Hingga September 2019: Produksi Cabai Rawit di Kota Gorontalo Capai 53.1 Ton

60DTK – Gorontalo:  Kota Gorontalo secara geografis tidak memiliki luasan lahan yang mampu menampung tanaman pertanian seperti jagung, padi, dan cabai rawit dalam skala besar, berbeda dengan daerah-daerah kabupaten lainnya yang ada di Gorontalo.

Sekretaris Dinas Pertanian Kota Gorontalo, Anas S. Badjeber, mengatakan bahwa kebutuhan Kota tidak  bisa disamakan dengan kebutuhan produksi pertanian di Kabupaten. Karena kota tidak memiliki lahan pertanian untuk mencukupi  kebutuhan pangan masyarakat kota sendiri.

Namun, meskipun kekurangan lahan garapan untuk pertanian, kebutuhan masyarakat terutama pada cabai rawit masih sangat tinggi. Menurut Anas, kurang lebih 10 hektare lahan yang ada di Kota Gorontalo dimanfaatkan untuk bercocok tanam terutama pemanfaatan pekarangan rumah warga.

“Karena kebutuhan cabai rawit terlalu tinggi di Gorontalo, maka dari itu pihak kami mengadakan program pemanfaatan lahan pekarangan untuk ditanami cabai rawit salah satunya. Agar ketika panen nanti masyarakat tak perlu lagi membeli di pasar, sudah tersedia di pekarangannya,” ujar Anas saat memberikan keterangan kepada wartawan, Kamis (24/10/2019).

Gerakan memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami, juga untuk menekan sikap konsumtif warga membeli cabai rawit di pasaran. Anas sendiri mengakui, sikap konsumtif itu sangat tinggi. “Solusinya menanam di pekarangan rumah agar warga tak perlu lagi ke pasar melainkan memanen hasilnya di depan rumahnya.”

Data produksi cabai rawit yang dibeberkan oleh Dinas Pertanian Kota Gorontalo sendiri, dari bulan Januari – September 2019 menunjukan produksi cabai rawit hingga 53.1 ton. Produksi cabai rawit di Kota Gorontalo masih sangat rendah dibandingkan dengan produksi padi; 11.859,98 ton dan produksi jagung 104,53 ton sesuai data dari Dinas Pertanian Kota Gorontalo.

Dengan data tersebut menunjukan kebutuhan cabai rawit di Kota Gorontalo memang belum terpenuhi, meskipun capaian produksi hingga 53.1 ton. Butuh suplai cabai dari luar daerah Gorontalo untuk menutupi kekurangan kebutuhan cabai rawit di Kota Gorontalo.

“Konsumsi cabai rawit dalam kota sangat banyak, maka dari itu perlu suplai dari luar daerah. Seperti  yang saya bilang tadi, sikap konsumtif masyarakat terhadap cabai di Kota Gorontalo sangat tinggi,” katanya saat ditemui di kantor Dinas Perikanan Kelautan dan Pertanian, Kota Gorontalo.

Ia juga menambahkan, upaya untuk menangani kebutuhan cabai di Kota Gorontalo terus di genjot oleh Dinas Pertanian Kota Gorontalo, langkah lainnya adalah memanfaatkan lahan tidur dan memberikan sosialisasi serta penyuluhan pertanian kepada warga.

“Lokasi  penanaman cabai di Kota Gorontalo tidak banyak, hanya ada beberapa saja. di Dembe itu sekitar 2 hektare dan sisanya di Botu juga ada, pokoknya tidak sampai 10 ha. Untuk penggunaan lahan tidur itu kendalanya kepada pemiliknya. Masalahnya, si pemilik lahan itu mau tidak tanahnya di tanami seperti tanaman cabai tadi,” tambah Anas.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.