Liputan Sidang Sengketa PSHT, Pewarta 60dtk.com Dikeroyok Massa

60DTK, Madiun – Penganiayaan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini, wartawan 60dtk.com Puguh Setiawan (28) menjadi korban penganiayaan di Desa Kaligunting, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur. Kamis, (18/06/2020).

Penganiayaan itu bermula, Puguh melakukan kerja jurnalistik peliputan sidang virtual sengketa dualisme Kepengurusan Yayasan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kota Madiun, yang dilaksanakan di 3 lokasi. Pertama di Pengadilan Negeri (PN) Kota Madiun, Kedua Polres Kota Madiun dan Ketiga Polres Kabupaten Madiun.

Pengeroyokan itu dilakukan oleh Orang Tidak Dikenal (OTK), namun diduga kuat pelaku pengeroyokan itu adalah masa dari perguruan PSHW, yang pada saat itu pihaknya perguruan PSHW mengamankan tugu lambang perguruanya.

Ceritanya, Pewarta 60dtk.com mendapat kabar jika di wilayah Kecamatan Saradan ada sebuah masa yang melakukan pengrusakan Lambang Tugu dari Perguruan PSHW dan rumah warga yang di duga di lakukan oleh oknum perguruan PSHT.

Pewarta 60dtk.com pun, bergegas akan mewawancarai Kapolres Kabupaten Madiun setelah dari Saradan, yang saat itu menuju Rumah Sakit Umum Caburan, Madiun. Namun, sementara dalam perjalanan, Ia melihat massa terkumpul yang saat itu ada di lokasi.

Kemudian Ia pun mengambil dokumentasi massa yang sementara berkumpul. Dalam proses pengambilan dokumentasi itu, ada salah seorang warga yang meneriakinya sebagai anggota PSHT.

“Saat mengambil dokumentasi, saya dikira bagian dari anggota PSHT  yang saat itu melakukan perusakan Tugu Lambang PSHW yang ada di Saradan itu. Kemudian saya dikerjar massa sampai di pemukiman warga, hingga akhirnya puluhan massa mengeroyok saya. Padahal saya sudah teriak kalau saya wartawan,” ujarnya.

Meskipun demikian, Ia tidak mempersoalkan pengeroyokan yang menimpanya. Menurutnya, hal itu sudah menjadi resiko ketika melakukan kerja jurnalistik di lapangan.

Akibat pengeroyokan itu, Puguh Setiawan mengalami luka lembam di bagian dada dan luka dibagian kaki akibat benturan batu yang dijatuhi massa.

“Saya tidak mempersoalkan masa yang mengeroyok. Sebab, saya juga memahami kondisi piskologi mereka yang saat itu masih kesal dengan adanya perusakan tugu lambang PSHW dan rumah Warga. Artinya, sudah menjadi resiko saya bekerja sebagai pewarta di lapangan,” ketusnya. (rds)