Gerhana Bulan Menyapa Januari Hingga Maret 2019

0

60DTK – Nasional: Apakah Gerhana Bulan Itu? Mengingat Bulan Purnama setiap tahun terjadi di Indonesia, tentu saja masyarakat secara umum sudah mengetahui tentang Fenomena tersebut. Meskipun begitu, penjelasan tentang Bulan Purnama kita bisa mengacu pada penjelasan BMKG, bahwa Bulan Purnama adalah peristiwa ketika Matahari, Bumi, dan Bulan dalam posisi hampir segaris lurus dan bulan akan tampak bulat utuh saat di amati dari bumi.

Sebelumnya pada Tanggal 21 Januari kemarin, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui akun instagramnya menyampaikan pada bulan Januari hingga Maret 2019, akan terjadi Gerhana Bulan secara berturut-turut.

21 dan 22 Januari

Gerhana Bulan Pertama di tahun ini, terjadi pada Senin kemarin (21/1) tepat pukul 12.16 WIB. Setelah itu, Selasa dini hari tadi yakni pukul 02.59 Wib Fenomena ini kembali terjadi. kali ini jarak Bulan dan Bumi berkisar 357.342 Kilo Meter.

Sayangnya, fenomena yang disebut sebagai Super Blood Wolf Moon atau Bulan Darah Serigala bagi penduduk Amerika Serikat ini tidak dapat dilihat dari Nusantara. Bulan Purnama tersebut hanya bisa di amati dari wilayah Eropa, Afrika, Amerika, dan sebagian kecil Asia bagian Timur Laut. Meskipun begitu dilansir dari Kumparan (22/1), NASA mengatakan tempat terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah wilayah Louisiana, Amerika Serikat.

Mengapa disebut Bulan Darah Serigala? Jawabannya disederhanakan saja, karena saat puncak gerhana warna bulan menjadi kemerahan. Wah, Semoga saja yang sempat menyaksikan bulan purnama itu tidak menjadi manusia serigala yaaa.

19 Februari

Sebulan berikutnya pada Selasa, 19 Februari 2019 pukul 22.53 WIB bulan akan kembali dalam fase purnama. Jika jarak Bumi dan Bulan saat Super Blood Wolf Moon adalah 357.342 kilometer, Februari mendatang jarak keduanya akan lebih dekat.

BMKG memperkirakan pada pukul 16.02 WIB, Bulan berada pada jarak 356,761 kilometer dari bumi. Sehingganya peristiwa ini menjadi posisi terdekat bulan dan bumi pada tahun 2019 (Gerhana di Perige). jika cuaca cerah, bulan akan lebih mudah untuk diamati dibandingkan saat bulan di Apoge (gerhana bulan, namun jarak bulan terlalu jauh) yang akan terjadi 14 September nanti.

Berdasarkan data BMKG, dampak terjadinya Purnama di Perige, ukuran bulan akan tampak 7 persen  lebih besar dari biasanya. selain itu, cahaya yang dipancarkan juga akan meningkat 15 persen. Bahkan juga akan berdampak pada pasang surut air laut lebih besar, walaupun hal ini bergantug pada topografi pantai.

21 Maret

Sementara itu, puncak Purnama akan terjadi pada kamis 21 Maret 2019. Saat itu jarak bumi dan bulan akan kembali menjauh pada kisaran 359,377 kilometer dari Bumi. Fenomena yang akan terjadi pada pukul 08.42 WIB tersebut disebut bulan purnama Equinox. Hal itu di karenakan pada hari itu posisi matahari berada di Equinox.

Penulis : Andrianto S/Tr

Editor  : Zulkifli M.

Tinggalkan Balasan