Gagal Panen, Kebakaran, dan Kurangnya Air Bersih Dampak Kemarau yang Dirasakan Masyarakat

Puncak kemarau yang akan dirasakan oleh masyarakat Gorontalo pada bulan September dan bulan Oktober memasuki musim peralihan.

60DTK – Lipsus: Musim kemarau yang melanda wilayah Gorontalo memberikan dampak tersendiri bagi masyarakatnya. Hal ini dibuktikan dengan beberapa desa/kelurahan terdampak kekeringan yang tersebar di wilayah Gorontalo khususnya, wilayah Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango.

Di kabupaten Bone Bolango misalnya dampak kemarau yang dirasakan warga kesulitan air bersih dan gagal panen.

Desa Mongiilo, kecamatan Bulango Ulu, petaninya gagal panen akibat dampak dari kemarau yang berkepanjangan.

“Kecamatan Bulango Ulu daerah terparah terdampak kekeringan di musim kemarau,” kata Kepala Dinas Pertanian Bone Bolango, Roswaty Agus, saat dimintai keterangan via telpon. Selasa (3/9/2019) dikutip dari lansiran Read.id

Roswaty juga mengatakan bahwa dampak kemarau bukan hanya dirasakan warga di Bulango Ulu tapi juga warga di kecamatan Tapa yang mengalami krisis air bersih.

Katanya, Bulango Ulu menjadi yang terparah karena hampir sebagian area pertanian di Bone Bolango paling banyak berada di kecamatan Bulango Ulu.

“Kawasan pertanian Bone Bolango sebanyak 8000-an hektare dan paling banyak di Bulango Ulu dengan luasan area pertanian sebesar 2000 hektare,” ujarnya.

Sehari sebelumnya, pada senin (2/9) terjadi kebakaran lahan yang ada di desa Suka Damai, kecamatan Bulango Utara. Kebakaran itu melanda lahan kebun milik para warga di desa tersebut.

Sedangkan di kabupaten Gorontalo sendiri dalam pantauan tim 60dtk.com dilapangan, daerah yang paling banyak terdampak kekeringan ialah kelurahan Bulota, Pilohayanga Barat.

Tapi menurut informasi dari pihak BPBD kabupaten Gorontalo yang diwakili oleh kepala unit Damkar kabupaten Gorontalo, Farid Taha menyebutkan, di kabupaten Gorontalo sendiri pada musim kemarau ini timnya telah melakukan banyak penanganan terkhusus pada penyuplaian air bersih ke setiap desa-desa yang terdampak kekeringan dan kesulitan air bersih.

“Bencana kekeringan ini memang sering terjadi, puncaknnya dari bulan maret hingga agustus, sesuai perkiraan dari BMKG,” kata Farid Taha kepada wartawan. Rabu, (4/9/2019).

Menurut Farid sendiri, sebanyak 205 desa yang tersebar di 17 kecamatan dari 19 kecamatan yang ada di kabupaten Gorontalo mengalami dampak kemarau. Dampak yang dirasakan antara lain dampak kekeringan, kekurangan air bersih, gagal panen serta kebakaran.

“135 desa gagal panen dari 17 kecamatan terdampak kemarau,” katanya. Kata Farid juga, selain daerah Bulota dan Pilohayanga Barat yang mengalami krisis air, desa-desa di Bongomeme, Ombulo, dan Telaga Biru mengalami hal yang sama.

Selain itu pula, dominasi kebakaran juga banyak terjadi selama kemarau ini berlangsung. “53 kali titik kebakaran terjadi, tersebar di 18 kecamatan.”

“Paling banyak kebakaran di  kecamatan  Limboto, Tibawa, Limboto Barat, dan Telaga. Dari 53 itu, ada skitar 49 bisa dipadamkan, sisanya tidak bisa dipadamkan karena tidak ada informasi,” jelas Farid Taha saat memberikan keterangan.

