Gorontalo Tak Kunjung Hujan, BMKG: Hal Ini Disebabkan MJO Fase Kering

60DTK – Gorontalo: Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gorontalo memprediksi tingginya curah hujan di Gorontalo secara normal akan terjadi pada akhir bulan November hingga pertengahan Desember.

Menurut BMKG sendiri, seharusnya waktu normal curah hujan terjadi pada bulan Oktober – November, karena mengikuti  pola musim pada biasanya. Hal ini dikarenakan daerah Gorontalo belum sepenuhnya keluar dari  pengaruh cuaca global seperti La Nina dan El Nino. Serta penyebabnya lainnya dipengaruhi oleh adanya aktivitas Maden Julian Oscalliation (MJO).

MJO sendiri merupakan gangguan awan, hujan, tekanan udara, dan angin yang secara langsung melintasi kawasan tropis dan kembali pada titik awal dalam kurun waktu 30 hari – 60 hari.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bone Bolango, Iryanto mengatakan, banyak faktor penyebab curah hujan di beberapa daerah Gorontalo sangat sedikit, hal ini karena pengaruh dari beberapa indikasi, terutamanya indikasi yang datang dari MJO fase kering.

“Di beberapa wilayah Gorontalo, seperti Gorut, Pohuwato, dan Boalemo sudah hujan tapi dengan curah hujan masih di bawah rata-rata 50 mm, dan merata di semua wilayah di Gorontalo. Belum turunnya hujan di beberapa wilayah Gorontalo disebabkan oleh adanya MJO fase kering,” kata Iryanto saat di wawancarai via chating whatsapp, Jumat (22/11/2019).

Iryanto menjelaskan, pada fase MJO kering ini awan-awan sukar terbentuk dan apabila terbentuk akan hilang, sehingga peluang untuk hujan sangat kecil kemungkinannya.

“Namun pada MJO fase kering ini tidak akan berlangsung lama, apabalia fase kering ini akan berlalu, besar kemungkinan Gorontalo akan diguyur hujan. Menurut prediksi di akhir November akan hujan,” ujarnya.

Kata Iryanto juga, suhu panas yang dirasakan sebagian masyarakat dalam catatan dan pengukuran BMKG masih dalam keadaan normal. Rasa panas itu menurutnya, karena tidak ada tutupan awan yang dapat mengurangi suhu panas saat ini, karena keadaan awan dari pagi hingga siang hari sangat sedikit.

“Perlu diingat juga, akan ada potensi untuk cuaca ekstrem akibat perpindahan musim. Yakni pada pergantian musim atau kita kenal dengan musim pancaroba, potensi cuaca ekstrem yang terjadi seperti hujan lebat dan angin yang sangat kencang,” jelasnya.

Penulis: Zulkifli M.