Pengrajin Eceng Gondok Keluhkan Danau Limboto Mulai Mengering

60DTK – Gorontalo: Eceng gondok tumbuhan air dengan nama latin Eichhornia crassipes yang tumbuh di danau Limboto itu, kini mulai dimanfaatkan oleh para warga Desa Luwoo, Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis. Hampir setiap minggunya para pengrajin eceng gondok ini pergi ke danau mengambil eceng gondok untuk dijadikan anyaman dalam berbagai motif kerajinan, seperti dompet, tas, dan tempat buah dan berbagai macam motif lainnya.

“Semua bahan dasar dari tas, dompet, dan tempat buah dan beberapa kerajinan di sini berbahan dasar eceng gondok dari danau Limboto. Setiap minggunya kami pungut dari sana,” ujar Yeni Rorin Tulus (55) kepala kelompok usaha jaya pemanfaat eceng gondok Desa Luwoo, Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Kamis (31/10/2019).

Eceng gondok yang telah kering dan siap dianyam. Foto: Zulkifli M.

Meskipun rutin mengambil setiap minggunya, Yeni mengakui, beberapa bulan terakhir keberadaan eceng gondok yang sering mereka ambil dari danau Limboto tersebut mulai berkurang. Faktornya, ia menduga karena musim kering atau musim kemarau yang panjang sedang melanda Gorontalo, khususnya melanda danau Limboto.

“Eceng Gondok di danau sudah mulai sedikit, karena air di danau mulai kering. Kalau dulu Paling mentok kami ambil eceng gondok besar dan panjang, sekarang ini tinggal kecil, ukuran batangnya juga kecil. Beda dengan pengambilan kami sebelum danau kering seperti itu. Kini tinggal kerdil batang eceng gondok yang ada, yang selalu kami pakai dalam bahan dasar kerajinan di kelompok usaha kami,” ujarnya kepada wartawan.

Kesulitan mendapatkan eceng gondok dengan kualitas yang bagus, menurut Yeni, turut mempengaruhi proses anyaman saat ia dan anggota kelompok lainnya pada proses mulai menganyam.

“ Tumbuh eceng gondok tinggal pendek-pendek begini. Kami juga kesulitan untuk menganyam, karena ukurannya pendek. Yah, kami harus sambung terus kalau pada saat mau membuat motif,” kata Yeni sambil menunjukan beberapa eceng gondok yang sudah kering dan telah siap digunakan untuk dianyam.

Yeni juga menambahkan, jika kekeringan danau terus menerus seperti sekarang, bisa berimbas pada usaha kelompok yang telah ia bangun dari tahun 2017 tersebut. Harapan Yeni ke depan, eceng gondok yang selama ini menjadi bahan dasar pembuatan kerajinan mereka terus berlimpah.

“Kalau terus seperti ini, eceng gondok yang kami ambil dari danau juga akan berpengaruh pada anyaman kita. Apalagi mengejar pesanan yang cukup banyak dari galeri dan pelanggan. Semoga ke depan, tumbuh kembang eceng gondok akan membaik lagi,” imbuhnya dalam wawancara.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.