Kenaikan Harga Minyak Kelapa Pengaruhi Omset Pedagang di Shopping Limboto

  • Whatsapp
Tono (49), salah satu pedagang kaki lima (PKL) di Shopping Center Limboto saat melayani salah satu pembeli yang akan membeli minyak goreng, Jumat (19/11/2021). (Foto: Andi 60dtk)

60DTK, Kabupaten Gorontalo – Harga minyak goreng hampir di seluruh wilayah Indonesia rata-rata mengalami kenaikan.

Menurut keterangan Kementerian Perdagangan RI, kenaikan ini terjadi akibat harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) internasional yang mengalami kenaikan.

Bacaan Lainnya

Selain itu, kenaikan ini juga disebabkan produsen minyak goreng domestik (di Indonesia) belum sepenuhnya terintegrasi dengan produsen CPO.

Potret minyak goreng curah dan kemasan yang ada di lapak milik Tono (49), salah satu PKL di Shopping Center Limboto. (Foto: Andi 60dtk)

Menurut Katijo (69), salah satu pedagang kaki lima (PKL) di pasar harian Shopping Center Limboto, kenaikan harga minyak goreng sudah terjadi sekitar dari pertengahan tahun 2021.

“Minyak kelapa ini naik terus harganya. Pengambilan 1 galon ini harganya sudah Rp370.000. Ketika saya ecer, untuk satu botol aqua besar Rp28.000, dan yang kecil Rp13.000,” ujar Katijo, Jumat (19/11/2021).

Katijo mengakui, harga ecer tersebut sudah disesuaikan dengan harga pembelian. Sebab jika dijual dengan harga yang lebih murah, dirinya tidak akan mendapat keuntungan.

“Keluhan dari pembeli pasti ada. Mereka ada yang bilang terlalu mahal, saya jawab memang sudah begitu dari pusat,” tandasnya.

Tono (49), PKL lain yang berjualan di pasar tersebut mengatakan, kenaikan juga terjadi untuk minyak goreng kemasan. Contoh, minyak goreng kemasan merk bimoli ukuran 1 kg yang sebelumnya hanya seharga Rp16.000, saat ini sudah mencapai Rp20.000.

“Tapi minyak goreng kemasan ini jadi pelarian. Banyak pembeli yang lebih memilih minyak goreng kemasan daripada minyak goreng curah. Mungkin karena harga yang kemasan lebih mahal dari yang curah, apalagi minyak kampung,” ungkapnya.

Tono juga mengakui, kenaikan harga minyak goreng ini turut mempengaruhi penjualannya yang terus menurun dari hari ke hari. Dengan demikian, omsetnya juga ikut menurun.

“Omset juga pasti menurun. Sebelumnya, dalam sehari itu saya bisa jual sampai 3 galon per hari untuk minyak curah. Sekarang hanya 1 galon saja. Kebetulan saya juga sebagai penyalur ke beberapa pedagang di sini,” bebernya.

Kepada pemerintah, Ia berharap hal ini jadi perhatian. Menurutnya, minyak goreng sudah jadi salah satu kebutuhan pokok, karena hampir selalu digunakan saat memasak.

“Harapannya ini harga minyak bisa diturunkan, karena ini kebutuhan sehari-hari. Biasanya, kalau kebutuhan hari-hari naik, barang lain juga naik harganya,” tandasnya.

 

Pewarta: Andrianto Sanga

Pos terkait