Aktivitas Malam Dibatasi, Pedagang di Pakaya Tower Sesalkan Kurangnya Sosialisasi PPKM

60DTK, Kabupaten Gorontalo – Pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di kawasan Pakaya Tower Limboto mengaku kaget saat didatangi dan diminta oleh tim gabungan untuk hanya berjualan sampai pukul 21.00 WITA karena adanya penerapan PPKM mikro.

Beberapa dari pedagang mengaku sama sekali tidak mengetahui kapan PPKM mikro dengan segala aturan yang ada di dalamnya itu diberlakukan dan dikontrol oleh aparat TNI, Polri, Dinas Perhubungan, sampai Satpol PP.

Salah satu pedagang kaki lima di Kawasan Pakaya Tower Limboto saat sedang mengatur barang-barangnya, setelah diminta petugas gabungan agar hanya berjualan sampai pukul 21.00 WITA, Sabtu (10/07/2021). (Foto: Andi 60dtk)

“Biasa kalau ada kegiatan seperti ini, contoh PSBB, ada pemberitahuan ada sosialisasi kalau tidak salah tiga hari sebelumnya. Tapi ini tidak ada, jadi itu yang kita sesalkan. Kita kaget, karena tidak ada persiapan,” aku Wawan (41), pedagang tas dan aksesoris yang ditemui awak media, Sabtu (10/07/2021).

expo

Wawan mengakui bahwa kebijakan pembatasan aktivitas ini berpengaruh besar untuk pendapatannya secara pribadi. Padahal, dirinya hanya berjualan menjelang sore sampai malam hari, itu pun hanya pada hari-hari tertentu saja dirinya bisa mendapatkan pemasukan cukup banyak.

“Selama pandemi ini pendapatan hanya sedikit, karena masyarakat pada susah. Pendapatan sudah sedikit, ini dibatasi lagi. Tapi yang paling disesali itu tidak ada pemberitahuan sebelumnya,” ujarnya lagi.

Senada dengan Wawan, Sri Widyaningsi (23) juga merasa kaget bahkan kecewa dengan adanya pembatasan aktivitas malam tersebut. Sebab, Ia bersama suami tidak memiliki pekerjaan sampingan untuk menghasilkan uang, kecuali berjualan makanan di bawah kaki Menara Keagungan Limboto.

“Apalagi penerapan ini sampai tanggal 20 Juli. Mau makan apa kita kalau untuk dapat uang begini saja sudah ada batasan. Ini saja sebelum ada pembatasan, malam minggu hanya bisa dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu untuk dibawa pulang. Mau pindah tempat, semuanya dibuat begini (dibatasi),” keluhnya.

Karena pembatasan sudah menjadi aturan dan seluruh kalangan wajib mematuhi, Ia hanya berharap ada bantuan dari pemerintah yang diberikan kepada pedagang, khususnya mereka yang setiap hari berjualan di Pakaya Tower Limboto.

“Kalau pemerintah bisa kasih, saya akan sangat bersyukur kalau ada bantuan yang saya terima,” tandasnya.

 

Pewarta: Andrianto S. Sanga

Ikuti Kami

Ikuti perkembangan informasi disekitar anda melalui media sosial kami. Ubah hidupmu dengan membaca berita 60dtk.com

Related Articles