Lulusan SMK di Gorontalo Turut Mempengaruhi Angka Pengangguran

60DTK – Gorontalo: Sekretaris Dinas Penanaman Modal, ESDM, dan Transmigrasi, Provinsi Gorontalo, Rugaiyah Biki mengatakan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia bahkan di Gorontalo kurang diserap oleh perusahaan atau dunia pekerjaan. Di akibatkan karena setiap lulusan SMK tidak memiliki kompetensi dan daya saing yang siap kerja. Jumat (15/11/2019).

“Lulusan SMK paling banyak tidak terserap. Yah, harus kita lihat lagi dari segi pendidikan. Kita harus melihat bahwa sistem pendidikan kita harus mampu menjawab tantangan atau pasaran bahkan dunia industri pekerjaan. Artinya dunia pendidikan di Indonesia khususnya SMK, tidak mampu menjawab Kebutuhan di perusahaan dan Industri,” ujar Rugaiyah saat ditemui wartawan di kantornya.

Rugaiyah juga mengatakan, sekiranya ada 14.000 SMK yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia belum mampu menjawab tantangan tersebut.

“Sama dengan SMK di Gorontalo juga demikian belum mampu menjawab tantangan lapangan pekerjaan bagi lulusannya. Dan sebenarnya juga baik perusahan dan industri merupakan lapangan pekerjaan yang harus di isi oleh lulusan SMK,” paparnya.

Karena menurut Kadis Penanaman Modal, ESDM, dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo, Bambang Tri Handoko, sejatinya SMK ini dibuat untuk memenuhi kuota perusahaan dan industri. Dalam artian tenaga lulusan SMK harusnya sudah siap dipakai untuk bekerja di perusahanan.

“Tapi kenyataan sekarang angka pengangguran juga terus ditambah oleh lulusan SMK tadi yang belum siap kerja.  Dan lulusan SMK juga terus menyumbang angka pengangguran di Indonesia khususnya di Gorontalo,” jelasnya.

Kata Amir Hadju, selaku Kabid Nakertrans, untuk lapangan pekerjaan di Gorontalo sebenarnya sudah ada dan membuka peluang bagi siapa saja. Tapi, lagi-lagi kendalanya itu mengenai kompetensi dan daya saing tadi.

“Saya berikan contoh, di Gorontalo ada 12 perusahaan yang telah siap sedia untuk menyediakan lowongan pekerjaan, tapi jujur saja lulusan dari SMK belum memiliki kompetensi yang mumpuni untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. bahkan gajinya cukup tinggi untuk dibayarkan, perusahaan itu mau menggaji hingga 12 juta per bulannya,” urai Amir Hadju kepada Wartawan.

ia juga menegaskan, bahwa paling banyak lulusan SMK menyumbang lulusan yang tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Namun meskipun mengalami masalah dalam kompetensi dan daya saing, pihaknya telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kapasitas lulusan SMK tersebut.

“Kami sudah membuat MoU dengan lembaga pendidikan seperti SMK terkait peningkatan kompetensi yang memadai bagi lulusan, agar perusahaan untuk mencari tenaga kerja tidak kelabakan. Kurang lebih bulan kemarin kami sudah membuat pertemuan dengan kepala sekolah dan perusahaan-perusahaan yang memerlukan tenaga pekerja. Artinya melalui MoU ini akan ada lulusan SMK yang sudah memiliki kompetensi dan siap bekerja,” tutupnya dalam akhir wawancara.

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.