Marten: Kota Gorontalo Paling Menderita Akibat Luapan Air Danau Limboto

  • Whatsapp
Wali Kota Gorontalo, Marten Taha (jas hitam), saat mengikuti rapat koordinasi penyelamatan Danau Limboto, Rabu (5/10/2022). (Foto: Humas)

60DTK, Kota Gorontalo – Wali Kota Gorontalo, Marten Taha menyebut daerah Kota Gorontalo menjadi daerah yang paling menderita akibat luapan air Danau Limboto yang sampai hari ini belum kunjung tertangani dengan maksimal.

Marten mengatakan, secara geografis, Danau Limboto memang terletak di dua daerah, yakni Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Bahkan sekitar 80 sampai 85 persen luas wilayah danau itu berada di Kabupaten Gorontalo, sementara sisanya masuk di kawasan Kota Gorontalo.

Bacaan Lainnya

Akan tetapi, kata Marten, pintu pembuangan air danau ini hanya ada satu, yaitu sungai Topodu, dan itu ada di Kota Gorontalo. Padahal, volume air yang masuk ke Danau Limboto begitu banyak karena berasal dari puluhan anak sungai yang jumlahnya ada sekitar 23.

“Akibat (penanganan) Danau Limboto tersendat dan tak kunjung selesai, yang paling menderita itu sebenarnya Kota Gorontalo,” keluh Marten saat mengikuti rapat koordinasi penyelamatan Danau Limboto, Rabu (5/10/2022).

Marten menambahkan, akibat Sungai Topodu tidak mampu menampung volume air danau yang begitu banyak, khususnya saat musim penghujan, air tersebut akhirnya merembet ke pemukiman warga.

Para warga yang paling menderita akibat luapan air Danau Limboto ini berada di tiga kelurahan, yakni Dembe 1, Lekobalo, dan Pilolodaa. Selain luapan, mereka juga menghadapi masalah lain yang timbul seperti okupasi lahan serta penataan lahan.

“Yang lebih menderita sebenarnya Pilolodaa, kelurahan yang bertetangga dengan Desa Lauwonu, Kecamatan Tilango, karena itu jalur sungai Topodu,” ungkapnya.

Lebih jauh, Marten menuturkan bahwa Sungai Topodu sebenarnya sudah diupayakan untuk pembuatan pintu air. Tujuannya agar pembuangan air danau dapat berjalan baik mulai dari Sungai Topodu, masuk ke Sungai Bolango, mengalir ke daerah hilir, dan berakhir di Pelabuhan Gorontalo.

Sayangnya, rencana tersebut hingga kini belum juga terealisasi disebabkan beberapa kendala. Salah satu di antaranya adalah masalah ganti rugi lahan terhadap 10 orang warga setempat yang sudah menguasai tanah di sekitar Sungai Topodu.

“Nama-namanya ada di saya, tapi tujuh orang sudah melengkapi dokumen. Tinggal tiga orang yang sementara melengkapi dokumen keterangan waris. Mudah-mudahan ini segera selesai,” pungkasnya. (adv)

 

Pewarta: Andrianto Sanga

Pos terkait