Tentang Karakter Mahasiswa Gorontalo: Suatu Perdebatan yang Keliru

Oleh: Said Muhammad, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Gorontalo

60DTK, Opini – Baru-baru ini, jagat facebook mendadak ramai dengan penolakan atas pergeseran anggaran beasiswa yang dilakukan Pemerintah Provinsi Gorontalo. Konon, kebijakan itu dianggap tidak sesuai, atau cenderung tidak mempertimbangkan apa yang menjadi aspek-aspek lainnya -alias terburu-buru. Sebagai bentuk penolakan atas kebijakan itu, puluhan mahasiswa membanjiri media sosial dengan twibbon yang menggunakan embel-embel tagar Kami Kecewa Dengan Gubernur Gorontalo.

Belum sampai sehari, gerakan penolakan virtual mahasiswa Gorontalo ini menjadi booming diperbincangkan di berbagai kalangan, dengan beragam perspektif. Pro kontra menjadi satu keniscayaan dalam perdebatan via media sosial itu. Tak tanggung-tanggung, seluruh pihak ikut berbaur dalam mengungkapkan pandangannya masing-masing.

Baca juga: Meretas Prasangka Seorang Kawan: Sebuah Balasan Untuk Noval Karim

Dari kalangan masyarakat awam, misalnya, penolakan yang diinisiasi mahasiswa itu cenderung menambah-nambah beban pemerintah (dalam bahasa mereka: tambah-tambah urusan), dan hanya mementingkan satu golongan; yakni mahasiswa itu sendiri. Komentar-komentar semacam  ini, memang tak bisa dielakkan, apalagi menjadi diskusi di salah satu grup virtual lokal, Portal Gorontalo. Sebab, tidak sedikit unggahan yang masuk dalam grup itu, berakhir menjadi bahan “olok-olok”.

Alih-alih mendapat dukungan dari masyarakat maya, gerakan itu justru disambut dengan berbagai hujatan yang bikin sesak dada.  Karena ingin meluruskan nalar publik, beberapa mahasiswa yang tadinya menolak kebijakan pemerintah, melakukan semacam “klarifikasi” melalui status panjang di facebook.

Baca juga: Regenerasi Gerakan Yang Buruk

Berbeda dari tanggapan-tanggapan liar yang lalu-lalang di beranda facebook, beberapa mahasiwa justru mananggapi gerakan penolakan virtual itu dengan narasi-narasi yang lumayan baik. Hal ini bisa dilihat dari beberapa opini yang terbit di media-media online. Tanggapan melalui media online itu, “menyorot” gerakan penolakan virtual sebagai gerakan mahasiswa yang (menurut tafsir saya atas opini itu) ”nihil dan minim  subtansi”.

Kritik itulah yang belakangan menjadi asal-muasal berdirinya dua kutub di kalangan mahasiswa Gorontalo. Yang menolak relokasi anggaran beasiswa, menampakkan psikologi sebagai golongan yang peduli dengan hak-hak rakyat. Sementara yang mempertanyakan gerakan virtual itu dituduh oleh kelompok pertama sebagai “antek-antek penguasa”, karena berusaha menggagalkan penolakan atas kebijakan pemerintah yang menggeser beasiswa.

Baca juga: Kebiadaban Di Bahtera Asing

Namun, dalam polemik ini, saya tidak ingin berdiri di atas dua kelompok itu, dengan alasan-alasan: pertama, saya tidak mengikuti dari awal pembicaraan atas rencana penolakan relokasi anggaran beasiswa; kedua, saya juga tidak ikut memberikan opini atau mempertanyakan gerakan penolakan itu; dan terakhir, saya tidak memiliki validasi data dan informasi atas klaim-klaim yang terlanjur menjadi perbincangan dan perdebatan.

Terlepas dari perdebatan-perdebatan itu, saya justru melihat sesuatu yang lain dan lebih ‘bernas’ dari sekadar perdebatan-perdebatan yang mengakar pada kecenderungan egoisme kelompok dan komunikasi – dialektis yang mati. Dan benar saja, meski terkungkung dalam perdebatan yang tidak sehat, saya melihat harapan baru dalam tubuh mahasiswa di Gorontalo; “semangat kolektif dan sikap kritis”.

 

Ruang Virtual Sebagai Alternatif

Adalah suatu fakta menarik bahwa ruang virtual dapat mengoneksikan kita dengan siapa pun tanpa sekat dan batas-batas. Hal ini lah yang menjadi alternatif untuk mengonsolidasikan massa, melakukan setting, serta perencanaan-perencanaan teknis dari harapan baru gerakan mahasiswa.

Akibat kemajuan teknologi, proses komunikasi – interaksi kita menjadi semakin luas. Kita bisa berhubungan dengan siapa saja dan kapan saja, selama memiliki akses internet. Dan di sini lah semangat kolektif hidup dan membentuk sikap kritis terhadap suatu apa pun; termasuk setiap kebijakan dan narasi-narasi akademis yang keliru.

Baca juga: Postingan Instagram Dan Pemikiran ‘Liar’ Bersama Yuval Noah Harari

Jika kita telisik, kolektivitas mahasiswa Gorontalo akhir-akhir ini berawal dari silaturahmi melaui grup-grup whtasapp oleh beberapa mahasiswa. Hal ini lah yang kemudian membentuk wadah baru tanpa sekat latar belakang organisasi masing-masing individu. Namun di sisi lain, wadah baru ini juga bisa menjadi alasan kita (mahasiswa) menjadi terpecah akibat miskomunikasi.

 

Lagi-Lagi Tentang Kritik

Tidak bisa dipungkiri, kebanyakan dari kita sering gagal memahami apa yang disebut kritik. Hal ini terlihat jelas ketika gerakan penolakan menggunakan twibbon dan tagar Kami Kecewa Dengan Gubernur Gorontalo, dikomentari oleh mahasiswa lainnya. Sering kali, komentar yang diangap mengancam, disebut sebagai “kritik” yang mengancam.

Padahal, jika kita memahami urgensi kritik tersebut, kita akan berada pada satu konklusi bahwa: kritik adalah upaya mengevaluasi atas apa yang dilakukan, dan sekaligus apresiasi atas apa yang dilakukan. Namun, kita—mahasiswa di Gorontalo—gagal untuk mengambil pemahaman tesebut.

Baca juga: Olongia Dan Kuasa, Potret Kiprah Perempuan Gorontalo 

Dan parahnya lagi, kita sering membalas kritik itu dengan menjadikannya olok-olok, dan mencari celah ‘bukan’ terhadap kritiknya, tapi menguliti dan menelanjangi “personality” orang yang melakukan kritik. Jelas, hal ini adalah sikap antikritik dan menjurus kepada sikap pseudo intelektual. Selain tidak fair, hal ini juga tidak sehat dalam tubuh mahasiswa/akademisi. (rds)

 

Penulis: Said Muhammad, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Gorontalo