Cita Rasa Ikan “Fufu” Milik Pak Raden

‘Murah-murah ikan fufu masih panas ini, enak mo makan dan dijamin rasanya,”

60DTK – Gorontalo: Awalnya berasal dari salah satu postingan warga portal Gorontalo yang membagikan link siarang langsung yang di dalamnya ada orang-orang yang sedang membeli dan menjajakan jualan ikan fufu miliknya.

“Murah-murah, harganya 5 ribu sampai 25 ribu. Yang area Kota Gorontalo bisa di delivery,” sahut penjual itu dengan nada semangat dalam siaran langsung di grup facebook milik warga Gorontalo; Portal Gorontalo.

Melihat postingan itu, ingin rasanya membeli ikan fufu (ikan asap) tersebut. Setiap kepulan asap yang membubung dan warna ikan yang mulai kecoklatan itu terus mengundang keinginan untuk mencicipinya. Sayang, semuanya hanya bisa saya rasakan dari layar handphone yang berukuran 5.0 inci saja, berharap bisa lebih dari sekadar memandang.

Tapi, keinginan itu tak berhenti di layar gawai saja. Seorang anggota grup bertanya melalui kolom komentar, “Di mana tempat pengasapannya ini pak,” tanya anggota grup Portal Gorontalo.

Dengan raut yang semakin sibuk, si penjual itu langsung menjawab dengan nada yang sedikit keras, “Di Desa Hulawa sini, satu arah dengan Pilohayanga. ‘Murah-murah ikan fufu masih panas ini, enak mo makan dan dijamin rasanya,” jawab si penjual dalam siaran langsung tersebut.

Setelah mendapatkan informasi tempat pengasapannya. Keesokan harinya saya berinisiatif mengunjungi tempat pengasapan itu, sekaligus ingin melihat proses pembuatan dari ikan fufu tersebut.

Ikan Fufu Pak Raden

Pukul 14.00 saya menuju tempat pengasapan ikan fufu ini dengan penuh keyakinan. Meskipun pada jam-jam seperti itu terik matahari di Gorontalo memang sangat panas, tapi niat itu tak saya urungkan melainkan terus menggebu-gebu.

Jarak tempuh ke tempat produksi ikan asap lumayan jauh, sekiranya 30 menit saya menempuhnya, tambah lagi dalam perjalanan selalu bertanya ke setiap warga untuk mencari tahu lokasi Desa Hulawa itu di mana.

“Pak ini desa Hulawa? Tempat pengasapan ikan,” tanya saya kepada seorang warga sekitar, ia menenteng sepatu bola, saya menduga dia hendak pergi ke tanah lapang yang tak jauh dari tempat saya sekarang.

“Ini masih Desa Pilohayanga, di ujung jalan ada pertigaan; pak belok kanan dan setelahnya lurus sepanjang 10 meter, nanti ada tukang jualan di situ. Bapak tanya saja. Paling penting patokannya bau ikan  yang sementara di asap pasti tercium dari jalan, itu lokasi pembakarannya,” jawab warga itu dengan tergesa-gesa. Maklum, teman-temannya di seberang telah melambaikan tangan, memberi kode permainan sepakbola ala warga desa akan segera dimulai.

Saya kemudian beranjak dari tempat itu. Mengikuti petunjuk dan isyarat yang diberikan warga tadi. Saya lupa menanyakan namanya. Yang jelas dia bukan Ronaldo atau Messi.

Selama 10 menit saya beranjak, nampak ada beberapa lapak di bahu jalan. Mereka menjajakan ikan asap tadi. Sekiranya ada tiga hingga lima pedagang yang mulai sibuk membersihkan lapakannya.

Namun, ketika hendak bertanya, kata-kata saya seakan dibungkam oleh indra penciuman saya. Saat hari menjelang sore, kepulan-kepulan asap tadi menutupi sebagian langit, ia membubung ke angkasa mungkin ingin menyaingi awan di langit.

Pikiran saya mulai tak fokus, berkeliaran di mana-mana. Mencari sumber asap itu berasal. Bau ikan yang sementara dipanggang menusuk ke hidung. Angin juga tak mau kalah, ia pemberi isyarat paling mujarab sore itu.

