Inilah Alasan Pernikahan Dini Jadi Masalah Sosial

  • Whatsapp

60DTK – Jakarta : Dalam kegiatan Peluncuran Buku “Marrying Young in Indonesia: Voice, Law & Practice” di ruang Soemadipradja & Taher, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (26/11/2018), Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof. Siti Musdah Mulia mengatakan perkawinan anak adalah sumber masalah. Betapa tidak, dari perkawinan anak muncul berbagai persoalan kompleks seperti putus sekolah yang membawa dampak pengangguran, kemiskinan, serta perkawinan dini juga mengakibatkan tingginya tingkat perceraian.

“Perkawinan anak itu adalah isu yang sangat kursial karena dari perkawinan ini muncul berbagai problem sosial yang saling berkelindan (Berkaitan:red) satu sama lainnya di masyarakat. Karena penelitian saya selama bertahun-tahun, bagaimana trafficking, bagaimana pekerja anak, bagaimana buruh migran itu semua muncul karena dia menikah muda, cerai muda, karena menikah muda dia tidak sempat mendapatkan pendidikan, tidak sempat mendapatkan keterampilan, emang dia mau jadi apa? Apa yang kita harapkan dari anak seperti ini? Bagaimana kita berharap mereka akan jadi orang yang berguna di masyarakat, kalau dia mengurus dirinya sendiri tidak bisa,” ungkap Musdah.

Selain itu, Musdah juga mengatakan, faktor yang melatar belakangi tingginya angka perkawinan anak di Indonesia, adalah budaya yang melekat di masyarakat, bahwa makna menikah itu adalah suatu yang membahagiakan. Selain itu, faktor agama juga berperan kuat, khususnya dalam agama Islam, di mana perkawinan anak dilakukan untuk mencegah zinah.

Padahal, Menurut sejumlah pakar, ketika seorang anak yang masih dibawah umur menikah, secara fisik dan mental, ia belum siap.

Pemerintah juga menjadi salah satu penyebab tingginya perkawinan anak di Indonesia. Hal ini dikarenakan tidak adanya undang-undang yang mengatur batas usia menikah di Indonesia. tidak hanya itu, menurut Musdah perlu adanya rekonstruksi budaya melalui pendidikan yang seluas-luasnya, terutama pendidikan di keluarga.

(Sumber : VOA Indonesia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan