Senja dan Harapan Kecil di Tengah Danau Perintis

60DTK – Gorontalo: Danau Perintis itu mulai sepi, tak seramai dulu. Di setiap sudut danau hanya terlihat beberapa orang saja yang sedang bersantai ria, sembari menunggu sore pergi. Rata-rata yang datang hanya sekadar mampir sembari mengabadikan moment mereka pada setiap sorenya.

Tak ada yang berubah di sini, di danau perintis ini, danau yang ditetapkan pemerintah daerah sebagai tempat wisata Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Padahal saat itu danau perintis menjadi tujuan wisata baru di Gorontalo, berbagai wahana dan fasilitas bermain yang bisa digunakan untuk bermain di atas danau pun tersedia. Bahkan bila dilihat dari sisi ekonominya, masyarakat sekitar meraup keuntungan atas kunjungan orang-orang, muda-mudi, yang hanya mau menghabiskan harinya di danau tersebut.

Tapi, semuanya telah berubah. Keinginan saya untuk mengunjungi danau perintis sembari menghabiskan sore di tepi danau perintis itu berakhir dengan kesunyian, hanya beberapa saja orang-orang yang lalu lalang di jalanan sekitar danau, dan bahkan untuk berhenti sejenak saja enggan rasanya.

Namun, saya bersyukur pada sore itu, ada beberapa pengunjung yang saya temui mereka malah lebih menyukai keadaan danau perintis yang sepi pengunjung seperti ini. Harus dipertahankan kata mereka.

“Danau perintis ini dulu ramai, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Dan saya suka itu, karena dengan kesunyian itu saya bisa merasakan ketenangan dan ketentraman di sini sambil menghabiskan buku-buku favorit yang harus saya baca,” ujar Rahmat pengunjung yang saya temui sore itu, Kamis (28/11/2019).

Kata Rahmat, ia memang menyukai tempat-tempat yang sesepi ini, dalam keadaan seperti ini katanya ia bisa merasa lebih dekat dengan alam.

“Saya rasa banyak orang juga yang ingin merasakan kesepian, daripada keramaian yang dapat mengganggu orang sekitar. Coba lihat beberapa orang yang sedang mengail di atas danau itu, di atas perahunya, ia nampak merasakan sepinya danau dengan sangat tenang, mengambil satu per satu umpan untuk dikaitkan dikailnya dan kemudian ia melemparkan dengan sekuat tenaga ke tengah-tengah danau,” katanya dengan sangat pelan.

Rahmat kemudian melanjutkan aktivitasnya, dengan satu buku yang ia baca tepat berada di tangan kanannya, dan tangan kirinya sedang menggantung sebatang rokok, yang ia hisap pelan demi pelan, katanya dengan cara seperti itu hidup ini akan terasa nikmat. Gelombang asap yang keluar dari mulutnya membubung tinggi ke angkasa, meninggalkan jejak kesepian Rahmat yang sedang asik dengan bukunya.

Langit mulia merah, sepertinya bukan, langit sedang manis-manisnya. Goresan merah muda dibalut jejeran awan tak karuan memberi tanda hari akan berlalu, dan keberadaan saya di danau itu harus cepat berlalu jua.

Saya melanjutkan langkah ke beberapa sudut danau, di sudut paling ujung; di arah matahari mulai tenggelam, berdiri seorang pria tak juga kurus ataupun berisi, ia bertubuh seadanya, mendorong perahunya yang tertambat ke bibir danau. Ia kemudian mengeluarkan beberapa peralatan yang dibawa, menaruhnya satu per satu di atas perahu, dan kemudian ia pergi ke tengah danau, sambil mendayung dengan sangat pelan.

Pria itu kemudian mulai menjauh dari bibir danau tempat saya menepi, saya meneriakinya, “Sapa nama om?,”, “Nani,” jawabnya.

Lalu dari belakang dua bocah kecil mendekati saya, membisik, “itu kak Nani,” sahut dua bocah itu kepada saya dengan sedikit cekikikan dengan segenggam camilan di kedua tangan mereka.

Cahaya langit mulai berkurang dayanya, berbarengan dengan posisi Kak Nani itu yang kian menjauh dari tepi, dan mendekat ke tengah danau. Ia kayaknya mencari suasana yang sepi, tak mau mengail dekat bibir danau karena banyak kendaraan yang lalu lalang dan anak-anak kecil yang ribut karena sedang asik bermain di sore hari.