“Betul kata orang tadi,” saya membatin.

Aroma itu mengantarkan saya ke tempat yang ingin saya tuju; produksi ikan fufu atau ikan asap.

Tempat pengasapan ini tak begitu jauh dari jalan raya, berjarak 10 meter saja. Selain asap, kayu bakar, terlihat juga beberapa orang tengah sibuk menyalakan api dan yang lainnya sibuk membersihkan ikan yang siap diasapi.

Saya kemudian mendekat, melemparkan pertanyaan,”Sudah mulai pembakarannya Pak?,” tanya saya kepada seorang pekerja itu, ia sibuk merapikan bara api dan menambah beberapa kayu bakar ke dalamnya. Pekerja itu tak muda lagi; usianya sudah sore, seperti sore yang menuju ke senja dan sedikit lagi mengarah ke malam hari.

Salah satu pekerja sedang memperbaiki bara api agar ikan yang diasapi matang dengan kualitas yang bagus. Foto: Zulkifli M.

“Baru mulai pembakaran. Awas asap, lama proses ba bakar ini,” jawabnya.

Saya kemudian mendekat melempar tanya kembali, “Pak yang punya usaha ini?,” tanya saya lagi.

“Bukan, ada yang punya usaha ini. Sadiki lagi somo kamari dia.”

Tak berselang lama seorang pria memakai kaos putih, postur tubuhnya tinggi dan badannya besar berjalan ke arah kami, kian mendekat ke tempat pengasapan ini. “Saya yang punya pengasapan.”

Dia tampaknya tahu saya orang baru, “Wartawan yah?,” tanya bapak itu.Kamis (26/9/2019).

“Iya. Saya kemari ingin melihat proses pengasapan ikan fufu ini,” jawab saya sederhana.

“Oh iya. Saya Raden S. Tololio, yang punya pengasapan ini,” sambil menunjukan ikan-ikan yang telah disiapkan untuk diasapi.

Pembicaraan itu kemudian mencuak, sapaan tadi memulai semua percakapan. Saya awalnya berpikir Pak Raden orang yang tak ingin bercakap, tapi ia lebih terbuka dari apa yang saya pikirkan.

Usaha Turun-temurun

Raden S. Tololio usianya kini 47 Tahun. Ia berasal dari Desa Hulawa, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Usaha jualan ikan fufu ini telah lama ia jalankan, ia memulai usaha ini sejak kecil.

Dulu Ayah dan Ibu Pak Raden seorang penjual ikan fufu terkenal, bahkan ekspor ikan fufu sampai ke beberapa daerah sebut saja daerah Sulawesi Utara: Manado, Bolmong dan Kotamobagu serta sebagian daerah di Sulawesi Tengah.

Kawasan yang ia tinggali sekarang, Desa Hulawa, juga sudah dikenal orang banyak sebagai tempat produksi ikan fufu di Gorontalo.

“Ini sebenarnya pekerjaan turun-temurun, saat ayah saya masih hidup saya bantu-bantu mereka, tapi saat beliau sudah tiada saya yang melanjutkan usaha dia sampai dengan saat ini,” kata Pak Raden sambil mengeluarkan stok kayu bakarnya yang berada di gudang.

Namun, saat Ayah Pak Raden meninggal dunia, jualan ikan fufu miliknya hanya dijual di area Gorontalo saja. “Saya jual ke pasar Kwandang, Limboto, Isimu dan ada juga di Paguyaman, tapi sekarang pegawai di sana sudah berhenti jadi jualan di Paguyaman juga dihentikan.”

Karena faktor pegawai yang sedikit juga mengurangi produksi ikan fufu Pak Raden. Ia kadang sehari hanya bisa memproduksi ikan 200-300kg, tapi saat hari minggu produksi ikan fufu Pak Raden hingga 400kg. Alasannya di hari minggu lebih banyak pembeli dibanding hari-hari biasa.

“Ikan-ikan yang diasapi di sini dijual dari kisaran harga 5 ribu rupiah hingga 30 ribu rupiah. Tergantung ukuran, juga tergantung harga ikan yang saya beli dari TPI,” ujarnya.