Lanjutnya, dalam hal penyuplai air bersih ke beberapa tempat yang kekurangan air bersih, Farid mengakui mereka kewalahan karena tidak didudkung armada yang lebih banyak, terlebih lagi fire hydrant system milik damkar kesulitan air, karena debit air yang berkurang selama kemarau.

Di sisi lain, PDAM selaku penyuplai air yang sangat dibutuhkan oleh semua kalangan, mengakui bahwa pihaknya juga tengah mengalami permasalahan dalam sokongan air bersih untuk disalurkan ke setiap pelanggan di musim kemarau ini.

Kepala Bagian Teknik PDAM Kabupaten Gorontalo, Ahmad Bahri, menjelaskan keluhan masyarakat terhadap suplai air yang kurang akibat kekeringan yang melanda sebagian daerah di kabupaten Gorontalo, penyebabnya dikarenakan beberapa instalasi pipa air sedang mengalami kerusakan.

“Dari 10 instalasi pipa air PDAM Kabgor, ada lima instalasi pipa air yang rusak dan berefek pada berkurangnya debit air baku,” kata Ahmad Bahri saat ditemui awak media. Senin,(2/9/2019).

Ahmad Bahri juga menjelaskan, lima instalasi yang mengalami kerusakan itu menyebabkan pengaruh besar pada unit-unit pelayanan PDAM yang tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya instalasi pipa air di Bulota, Pilohayanga, Tabongo; Tibawa, Boliyohuto CS.

Ia mengatakan misalnya instalasi pipa air di Bulota, kecepatan airnya dari 30 liter per detik turun sampai pada  4.5 liter per detik. “Sangat signifikan penurunan debit airnya. Penurunan debit air ini bisa mempengaruhi saluran air di unit layanan Telaga dan Limboto.”

Begitupun instalasi pipa air Pilohayanga, kecepatan debit airnya 40 liter per detik  turun hingga 21 liter per detik,  penurunan ini akan mempengaruhi  unit pelayanan Telaga CS: Telaga, Tilango; Telaga Biru, dan Kecamatan Limboto dan Limboto Barat.

Selanjutnya instalasi pipa yang berada di Tabongo, Tibawa, dan Boliyohuto CS  dengan kecepatan airnya 20 liter per detik turun hingga 4 – 5 liter per detik.

Dari penjelasan yang diberikan pihak PDAM mengenai masalah yang mereka alami, juga menegaskan, kerjasama antara dinas sosial, damkar, dan PDAM seperti yang dikatakan Farid Taha  untuk menyuplai air bersih memiliki hambatan yang sama bagi pihak mereka adalah debit air yang berkurang.

Dampak Kemarau bagi Masyarakat

Dalam musim kemarau yang melanda wilayah Gorontalo, berbagai macam dampak yang dirasakan warganya mulai dari kekurangan air bersih, gagal panen, serta munculnya titik kebakaran lainnya.

Titin Nurhani (49) petani asal desa Pilohayanga Barat, kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, mengeluhkan sawah  yang ia kelola beberapa bulan terakhir kurang mendapatkan suplai air akibat musim kemarau yang tengah melanda daerah Gorontalo.

“Sudah mau dua bulan sawah yang saya kelola ini mengalami kekeringan, coba lihat pertumbuhannya tidak mengalami perkembangan seperti tumbuh padi pada biasanya,” ujar Titin sambil menunjukan area persawahannya yang mengalami kekeringan. Senin, (2/9/2019).

Titin pun menuturkan bukan hanya sawahnya yang mengalami dampak dari musim kemarau ini, beberapa tanaman pertanian yang dikelola oleh petani di desa itu juga merasakannya. “Di sebelah petak sawah yang saya kelola itu ada tanaman mentimun, sebagian buahnya rusak dan menguning.”

Menurut keterangan Titin, air di sawahnya bisa saja dapat aliran, meskipun tidak banyak. Hanya saja beberapa irigasi yang mengalirkan air ke sawah-sawah belum bisa digunakan sepenuhnya karena masih dalam tahap perbaikan. “Bendungan di atas masih ditutup karena irigasi-irigasi masih ada penggalian,” ujarnya.