Mungkin itulah yang di maksud Rahmat dengan arti kesepian, pengunjung yang saya temui tadi. Yang masih dengan keteguhannya berada di bibir danau, menghabiskan harinya dengan membaca.

Senja dan Harapan

Kak Nani dengan semangat mendorong perahunya hingga ke tengah danau, bermodalkan sebuah dayung, ia berhasil  sampai di tengah danau, pilihan tempatnya untuk memancing sore ini. Ia hanya bermodalkan umpan seadanya dan dua buah kail untuk menggapai harapannya di tengah danau perintis ini. Harapannya sederhana, membawa pulang ikan hasil tangkapannya untuk dikonsumsi bersama keluarga kecil Kak Nani di rumah.

Waktu di gawai saya menunjukan pukul 17.00, itu artinya matahari mulai malu-malu, dan melemparkan senyum kemerah-merahan di atas langit. Bias warna merah,kuning,dan ungu bercampur satu, pemandangan sore hari yang selalu idam-idamkan oleh kebanyakan orang.

Namun, Kak Nani tak menghiraukan senja yang datang itu, ia hanya sibuk dengan umpan dan kailnya. Beberapa kali kailnya ia angkat dan di pasangi umpan kemudian dilempar kembali, begitu seterusnya. Hingga warna jingga di langit mulai memudar, saya tak melihat satu ekor pun ikan yang mampir ke kailnya. Saat ia angkat kailnya kosong, begitu seterusnya.

Tapi, saat senja itu mau berlalu berganti malam, satu kail yang tak pernah disentuh oleh Kak Nani jatuh ke air. Ia dengan secepat kilat menangkapnya, dan ternyata pada waktu sore menjelang malam memecah kebuntuannya, satu ekor ikan mujair berhasil ia dapatkan. Ia kemudian merapikan beberapa kailnya, dan nampak mulai mengayuh perahunya ke tepi danau, tempat saya masih dengan sabar menunggunya.

Ia tiba ditepi bersamaan dengan para muazin melantang suaranya dari berbagai masjid. Kak Nani sapaan akrabnya oleh warga sekitar, turun dari perahunya membersihakan tangan dan kaki yang terkena lumpur. Di tangan kanannya ada satu buah ember yang ia genggam dengan eratnya, di dalam ember itu ada ikan mujair yang berhasil ia dapatkan.

Saya kemudian melemparinya pertanyaan, “dapat ikan berapa tadi Kak Nani?”, “tidak banyak, cukup untuk makan,” jawabnya sambil tersenyum.

Kemudian ia memberi cerita mengenai aktivitasnya memancing di sini . “Kalau dulu di sini ramai, jadi jarang juga kami memancing. Nanti saat-saat ini mulai sepi, baru kami mulai memancing. Saya saja jarang memancing di sini, tidak rutin seperti yang lain,” ujarnya kepada saya sambil memasang rokok kreteknya.

Nani melanjutkan, sebenarnya kalau di tanya soal ikan banyak yang di dapat dari hasil pancingan, tidak menentu setiap harinya. Paling tinggi harapan kami itu dapat ikan saja, meskipun hanya satu ekor. Sudah cukup. Karena dari awal tujuannya memancing untuk mendapatkan ikan.

“Kalau pergi ke tengah danau tidak dapat ikan yah rugi juga. buang-buang tenaga saja,” kata Kak Nani.

Pukul 18.15, hari sudah mulai gelap. Kak Nani kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu berpamitan kepada saya. “Mau pulang dulu, sudah malam.”

Kak Nani kemudian berlalu, berjalan ke arah rumahnya. Hingga jarak pandang ke Kak Nani mulai ditutupi malam. Hanya warna putih embernya saja yang terlihat dari kejauhan.

Saya ikut beranjak dari danau itu, tapi Rahmat pengunjung yang saya temui tadi masih juga belum beranjak. Buku bacaannya memang sudah ia tutup, tapi rokok di tangannya belum juga habis. Ia mungkin ingin merasakan ketenangan dan kesepian dari danau perintis ini. Dari raut wajahnya memancarkan harapan yang sama, sama seperti harapan yang ditaruh oleh Kak Nani di tengah danau perintis ini.

Penulis: Zulkifli M

Comments are closed.