Diguyur Hujan, Ratusan Masyarakat Bertahan Dengarkan Tauziyah Ustad Das’ad

60DTK-GORONTALO – Meski di bawah guyuran hujan, ratusan masyarakat tetap nampak antusias menyaksikan dan mendengarkan tauziyah dari Ustad Das’ad Latif di Lapangan Taruna Remaja, Kota Gorontalo, Sabtu (15/06/2019).

Berdasarkan pantauan awak media 60dtk.com, pembawaan ceramah yang diselingi canda oleh ustad kondang asal Sulawesi Selatan ini, mampu membuat suasana menjadi penuh tawa, namun tetap syahdu.

Baca juga : Hadir Di Syukuran Pelantikan Wali Kota, Warga Ini Bawa Pulang Motor Baru

Ervina Hulawa, salah satu warga Kelurahan Limba U II, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo yang hadir dalam kesempatan itu, mengaku begitu mengidolakan ustad yang juga dosen di Universitas Hasanuddin Makassar tersebut.

“Makannya tadi walaupun basah dengan hujan, saya tetap bertahan, dan menunggu ustad memberikan ceramah,” tutur Ervina usai acara.

Menurutnya, setelah mendengarkan ceramah islami dari Ustad Das’ad, banyak hal yang dapat dipetik dan dipelajari dalam menuju hidup yang lebih baik.

“Ceramahnya tadi itu memang penuh guyon, tapi masuk, bahkan kena di hati orang yang mendengar,” ungkap Ervina.

Memang, diketahui Ustad Das’ad Latif dalam tabligh akbar di Kota Gorontalo kali ini, menyampaikan sebuah ceramah yang berkaitan dengan cara – cara agar dapat menuju kehidupan yang lebih baik.

“Tidak ada manusia yang tidak punya masalah. Bahkan nabi sekalipun, manusia pilihan, dalam hidupnya juga sering menghadapi berbagai masalah,” kata Ustad Das’ad saat membuka ceramahnya.

“Jadi kalau ada masalah, menghadaplah kepada Allah. Kalau ada masalah, perbaiki salatmu. Jangan bersandar kepada manusia, bersandarlah kepada Allah,” lanjutnya.

Di akhir penyampaiannya, Ustad Das’ad pun mengimbau agar masyarakat Gorontalo, khususnya yang ada di Kota Gorontalo dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah guna memajukan daerah tercinta.

“Membangun Kota Gorontalo, modal utamanya adalah persaudaraan, ukhuwah, dan persatuan. Jangan lagi ada perbedaan di antara sesama masyarakat,” tukasnya.

 

 

Pewarta : Andrianto Sanga
Editor : Nikhen Mokoginta

Comments are closed.