Ia pun berpendapat bahwa penggalian irigasi dan ditutupnya bendungan bisa jadi pemicu lainnya, karena air-air yang harusnya mengaliri persawahan terhambat akibat pengerjaan tersebut.

Selain Titin Nurhani, Laila (40) warga dusun V Polahua, desa Bulota, kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, lebih memilih membuat sumur kecil-kecil di daerah aliran sungai yang mulai mengering. Alasan Laila karena dari bulan Juli kemarin sumur bor mereka mulai tak menyuplai air lagi.

“Dari bulan kemarin sulit air bagini (begini), dan sumur suntik yang torang (kami) buat sudah tidak bisa pake (pakai) lagi. Makanya memilih buat sumur kecil bagini,” ungkap Laila sambil membersihkan dedaunan yang menutupi air dari sumur kecil buatannya.

Menurut Laila, bukan hanya keluarganya saja yang mengambil air di sumur buatannya ini, tapi beberapa warga juga turut serta mengambil air bersih di sini sebagai pemenuhan kebutuhan air di rumah mereka.

Dorang (mereka) yang dari bawah juga itu sering ambil air di sini, biasanya kalau sudah sore banyak orang berkumpul di sini cuman hanya mau ambil air saja.”

Air yang mereka ambil dari sumur-sumur kecil buatan itu digunakan untuk keperluan sehari-hari. “Air ini kami pakai untuk mandi, cuci kain, cuci piring, dan untuk minum.”

Klarifikasi BMKG

Menanggapi peristiwa kekeringan yang terjadi di Gorontalo, Kepala Seksi Data dan Informasi, Badan Meterologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Provinsi Gorontalo, Wahyu Guru I mengatakan bahwa hampir sebagian wilayah di Gorontalo mengalami kekeringan. Kekeringan ini karena musim kemarau yang terjadi dari bulan Agustus hingga September.

Menurut Wahyu, kemarau ini seharusnya terjadi pada bulan Juni sampai Agustus, tapi di tahun ini terjadi pada bulan Agustus hingga September.

“Puncak kemarau di tahun ini pada bulan September, dan pada bulan Oktober memasuki musim peralihan,” ungkapnya.

Ia juga menuturkan, musim kemarau ini seperti musim-musim lainnya, seperti musim penghujan dan musim peralihan. Tapi, pihak BMKG memprediksi puncak kekeringan itu terjadi pada awal Agustus dan paling puncaknya di bulan September ini. “Kemarau tahun ini memang kering dibandingkan tahun kemarin.”

Lanjutnya, wilayah Gorontalo mengalami kekeringan karena adanya El Nino lemah, berbeda dengan musim kemarau yang terjadi pada tahun 2018 kemarin.

“Kekeringan di tahun ini lebih kering dibandingkan pada tahun 2018, tahun kemarin memang ada musim kemarau tapi tidak sekering tahun ini,” ujar Wahyu saat dimintai keterangan di kantor BMKG.

Wahyu juga mengungkapkan, bahwa perbandingan musim kemarau pada tahun ini dan tahun kemarin sangat berbeda. Tahun 2018 bukan El Nino yang mempengaruhi tapi malah La Nina. “Makanya pada tahun kemarin meskipun kemarau tapi sering hujan, berbeda dengan tahun ini yang lebih kering dan sangat jarang hujan bahkan tidak ada.”

Kata Wahyu sendiri, saat musim kemarau tiba pihak BMKG telah memberikan informasi kepada instansi-instansi terkait seperti dinas pertanian untuk mendapatkan informasi perkiraan dan prediksi cuaca.

“Informasi cuaca ini sebelumnya bisa didapatkan melalui stasiun dan tabloid yang dibagikan oleh pihak BMKG, serta telah diseminasikan ke dinas-dinas terkait,” imbuhnya.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.