Kegigihan Nari Agus Membiayai Keluarga dari Sulaman Karawo

60DTK – Gorontalo: Sudah 11 tahun lamanya Nari Agus menjadi pengrajin karawo di Gorontalo. ia mulai menggeluti sulam-menyulam ini sejak duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Pekerjaan ini kemudian ia tekuni hingga sekarang ini. Meskipun sudah berumur 56 tahun, Nari Agus tetap setia menerima pesanan yang selalu saja masuk setiap hari.

Berkat ketekunan dan keuletan Nari Agus serta beberapa ibu rumah tangga di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, menjadikan daerah mereka pada tahun 2006 ditetapkan sebagai daerah pusat kerajinan karawo di Kabupaten Gorontalo.

“Ia pada tahun 2006 daerah ini ditetapkan oleh Ibu Hanna Hasanah sebagai daerah pusat kerajinan karawo dan meresmikan tempat kelompok kami berkegiatan untuk menyulam karawo,” ujar Nari Agus saat didatangi wartawan di rumahnya. Senin (7/10/2019).

Pekerjaan menyulam ini secara otodidak dilakukan oleh Nari Agus, ia bisa melakukan seperti ini karena sering melihat orang tuanya dulu saat menyulam karawo.

Karena kebiasaan waktu kecil melihat orang tua menyulam, juga seorang pengrajin karawo, Nari kemudian belajar secara sendiri dan mulai mempraktikkannya. Alhasil, Nari sudah bisa menyulam dan sejak kelas 4 SD itulah ia mulai gelut dalam penyulaman karawo ini.

“Saya bisa menyulam karena melihat orang tua, mereka dulu pengrajin seperti apa yang saya lakukan sekarang ini.”

Membiayai Keluarga dari Karawo

Setelah menyeriusi menjadi pengrajin, Nari kemudian mulai membantu perekonomian keluarganya. Terkhusus lagi ketika ia sudah menikah. Nari turut membantu menghidupi kebutuhan keluarga dari sulaman karawo yang dipesan oleh pelanggan.

“Maklum seluruh pengrajin di Bulota rata-rata perempuan dan mereka semua juga ibu rumah tangga. Jadi ibu-ibu ini juga membantu ekonomi keluarga  mereka, jika ekonomi keluarga dirasa kurang,” katanya.

Setiap harinya, kelompok Huyula yang terdiri dari beberapa orang yang juga diketuai oleh Nari Agus sering mendapat pesanan yang banyak. Apalagi pesanan dari butik.

“Pesanan banyak sekali setiap hari. Kalau dulu saya stok sulaman ke toko-toko, tapi sekarang sudah tidak lagi, karena mereka sudah punya pengrajin yang lain. Sekarang ini paling banyak saya dan kelompok kerjakan hanya pesanan dari sekolah dasar yang ada di Gorontalo dan beberapa pesanan butik,” jelas Nari Agus sambil menyulam beberapa motif karawo di rumahnya.

Kata Nari, pesanan yang paling banyak masuk selain butik dari daerah Tilamuta dan Marisa. Selain itu juga, beberapa butik harus disuplai terus oleh Nari untuk memasarkan hasil sulaman dari kelompoknya.

“Ada 6 butik yang harus saya tangani, dua di antaranya berada di Jakarta dan 4 sisanya berada di Limboto 2 Butik dan 2 Butik lagi di Telaga. Kalau Butik di Jakarta baru dimulai tahun 2018 kemarin, sedangkannya sisanya mulai tahun 2016.”

Namun, setiap penjualan yang dilakukan oleh butik tanpa sepengetahuan Nari. Menurutnya, ia hanya menerima pesanan motif karawo yang kemudian ia sulam, untuk masalah pemasaran itu sudah bagian dari tanggungjawab butik itu sendiri.

“Paling mahal itu harga yang saya pasang untuk semua pesanan adalah motif karawo di baju gamis seharga Rp 250.000, serta yang paling murah motif karawo di jilbab seharga Rp 40.000,” terangnya.

Meskipun ia tak tahu-menahu soal pasaran harga karawo yang dipasarkan oleh butik, yang memesan dari kelompoknya, Nari sudah merasa cukup dan bisa membiayai kebutuhan keluarga selama ini.

Apalagi insiden tahun 2009 yang menguras tenaga Nari, suaminya meninggal dunia. Nari harus menjadi ibu rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga untuk membiayai anak-anaknya sekolah dan biaya kebutuhan sehari-hari lainnya.

“Alhamdulillah, biaya dari karawo saya bisa menyekolahkan anak-anak saya sampai sarjana. Semuanya berkat dari ketekunan menjalani pekerjaan ini. Dan beberapa ibu rumah tangga lainnya, kebutuhan hidup kami dibantu dari sulaman karawo ini.”

Tak berhenti di situ, ada pekerjaan yang belum selesai dirasakan oleh Nari Agus, yakni, mencari generasi penerus mereka selanjutnya. Karena menurut dia, sudah saatnya orang-orang tua seperti mereka ini diganti dengan anak-anak muda; generasi baru. Namun, Nari sangat menyangkan sikap generasi muda yang ada di daerahnya sangat tidak tertarik sama sekali dengan karawo.

“Kami ngin membina anak-anak yang putus sekolah dan juga yang masih sekolah, tapi mereka tidak mau. Lebih asik dengan gawainya dibandingkan mau meneruskan aktivitas menyulam karawo ini.

Nari juga mengungkapkan, generasi muda tidak tertarik lagi. Kita harus memikirkan caranya dan pihak pemerintah juga, agar karawo terus dicintai dikalangan muda.

“Merek sudah terbuai dengan gawai, yang secara jelas menghabiskan duit saja. Mending meneruskan karawo ini, bisa menghasilkan duit bila tekun dan ulet nanti,” harap Nari Agus di akhir wawancara.

Penulis: Zulkifli M.

 

Comments are closed.