Perempuan di Titik Nol

  • Whatsapp

60DTK, Editorial – Dari balik sel penjara, Firdaus–yang divonis gantung karena telah membunuh seorang germo–mengisahkan lika-liku kehidupannya. Dari sejak masa kecilnya di desa, hingga Ia menjadi pelacur kelas atas di Kota Kairo. Ia menyambut gembira hukuman gantung itu. Bahkan dengan tegas, Ia menolak grasi kepada presiden yang diusulkan oleh dokter penjara. Menurut Firdaus, vonis itu justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebenaran sejati. Ironis.

Lewat pelacur ini, kita justru bisa menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum lelaki. Sebuah kritik sosial yang keras dan pedas! Novel ini didasarkan pada kisah nyata. Ditulis oleh Nawal El Saadawi, seorang penulis feminis dari Mesir dengan reputasi internasional.

Bacaan Lainnya

Mengerikan. Membaca buku ini, saya bagai diseret dalam kehidupan kelam milik Firdaus yang penuh tanda tanya. Tidak bisa tidak. Saya pikir, saya tidak bisa tidak membenci laki-laki usai lembar-lembar buku ini saya lahap. Tapi saya tahu saya tidak boleh begitu. Menggeneralisasi bahwa semua laki-laki sama bejatnya–seperti yang dilakukan Firdaus karena memang Ia rasakan sendiri dalam hidupnya–adalah hal curang.

Beruntung, di awal lembarnya saya dapat wejangan dulu dari Mochtar Lubis–tentang betapa harus cerita di buku ini dijadikan pelajaran dan bukan penyulut kebencian–yang kurang lebih mengambil andil paling besar dalam menetralisasi kebencian tadi.

Ia menuliskan: “Sebagai seorang lelaki saya menundukkan kepala saya menghadapi tuduhan dan kutukan yang begini dahsyat dari perempuan. Saya berharap agar lelaki Indonesia yang membaca novel ini mau membuka hati dan pikiran mereka untuk menerima serangan dahsyat dari Firdaus, tokoh sentral dalam ceritera ini, dan semoga mendorong kita untuk sungguh-sungguh memikirkan pula masalah dan kedudukan perempuan Indonesia di tanah air kita.”

Meski, sebelum kalimat ini Ia patrikan dalam lembar ke-xiv, Ia sempat mendedahkan segelintir kalimat dari Firdaus yang luar biasa menohok dan pedas bagi kaum laki-laki, umpamanya, kalimat-kalimat berikut:

”Saya dapat pula mengetahui, bahwa semua yang memerintah adalah laki-laki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpul duit, mendapatkan seks dan kekuasaan tanpa batas. Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi di bumi, yang merampas rakyat mereka, yang bermulut besar, berkesanggupan untuk membujuk, memilih kata-kata manis, dan menembakkan panah beracun.”

”Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan.”

”Lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang istri yang diperbudak oleh lelaki.”

Akhir-akhir ini, saya kerap mendengar term seperti, “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti.” Rupanya, ini pun terjadi pada seorang Firdaus.

Ia perempuan baik dan cerdas. Meski sejak kecil kerap marah dengan ayahnya yang tak tahu diuntung, Ia tidak pernah benar-benar menyimpan dendam. Namun, perih yang Ia rasakan dari pamannya, sekolahnya, hingga seseorang yang Ia sebut suami, membuat Ia kalut dan mulai menghardik kehidupan, khususnya laki-laki.

Meski begitu, dalam perjuangannya Ia tetap berusaha menerima hidup dengan terbuka. Bahkan, penerimaan tertingginya, Ia membiarkan dirinya jatuh cinta pada laki-laki. Ia berikan sepenuhnya kasih dan cintanya. Tapi sekali lagi, Ia jatuh, tersungkur sedalam-dalamnya, dan terendam dalam kubangan hitam perih dan sakit hati selama bertahun-tahun, yang membuat Ia kian menghardik laki-laki, hingga kaum ini menjelma jadi kaum yang paling Ia laknat, seumur hidup.

Saya mengakui, kisah milik Firdaus yang diabadikan dalam buku ini memang mengerikan, tapi juga begitu memikat dan mengagumkan. Kita akan temukan suatu kebutuhan untuk menantang dan melawan kekuatan-kekuatan tertentu yang telah merampas hak manusia untuk hidup, untuk bercinta, dan menikmati kebebasan yang nyata dalam buku ini.

Buku merah ini pantas dibaca oleh siapa pun, terutama para lelaki yang merasa dirinya bejat, dan para perempuan yang merasa kerap jadi korban kebejatan laki-laki.

Terlepas dari itu, seperti yang dituturkan Mochtar Lubis sebagai pengantar buku ini, membaca seri sastra dari negeri ini, maka kita akan mendapat pengalaman yang kaya sekali, pengalaman manusia yang hanya dapat kita timba dari sastra, dan yang tidak mungkin kita dapat dari buku-buku sejarah maupun penelitian masyarakat. Pengalaman itu dapat membawa kita pada pengertian yang lebih jelas dan jernih tentang apa yang terjadi dengan kita dalam masyarakat kita di Indonesia ini.

 

Judul: Perempuan di Titik Nol
Penulis: Nawal El Saadawi
Penerjemah: Amir Sutaarga
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit: 1989
Ketebalan: xxiv+176 hlm.
ISBN: 978-602-433-438-3

Pos terkait