Soal pembabatan lahan: Beda data PT.PG Gorontalo dan Pemilik Tanah

Akibat ketidaksamaan data yang di miliki oleh pihak perusahaan pabrik gula PT.PG Gorontalo dan warga pemilik lahan, kini pembatatan lahan tersebut menuai masalah baru.

60DTK РKABGOR: Terkait dengan aksi pembabatan lahan secara sepihak oleh  perusahaan pabrik gula, PT.PG Gorontalo pada Senin, 22 April 2019, jauh sebelumnya salah seorang pemilik lahan yakni Idris Sumaila, telah menerima surat pengosongan lahan dari pihak perusahaan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada 8 September 2014 silam, PT.PG Gorontalo telah melayangkan surat meminta agar lahan atau tanah yang selama ini digarap oleh Idris agar dikosongkan paling lambat 13 September 2014.

Hal ini diminta setelah sebelumnya pihak perusahaan melakukan pengukuran lahan milik PT.PG Gorontalo pada 30 Mei 2014. Berdasarkan pengukuran tersebut, pihak perusahaan mengklaim bahwa lahan yang dikelola oleh Idris adalah milik mereka dan sudah dibayar.

Diketahui, pada 5 Desember 1997, Idris pernah menjual tanahnya kepada perusahaan yang saat itu masih bernama PT. Rajawali Nusantara Indonesia.

Baca Juga : Protes, Masyarakat Makmur Abadi Tutup Jalan Masuk Ke Pabrik Gula

Namun, permintaan tersebut mendapat penolakan dari pihak yang bersangkutan. Saat ditemui pada Jum’at (10/5/2019) sore hari, penolakan itu didasari oleh beberapa alasan.

“Waktu itu saya datang, tapi saya menolak. Lahan saya berada di Desa Suka makmur Utara. Sementara di surat itu disebutkan di Desa Gandasari,” tegasnya.

Tidak hanya itu, alasan lainnya dari penolakan yang dilakukan adalah melihat data luas tanah miliknya yang dibeli oleh perusahaan berbeda dengan data miliknya.

“Disurat itu luas tanah saya 22.687 M. Padahal tanah saya itu hanya tujuh pantango atau sekitar 17.500 M,” jelas idris.

Lebih lanjut, Idris menjelaskan bahwa dari luas tanah miliknya tersebut, tidak seutuhnya dibeli oleh perusahaan.

“Hanya tanah yang rata itu dibayar. luasnya 1 hektar lebih. Sementara yang berbukit dan alur (jalan air) itu tidak dibayar,” ungkapnya.

Idris mengatakan, jumlah uang yang diterima dari penjualan tanahnya kurang lebih sebesar Rp. 3.070.000 sekian.

“Kalau semua dijual harganya Rp.3.500.000,” pungkasnya.

 

Reporter: Andi Sanga

Penulis: Andi Sanga

Editor: Zulkifli