Perjuangan Driver Ojol demi Keluarga di Tengah Pandemi Covid-19

60DTK, Gorontalo – Dari ufuk timur terlihat sang surya mulai keluar, suara adzan mulai menggema dari seluruh menara masjid di Kota Gorontalo. Ini menandakan bahwa sebentar lagi manusia akan keluar beraktivitas.

“Assalamualaikum kak, dari jam berapa di sini?,” sapa awak media kepada salah satu driver Ojek Online (Ojol) yang saat itu menunggu pelanggan pertamanya di salah satu mini market 24 jam di Kota Gorontalo.

“Saya dari jam 4 lewat di sini, menunggu penumpang (pelanggan) pertama,” jawab Driver Ojol yang akrab disapa Opyan itu.

Driver Ojol ini nampaknya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari. Benar saja setelah beberapa menit berbincang, Ia tengah mengejar target capaian di aplikasi Ojol yang digunakan.

expo

“Ada kejar target karena corona tambah dengan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), susah sekali. Bayangkan saja satu hari sebelum corona (Covid-19) bisa melebihi target,” curha Opyan.

Perjuangan Driver Ojol demi Keluarga di Tengah Pandemi Covid-19
Driver Ojek Online, Opyan mengenakan atribut transportasi online. Foto: Hendra/60dtk.

Dari sini kita melihat tuntutan kebutuhan setiap hari membuat siapa saja bekerja keras. Belum lagi profesi seperti ini boleh dikata hanya pas-pasan.

“Saya ada istri dengan anak di rumah, harus saya nafkahi. Jika hanya membawa uang 100 atau 200 ribu habis beli beras, ikan dengan rempah-rempah. Belum untuk anak yang kebiasaanya membeli snak (sejenis makanan ringan),” ungkap Opyan.

Pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berkesudahan, telah merambat ke berbagai sektor. Tidak hanya kepada mereka sebagai pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), tetapi juga bagi Driver Ojol.

“Dampak corona memang sangat terasa, tidak tahu kapan akan berakhir. Saya ingin sekali corona ini hilang, walaupun saya takut dengan jarum suntik, tetap saya berani ikuti anjuran pemerintah untuk divaksin,” ujarnya.

Percakapan awak media dengan Driver Ojol itu berakhir seiring dengan suara Iqamah Subuh. Kami pun bergegas untuk menunaikannya.

“Saya mau Salat Subuh dulu, sudah Iqamah. Ayo sama-sama kita salat,” ajaknya.

Terselip hikmah dari perbincangan yang terbilang cukup singkat ini. Seburuk apapun kondisi yang kita jalani, jangan pernah menyerah untuk bekerja keras untuk keluarga yang sedang menunggu di rumah.

Penulis: Hendra Usman

Ikuti Kami

Ikuti perkembangan informasi disekitar anda melalui media sosial kami. Ubah hidupmu dengan membaca berita 60dtk.com

Related Articles