensi memiliki perspektif berbeda tentang sejarah ini agar tidak terkesan condong pada satu perspektif saja, atau membela satu sisi saja. Juga agar teman – teman yang menyaksikan memiliki alternatif informasi untuk melakukan perbandingan,” ungkap salah satu founder Sampul Belakang, Nikhen Mokoginta.

Baca : Cerita Dari Sampul Belakang & POTOH, Napas Terakhir Perang Ideologi

Salah satu deklamator monolog, Nikhen Mokoginta dalam Aksi Refleksi GESTAPU yang diselenggarakan oleh Sampul Belakang, POTOH, Gorontalo Good Sunday, dan Mejoes Coffee di depan kampus UNG, Senin (30/09). (Foto – Eko Suleman)

Selain itu, Ia menegaskan, kegiatan yang Ia galangkan bersama komunitas lainnya ini sebenarnya bertujuan untuk memberikan pencerahan dan cara pandang baru terkait sejarah merah ini, agar tidak ada lagi yang saling menyalahkan.

“Kegiatan ini kami galang untuk memberikan perspektif baru terkait GESTAPU yang sejauh ini selalu dikaitkan dengan PKI, padahal ada banyak biang keladinya. Kami ingin, melalui kegiatan ini cara pandang kita bisa lebih terbuka agar tidak lagi saling mencari – cari kesalahan, mencoba menyalahkan pihak ini dan itu, tapi lebih bisa terbuka, menerima, dan melupakan saja. Biarkan ini hanya sekadar jadi pelajaran untuk kita agar tidak mengulanginya di masa kini,” tegas perempuan yang sebelumnya menjadi deklamator monolog itu.

Ketika ditanyakan terkait rancangan kegiatan serta naskah monolog yang sebelumnya cukup menggemparkan aksi refleksi yang digalang, perempuan itu tersenyum dan menjawab bahwa semua itu dirancang olehnya dan kawannya, Faisal Saidi.

Baca : Memperingati G30S/PKI, Mahasiswa Sejarah UNG Gelar Aksi Refleksi

Salah satu deklamator puisi, Faisal Saidi bersama Shandi Igirisa dalam Aksi Refleksi GESTAPU yang diselenggarakan oleh Sampul Belakang, POTOH, Gorontalo Good Sunday, dan Mejoes Coffee di depan kampus UNG, Senin (30/09). (Foto – Adhywinata Solihin)

“Ini sebenarnya rencana masing – masing komunitas, tapi yang diberikan amanah untuk bergelut dan merangkum kisah – kisah tentang GESTAPU dan meramunya jadi satu naskah monolog itu saya dan Faisal. Kami juga yang berinisiatif memutar lagu Genjer – Genjer di awal aksi, hehe,” ungkapnya dengan tawa di akhir kalimat.

Ia pun berharap tidak ada perasaan – perasaan aneh usai kegiatan yang mereka selenggarakan itu, dan semua yang hadir bisa menerima dengan baik, dan tidak berpikir mereka berusaha menggaungkan lagi PKI di Indonesia.

“Sebenarnya ada beberapa kawan yang sempat menegur saya. Katanya saya terlalu berani mengangkat kisah ini, apalagi memutar Genjer – Genjer. Saya dan Faisal sempat dicurigai sebagai antek PKI, tapi kami menolak tegas itu. Ini hanya bagian gerakan kami untuk mengenang sejarah dengan damai untuk dijadikan pembelajaran di masa kami kini. Tidak ada maksud lebih dari itu,” tukasnya mantap. (rds/60dtk)

 

 

 

.

Comments are closed.