Komitmen Cegah Terorisme, Ini yang Dilakukan PW GP Ansor

  • Whatsapp
Ketua PW GP Ansor, Risan Pakaya saat memberikan sambutan di pembukaan FGD pencegahan terorisme yang berlangsung di Hotel Damhil Kota Gorontalo, Sabtu (30/10/2021). (Foto: Istimewa)

60DTK, Gorontalo – Tahun 2021 ini, cukup banyak kasus terorisme yang ditemukan oleh Densus 88, yang mengindikasikan bahwa terorisme masih terus menghantui negeri ini. Hal ini tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut kemaslahatan orang banyak.

Sebagai salah satu bentuk pencegahan terorisme, pihak PW GP Ansor pun menyelenggarakan focus group discussion (FGD) terkait pencegahan terorisme ini, yang berlangsung di Hotel Damhil Kota Gorontalo, Sabtu (30/10/2021).

Bacaan Lainnya
Usai kegiatan FGD pencegahan terorisme yang berlangsung di Hotel Damhil Kota Gorontalo, Sabtu (30/10/2021). (Foto: Istimewa)

“Kita dari PW GP Ansor Gorontalo bersama-sama dengan Satgaswil Densus 88 Antiteror Gorontalo, Kepolisian Daerah Gorontalo, Korem 133/Nani Wartabone, BIN Daerah Gorontalo, FKPT Wilayah Gorontalo, Kesbangpol, dan dinas-dinas terkait lainnya selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap pertumbuhan radikalisme dan terorisme di seantero Indonesia,” ungkap Ketua PW GP Ansor, Risan Pakaya.

Ia pun menekankan bahwa kerja-kerja untuk mencegah dan menanggulangi radikalisme dan ekstremisme yang berujung pada terorisme merupakan kewajiban pihaknya dan seluruh masyarakat.

“Pancasila sebagai dasar negara harus menjadi inspirasi kita dalam berkehidupan dan bernegara. Sebab itulah, moderasi beragama sebagai salah satu penangkal keterlibatan seseorang dalam jaringan radikalisme terorisme menjadi topik diskusi pada siang hari ini. Dan di akhir diskusi kita akan membahas perkembangan dan strategi pencegahan dan penanggulangan radikalisme terorisme,” pungkasnya.

Ia pun mengajak para peserta FGD untuk terus melakukan yang terbaik untuk negeri ini dalam mengawal pancasila, demokrasi, toleransi, kerukunan umat antar-agama, serta senantiasa dewasa dalam melihat perbedaan.

“Perbedaan adalah keniscayaan, tapi jangan sampai melahirkan perpecahan. Hal-hal khilafiyah/perbedaan tidak perlu lagi digembor-gemborkan seperti ingin mengganti sistem demokrasi dengan khilafah Islamiyah yang multitafsir di kalangan ulama-ulama dunia. Kita sudah selesai dengan pancasila,” tambahnya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi tidak menutup kemungkinan munculnya narasi-narasi anti-pancasila, anti-demokrasi, anti-maulid nabi, anti-kearifan lokal, dan lain sebagainya.

“Kita perlu menyadari bahwa media sosial ada positif dan negatifnya. Salah satu negatifnya dijadikan tempat penyebaran paham-paham yang tidak sesuai dengan karakter keindonesiaan. Kita wajib melakukan kerja kontra narasi/ideologi setiap harinya sesuai kemampuan yang dimiliki masing-masing,” tutupnya.

Pos terkait