Timbunan GORR Berbuah Rupiah

0

60DTK – LIPUTAN KHUSUS : Pembangunan Jalan Gorontalo Outer Ring Road (GORR) punya cerita tersendiri bagi Andri D.J Akuba (32).

Andri pekerjaan sehari-harinya adalah petani, ia warga Desa Huidu Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo. Pembangunan jalan GORR ini sudah lama di dengarnya, melalui orang-orang yang bergumul yang hendak minum kopi atau sekadar kongko-kongko saja di warung kopi.

Andri Mengungkapkan Pembangunan jalan itu menimbun tanah milik keluarganya, yang berkisar seluas 2000 Meter Persegi sesuai yang tertera di akta kepemilikan tanah yang ia miliki.

“tanah ini milik orang tua saya dari tahun 1983 – Sekarang, tapi saya yang mulai mengelolanya saat ini.” Kata Andri, Selasa (11/12/2018).

Ia tak mengira kalau pembangunan Jalan GORR ini akan berimbas pada tanahnya juga.

“tanah sisa dari pekerjaan itu ditimbun tepat di tanah kami.”

Timbunan bekas pekerjaan Jalan GORR diatas tanah milik keluarga Andri D.J Akuba. Foto : Dokumentasi Tim 60DTK.com

Bukan hanya tanah Andri ada beberapa tanah masyarakat juga yang kena dampak timbunan dari pekerjaan tersebut.

“sepengetahuan saya tanah yang lain juga kena, ada yang di bayar ada juga tidak. Kalau saya pribadi tidak dibayar untuk hal penimbunan itu”. Terangnya saat di wawancarai reporter 60dtk.com di rumahnya.

Andri menuturkan,  ada rasa senang dan ada pula sedih ketika pertama kali tahu, tanah itu mulai tertimbun dengan sisa pekerjaan dari GORR.

“pasti beberapa orang merasakan hal yang sama, karena itu tanah milik keluarga. Jadi semua pengelolaan dan keberadaan tanah nantinya akan ditanyakan kepada saya”.

Seiring berjalannya waktu, Andri mulai mengelola timbunan tersebut. Dipikirannya, semenjak tanah milik keluarga itu di timbun malah menjadi akses lain untuk para petani ketika mereka hendak pulang dari kebunnya dan jadi tempat istirahat untuk sebagian orang. menurut perkiraannya, jalan GORR ini pasti akan ramai nantinya. Peluang untuk mengelola timbunan menjadi tempat peristirahatan dan menjadi objek wisata bisa menjadi alternatif lain.

“saya yakin jalan ini pasti ramai, dan kalau orang lelah atau sekadar istirahat pasti akan mencari tempat”.

Mendulang Rupiah

Andri mungkin satu dari sekian orang yang merasa dirugikan atas pembangunan jalan GORR tersebut, tapi disisi lain ia merasa diuntungkan juga.

Tanah bekas pekerjaan dari jalan GORR tersebut, ia kelola untuk meraup pundi-pundi rupiah.

“saya dan beberapa kerabat mulai mengelola timbunan itu untuk menjadi tempat wisata di desa ini.”

Spot yang ada di Puncak Mahoni dibangun atas dana swadaya/pribadi. Foto : Dokumentasi Tim 60DTK.Com

Pengelolaan timbunan Andri menjadi tempat wisata baru di Kabupaten Gorontalo, di mulai sejak awal bulan Februari 2018.

“kami mulai mengerjakan dari bulan februari, dan rencana akan kami buka untuk umum pada bulan Maret. Tapi, semua tidak sesuai rencana. Kami membukanya lebih cepat, tepat pada tanggal 23 Februari”. Ujarnya

Pekerjaan timbunan untuk jadi pariwisata membutuhkan modal yang besar. Tapi, Andri mengelolanya secara swadaya, ia tak punya kenalan atau orang yang ingin di mintai kerjasama dalam membangun objek wisata miliknya.

“dana secara pribadi, tak ada bantuan dari manapun. Dari pembuatan kursi kecil, tempat duduk, dan beberapa spot foto dari uang milik pribadi.” Ungkap Andri

Spot untuk tempat berfoto, yang ada di Puncak Mahoni. Foto : Tim Dokumentasi 60DTK.Com

Ide Andri dalam mendirikan objek pariwisata diatas tanah timbunannya itu, ia dapatkan melalui internet. Ia mencari inspirasi dan mencari beberapa contoh tata kawasan objek wisata yang ada.

“ide untuk membuat objek pariwisata ini saya dapatkan dari internet. Saya coba lihat beberapa contoh dan saya coba modifikasi sedikit untuk saya buat lagi di objek wisata yang saya bangun”.

Setelah dibuka untuk umum Andri kelabakan mencari nama untuk tempat wisatanya. Karena ia banyak menanam pohon Mahoni di tanah timbunan tersebut, maka nama objek wisata itu menjadi Puncak Mahoni.

“dulu Bupati Kabgor juga pernah berkunjung, dan menyarankan kepada saya untuk memberi nama tempat ini. Saya langsung terpikir di Puncak Mahoni, karena banyak pohon Mahoni yang saya tanam diatas timbunan tersebut.”

Meskipun objek wisata Puncak Mahoni sudah berjalan sebagaimana mestinya, ada kendala lain yang ditemui Andri. Yaitu , aliran listrik dan air yang belum ada  untuk tempat wisata miliknya.

“saya punya harapan pemerintah juga memberikan perhatian lebih terhadap aliran listrik dan air di Puncak Mahoni ini”. Kata Andri penuh harap.

Tempat istirahat sekaligus tempat nognkrong yang ada di puncak Mahoni. Foto : Tim Dokumentasi 60DTK.Com

Tarif masuk untuk ke Puncak Mahoni ini sangat murah, Andri membuka harga Rp 1.000 saja. ia masih takut untuk menaikan tarif masuk, karena belum mempunyai Perdes tentang objek wisata miliknya untuk mengatur tarif masuk.

“saya akan coba mengusulkan Perdes tentang tarif masuk di Desa, dan ada respon positif. Rencananya tahun depan akan mulai di bahas”.

Para Wisatawan juga bisa membeli atau memesan makanan/minuman melalui warung milik Andri yang ada di Puncak Mahoni. Foto : Dokumentasi Tim 60DTK.Com

Andri mengakui meskipun dengan tarif begitu, ia mulai mendulang keuntungan berkat penimbunan tanahnya tersebut dan hasilnya ia kelola untuk peremajaaan beberapa spot di tempat wisatanya.

“alhamdulillah, hasil dari objek wisata ini sudah lumayan. Para wisatawan juga banyak yang mencari tempat ini, karena promosinya kami bagikan lewat media sosial seperti Faecbook. Dan itu cukup manjur, untuk menarik banyak orang.” Imbuhnya diakhir wawancara. (rds)

QR Code

Tinggalkan Balasan