Padi Milik Petani Sawah di Limboto Barat Rusak Pascabanjir

  • Whatsapp
Arim Nusi (46), salah satu petani di Desa Huidu, Kecamatan Limboto Barat, saat menghamburkan bibit padi di sawahnya untuk mengganti tanaman yang sudah rusak akibat banjir. (Foto: Andi 60dtk)

60DTK, Kabupaten Gorontalo – Padi milik sejumlah petani sawah di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo rusak pascabanjir yang terjadi berulang kali beberapa waktu lalu.

Dari pantauan awak media, luas lahan tanaman yang rusak diperkirakan mencapai puluhan hektare. Kondisi kerusakan juga berbeda-beda. Seperti di Desa Tunggulo, masih ada tanaman padi beberapa orang petani yang tersisa. Sementara di Desa Huidu, sebagian rusak total (mati).

Bacaan Lainnya
Emi (46), salah satu petani di Desa Tunggulo, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, saat membersihkan rumput dan melihat kondisi padi di sawahnya. (Foto: Andi 60dtk)

“Saya punya ini memang ada penyakit, baru karena terendam banjir, jadi rusak. Untung tidak semua, hanya sebagian,” kata Emi (46), salah satu petani sawah di Desa Tunggulo, Minggu (28/11/2021).

Menurut Emi, kerusakan tanaman padi miliknya dan petani lain yang lahan sawahnya berdekatan sering terjadi saat musim penghujan.

Sebabnya, saluran air yang ada tidak mampu menampung debit air yang begitu banyak, sehingga meluap ke sawah mereka dan baru surut setelah beberapa hari kemudian, bahkan sampai satu pekan.

Karena banjir ini, kata Emi, padi menjadi berwarna merah. Jika tanamannya tidak kuat, daun-daunnya akan berguguran, batang padi menjadi layu, hingga tersisa akarnya saja.

“Banjir baru-baru ini sudah berulang-ulang. Kalau tidak salah sudah sampai empat kali. Untung umur padi saya sudah 49 hari, jadi hanya yang lain yang rusak,” tuturnya.

Emi mengakui, melihat kondisi tanaman padi miliknya, Ia tidak akan mengalami gagal panen. Akan tetapi, itu sudah dipastikan membuat hasil panennya nanti tidak akan sebanyak sebelumnya.

“Pasti hasil panen akan berkurang. Untuk sawah saya ini 1,5 pantango,” bebernya.

Sementara itu, Arim Nusi (46), salah satu petani sawah di Desa Huidu, mengaku padi miliknya seluruhnya rusak parah (mati) akibat banjir. Padahal, padi miliknya sudah berumur sekitar satu bulan.

“Yang ada sekarang ini sudah ditanam ulang sekitar dua minggu lalu, karena yang saya tanam pertama sudah mati. Saya punya sawah ini 1 hektare, mati semua,” aku Arim kepada awak media.

Arim juga mengaku bahwa penanaman kembali sudah dikerjakannya seorang diri. Pasalnya, Ia sudah tidak lagi memiliki modal untuk membayar orang yang akan menamam.

“Harapan ke pemerintah pengadaan bibit saja. Banyak petani yang tanaman padinya rusak, mereka ingin menanam kembali tapi sulit mendapat bibit. Saya saja dapat nanti di daerah Paguyaman, dan lain itu pakai bibit yang sudah tua,” tandasnya.

 

Pewarta: Andrianto Sanga

Pos terkait