Melihat Catatan Anthony Reid: Persebaran Wabah Di Indonesia Abad Ke-16 & 17

Oleh: Andris K. Malae, pengajar di Jurusan Pendidikan Sejarah, UNG

60DTK, Opini – 2020 merupakan tahun yang kelam bagi dunia, termasuk Indonesia. Bagaimana tidak? Memasuki awal tahun ini, dunia diserang salah satu virus yang dikenal dengan nama Covid-19, yang proses penyebarannya sangat cepat. Jika tidak ditangani dengan sungguh-sungguh, orang-orang yang terpapar virus ini berisiko mengalami kematian. Oleh karena itu, dengan cepat Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai macam regulasi agar secara holistik proses penyebaran Covid-19 dapat dibatasi.

Di Nusantara (penyebutan sebelum ‘Indonesia’) khususnya, kasus seperti ini bukan yang pertama kali. Sejarah mencatat sudah beberapa kali virus dengan gejala mematikan seperti ini muncul dan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat.

Baca juga: Keras Pun Kecolongan

Namun, semua penyakit pasti ada obat penawar. Hanya tergantung pada kedisplinan dalam berobat dan berikhtiar kepada Tuhan, agar virus seperti ini segera dijauhkan. Selain itu, tujuan dari tulisan ini semata-mata sebagai refleksi berbagai macam musibah wabah dan penyakit endemik yang pernah terjadi di Indonesia.

 

Wabah dan Penyakit Endemik Abad ke  16 dan 17

Reid (2014) mencatat bahwa penyakit endemik tersebar di beberapa wilayah di Nusantara, di antaranya daerah Maluku – Ternate tahun 1558; Ambon tahun 1564 dengan penyakit cacar yang sangat mematikan; daerah Banda (Maluku) tahun 1618 dengan wabah demam; daerah Jawa, dengan penyakit dada yang dalam 1 jam mampu membunuh 1/3 penduduk Banten dan 2/3 di beberapa daerah Jawa Tengah; Makassar, adanya serangan epidemi yang mematikan kurang lebih 60.000 orang dalam kurun waktu 40 hari, serta wabah penyakit lainnya seperti kusta dan sifilis.

Sebagian wabah dan penyakit ini muncul dengan proses penularan dari satu orang ke orang lain, sama halnya dengan Covid-19. Oleh karena itu, dalam sejarah tercatat bahwa penyakit dengan proses penularan seperti ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan jalan untuk memutuskan rantainya adalah dengan membatasi interaksi atau menjaga jarak antara satu orang dengan lainnya. Di zaman ini, kondisi tersebut dikenal dengan nama social distancing.

Baca juga: Tentang Karakter Mahasiswa Gorontalo: Suatu Perdebatan Yang Keliru

Dari berbagai macam wabah dan penyakit endemik yang muncul di Nusantara, hanya penyakit cacar dan sifilis yang paling menakutkan masyarakat kala itu. dalam catatan Reid, pada abad ke – 16 dan ke – 17, cacar merupakan wabah yang sangat ditakuti. Biasanya jika penyakit ini telah menyerang sebuah desa, untuk membatasi penularannya, maka orang-orang yang masih sehat harus meninggalkan desa tersebut, sehingga dapat terhindar dari penularan, karena sifat penyakit ini yang mudah menular.

Cacar yang muncul pada abad ke – 17, penularannya lebih ke anak-anak yang belum memiliki sistem kekebalan tubuh atau imun. Faktanya, Covid-19 yang menyebar saat ini juga mudah menular pada orang-orang yang tidak memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat. Maka untuk mengatasinya, perlu ada upaya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi obat dan vitamin, atau menggunakan metode alam, dengan cara berjemur di bawah sinar matahari pada pukul 10.00 AM.

Baca juga: Meretas Prasangka Seorang Kawan: Sebuah Balasan Untuk Noval Karim

Dalam catatan Reid terkait penularan cacar pada sebuah desa, agar tidak ikut tertular dengan yang lainnya, sebagian masyarakat yang masih sehat meninggalkan desa.

Sistem ini sama dengan konsep social distancing. Bedanya, jika Covid-19 hanya dianjurkan untuk berdiam di rumah saja, ketika penyakit cacar merebak, masyarakat yang masih sehat justru dianjurkan untuk meningalkan desa atau wilayah tempat tinggalnya. Selain itu, Covid-19 telah ditetapkan sebagai pendemi (wabah skala internasional), sementara cacar dan jenis penyakit lain yang terjadi pada abad ke – 16 dan 17 masih bersifat endemik (skala nasional). (rds)

Comments are closed.