Vanda, Perawat Relawan bagi Warga Suku Asli di Amazon

60DTK, Internasional : Perjuangan Vanderlecia Ortega dos Santos sangat sulit. Permukiman reyot yang didiami 35 suku, bernama Parque das Tribos, minim pipa ledeng dan listrik di kebanyakan rumah. Ambulans seringkali menolak menjemput warga yang sakit parah karena tidak ada klinik kesehatan umum di dekatnya.

Sementara pandemi virus corona telah mulai menyebar di seluruh Brasil, warga suku asli yang tinggal di dan sekitar kota-kota, terjebak dalam situasi berbahaya. Layanan kesehatan suku asli di negara itu, Sesai, memusatkan sumber daya kepada mereka yang tinggal di wilayah reservasi kesukuan.

Sesai telah melaporkan 10 kematian akibat pandemi di tanah-tanah suku asli, tapi organisasi payung suku asli APIB memperkirakan pekan lalu bahwa pandemi telah menewaskan sedikitnya 18 warga suku asli di Brasil apabila fatalitas di wilayah urban juga dihitung. Jumlah pasti kasus-kasus di desa-desa terpencil di seluruh pedalaman Brasil, sulit dipastikan.

“Orang-orang kami meninggal karena penyakit ini disini dan mereka tidak diakui sebagai warga suku asli oleh negara dan Sesai,” kata Vanda, seorang anggota suku Witoto dari bagian atas sungai Amazon di perbatasan dengan Kolombia.

Sesai telah mengatakan warga suku asli yang tinggal di kota-kota harus menggunakan layanan kesehatan umum Brasil. Seorang Juru Bicara Walikota Manaus mengatakan, kesehatan warga suku asli adalah isu federal dan bukan tanggung jawab pemerintah kota.

Manaus, ibu kota negara bagian Amazonas, mengalami wabah covid-19 paling parah per kapita. Di sana, penyakit itu membuat rumah sakit dan pemakaman kewalahan, serta membuat para pejabat kesulitan menghitung jumlah korban tewas.

Kunjungi Rumah-rumah Warga

Vanda, 32 tahun, lahir di desa Amatura di pinggir sungai dan pindah 10 tahun lalu ke Manaus. Di tempat inilah Ia menjalani pelatihan sebagai perawat. Ia bekerja merawat pasien kanker kulit di sebuah klinik di kota itu.

Tapi sejak wabah dimulai, dia mulai menggunakan waktu luang untuk mengunjungi rumah-rumah warga di komunitasnya, melacak kemungkinan gejala covid-19 lewat grup ‘WhatsApp’ yang dia bentuk.

Pekan lalu dia memonitor sekitar 40 orang dalam pengawasan (ODP). Dia merujuk lima orang dalam kondisi serius ke IGD, termasuk seorang perempuan lansia yang terpaksa dibawa naik mobil karena tidak ada ambulans.

Vanda memberi para pasiennya obat penawar rasa sakit dan obat-obatan dasar lain, sambil memberi nasihat untuk menekan penularan. Dia melakukan kunjungan ke rumah warga sambil mengenakan baju pelindung, sarung tangan dan masker terkadang dengan mengenakan penutup kepala tradisional Witoto yang terbuat dari bulu burung macaw.

Ekonomi Amazon Terdampak Pembatasan Sosial

Kelaparan tiba di masyarakat sebelum virus datang, katanya. Upaya pembatasan sosial yang diberlakukan untuk memperlamban wabah telah merugikan ekonomi lokal dan menghapus pendapatan bagi para perempuan yang membuat kerajinan atau membersihkan rumah-rumah di Manaus, serta laki-laki yang bekerja sebagai tukang bangunan.

“Karena kami tidak mendapat bantuan umum, saya berinisiatif memulai kampanye di media sosial untuk meminta sumbangan makanan dan perlengkapan higienis,” kata Vanda.

Dia juga memulai lokakarya di rumah ibunya dimana para perempuan menjahit masker kain untuk masyarakat, menghasilkan 30 masker sehari dengan satu mesin jahit.

Ketika menteri kesehatan Brasil mengunjungi Manaus pekan ini, Vanda dan dua kawannya menyambutnya dengan protes di luar rumah sakit utama kota itu. Mereka menuntut perhatian medis kepada warga suku asli.

Dia dan dua perempuan lain mengenakan masker yang dibuat ibunya, bertuliskan “Indigenous Lives Matter” atau “Nyawa Orang Suku Asli Berharga.” (rls)

Sumber : VOA Indonesia

Comments are closed.