Pedagang Bambu dan Daun Woka Menjalar di Kawasan Tugu Ketupat

  • Whatsapp
Suasana di kawasan Tugu Ketupat Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, tempat para pedagang menjual bambu dan daun woka, Jumat (6/05/2022). (Foto: Andi 60dtk)

60DTK, Kabupaten Gorontalo – Perayaan lebaran ketupat di Provinsi Gorontalo tinggal menghitung hari. Hal yang menarik, momen ini tidak hanya membuat masyarakat sibuk melakukan berbagai persiapan di rumahnya masing-masing, tapi juga untuk mencari keuntungan.

Pantauan awak media, sejumlah warga mulai menjual bambu dan daun woka yang biasa digunakan untuk memasak nasi jaha (nasi bulu) dan membungkus dodol, sudah menjalar di kawasan Tugu Ketupat Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, Jumat (6/05/2022).

Bacaan Lainnya

Beberapa di antara pedagang ini berasal dari Kecamatan Limboto Barat, tapi ada juga yang dari wilayah lainnya di Kabupaten Gorontalo. Untuk harga jual bambu dan daun woka sendiri beragam, tergantung dari besar dan kecil ukurannya.

Bambu dibanderol dengan harga di kisaran Rp8.000 sampai Rp10.000 per ujung. Sementara daun woka Rp1.250 sampai Rp2.000 setiap lembarnya.

“Saya memang sudah biasa jualan seperti ini setiap saat dekat lebaran ketupat. Tapi ini baru hari pertama saya jualan,” aku salah satu pedagang, Mohammad (37).

Mohammad membeberkan bahwa barang dagangan yang dijual itu didapatkan dari hutan. Ia butuh waktu satu hari untuk mencari dan mendapatkan beberapa ujung bambu dan daun woka yang layak dijual.

“Ini harganya sudah lebih murah jika dibanding tahun-tahun lalu (2019). Seperti daun woka (ukuran besar) harganya Rp5.000. Tapi karena tahun ini masih ada pandemi, harganya menyesuaikan saja,” ujarnya.

Hasni Mohammad (44), pedagang lainnya yang ditemui awak media juga mengaku bahwa dirinya juga sering berjualan bambu dan daun woka di tempat tersebut saat jelang lebaran ketupat.

“Ini sudah empat hari saya jualan. Pembeli cukup ramai, tapi masih lebih ramai tahun 2019 lalu. Tahun 2020 dan 2021 saya tidak jualan karena pandemi,” ungkap warga Kelurahan Tilihuwa, Kecamatan Limboto itu.

 

Pewarta: Andrianto Sanga

Pos terkait