Ikan-ikan yang dijajakan Pak Raden hanya dua macam saja, yakni ikan cakalang dan ikan deho. Kedua jenis ikan tersebut menurut Pak Raden banyak diminati dan banyak permintaan juga.

“Nah, kalau ikan cakalang dan ikan deho ini untuk ukuran besarnya dijual dengan harga 25-30 ribu per ekor yang sudah diasapi dan siap disantap.”

Proses pengasapan ikan fufu ini juga tak lama, hanya membutuhkan waktu 3 jam saja. Pak Raden biasanya memulai pengasapan dari jam 2 siang hingga selesai. Dalam sehari ia bisa melakukan dua kali pengasapan, dengan durasi yang sama pula.

“Lama pembakaran ini 3 jam, tidak boleh kurang atau lebih. Bisa berpengaruh pada kondisi ikan dan rasanya,” ujar pengusaha ikan fufu itu.

Modal Kepercayaan

Setelah ditinggal pergi oleh sang Ayah, Pak Raden kemudian melanjutkan usaha yang telah dirintis keluarganya ini. Ia melanjutkan usaha ini dengan susah payah bahkan tak punya modal sama sekali. Kala dirudung masalah soal modal, pikirannya tak lagi ingin melanjutkan bisnis ikan fufu karena kekurangan modal tadi.

Hingga suatu hari, kata Pak Raden, ia meyakinkan dirinya untuk tetap menghidupkan usaha ini. Hanya satu yang ia yakini waktu itu “Kepercayaan”, dengan modal kepercayaan ia yakin bisa melanjutkan bisnis ikan fufu sampai dengan sekarang.

Ikan Deho yang siap diasapi. Foto: Zulkifli M.

Modal kepercayaan yang dimaksud oleh Pak Raden ialah meyakinkan para pengepul ikan di TPI untuk memberikannya ikan sesuai kebutuhkan untuk diasapi, dengan jangka waktu yang telah ditentukan dan disepakati.

“Saya beli ikan di TPI. Modal yang saya andalkan adalah kepercayaan. Saya tidak bawa uang ke TPI, bertemu dengan setiap penampung, mereka kemudian akan kasih ikan ke saya, nanti kalau sudah tiga hari saya bayar,” paparnya kepada saya dengan sederhana.

Katanya lagi, nanti seetelah ikan ini laku dijual baru saya membayar harga ikan itu, tentu saja dengan jenjang tiga hari tadi.

Tapi menurut Pak Raden keuntungan berbisnis ikan fufu tak menentu. Kadang ada ruginya kadang juga untung bahkan ada beberapa kawan yang memulai malah buntung di tengah jalan.

“Keuntungan tidak menentu, kadang setiap penjualan ikan fufu untung 300-500 ribu rupiah atau bisa sebaliknya, rugi. Karena banyak pengeluaran juga dalam produksi ikan fufu ini terutama kayu bakar, sapu lidi dan gaji pekerja atau buruh.”

“Nah, ini sudah masak silakan makan,” tawar Pak Raden kepada saya.

Tak terasa waktu dengan gampang berlalu, saya tengok jam di gawai saya pukul 17.22 Wita.

Percakapan saya dengan Pak Raden kemudian terhenti, pekerja tua renta tadi menyodorkan sepiring nasi buat saya, buat Pak Raden dan buatnya juga. “Mari makan ikan enak ini.”

Saya kemudian mengiyakan. Mengambil beberapa potong yang sudah dihidangkan, “Anak-anak saya dan biaya sekolah mereka di biayai dari pengasapan ikan ini dan seluruh pekerja di sini menaruh harapan dari bisnis ikan fufu yang terus saya jaga,” kata Pak Raden kepada saya.

Hari mulai malam memang, tapi saya menghiraukan hari itu kenikmatan ikan fufu ini tak bisa dilewatkan.

“Berapa semua harganya Pak?,” tanya saya ke Pak Raden.

“Tak usah itu gratis. Makan saja, tinggal pilih mau ulang atau mau pulang,” sendu guraunya dihadapan bara api yang mulai padam, matahari yang mulai hilang dan beduk masjid telah memberikan tanda waktu Salat Magrib telah tiba.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.