Olongia dan Kuasa, Potret Kiprah Perempuan Gorontalo 

Sebuah review buku dari Abd. Firman Bunta

Judul Buku : Menggerakan Roda Zaman
Pengarang : Basri Amin
Tahun terbit : 2016
Ketebalan buku : V+176 halaman
ISBN : 978-979-1251-15-0
Peresensi : Abd. Firman Bunta, Anggota Biasa HmI & Perantau di Tanah Gorontalo  

60DTK-Editorial: Perjalanan sejarah bangsa sangat ditentukan oleh kiprah generasinya. Kiprah perempuan pun turut andil dan mendinamisasi realitas sejarah perjuangan bangsa. Dalam skala nasional misalnya, sering kita temukan sosok perempuan seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Kartini, dan lain – lain. Di samping itu, dalam skala lokal pun, perubahan justru dinahkodai oleh sosok perempuan. Ini menunjukan realitas perubahan itu tidak melulu dialamatkan pada laki – laki semata sebagai figur utama, melainkan juga perempuan, sebagai satu kenyataan yang tak tersisihkan dari jalannya perubahan sejarah.

Sejak awal, masyarakat Gorontalo ternyata telah mengenal tentang emansipasi dan kesamaan derajat antara perempuan dan laki – laki dalam urusan publik. Perjalanan sejarah masyarakat Gorontalo memiliki kekhasannya sendiri. Nyatanya, kekhasan tersebut terletak pada sang figur pemimpin perempuan (Olongia) yang justru menjadi penentu perubahan sejarah mereka.

Menggerakkan Roda ZamanRujukan Sejarah Perempuan Gorontalo, narasi buku ini mengantarkan kita pada suasana daya pikat perempuan, bahwa perempuan Gorontalo sudah tampil dan mengambil peranan penting sejak paruh abad ke – 15. Peran perempuan – perempuan  Gorontalo ini pun memberi sinyalemen yang kemudian menjadi sebuah noktah local knowledge (pengetahuan setempat), sehingga kita akan melihat lebih jauh ke dalam betapa kepribadian masyarakat Gorontalo, mencerminkan adanya posisi sentral perempuan dalam percaturaan kekuasaan dan ruang publik.

Baca juga: Tersungkurnya Penguasa Angkuh TANPA HATI

Buku ini sebagaimana ulasan penulisnya, menghadirkan sebuah rekonstruksi sejarah kepemimpinan perempuan dalam dinamika dan tradisi kekuasaan Gorontalo di masa lalu. Nampaknya, laju perubahan kekuasaan lebih dipengaruhi oleh figur pemimpin perempuan dengan jumlah yang relatif dominan. Tak hanya itu, ulasan lain yang diketengahkan ialah bagaimana mereka, perempuan – perempuan Gorontalo tersebut dapat bertahan melalui proses sosial, budaya, dan politik yang membuat mereka bisa berkiprah dalam peta kekuasaan di Gorontalo.

Kilas balik kehadiran kerajaan Gorontalo merupakan konfederasi dari kerajaan tradisional yang membentuk komunitas kecil (linula). Komunitas ini terdiri dari 17 linula  dengan masing – masing kelompoknya dipimpin oleh seorang Olongia, di antaranya dipimpin oleh ratu. Tanpa menyampingkan kerajaan – kerajaan sebelumnya, telah berdiri beberapa kerajaan tua yang mendahului posisi kerajaan Gorontalo. Misalnya terdapat Kerajaan Wadda dan Suwawa yang terletak di kaki Gunung Tilongkabila. Selain itu ada pula kerajaan Limutu (Limboto) yang berada di sekitar Danau Limboto, serta kerajaan Bolango, Atinggola, dan Boalemo. Lima kerajaan ini pada akhirnya membentuk dan mendeklarasikan satu kearifan persaudaraan yang kita kenal limo poholaa (lima ikatan perasudaraan).

Dari manuskrip sejarah Gorontalo, didukung pula oleh letak geografisnya, kenyataan tersebut memicu konfigurasi politik internal kerajaan dan memantik terjalinnya hubungan dagang antara kawasan di wilayah – wilayah sekitar. Situasi jalinan rute ekonomi dan politik ini, saluran islamisasi merupakan satu indentitas kultural yang tak terelakkan. Gorontalo di abad ke – 16 masuk ke dalam peta perdagangan Asia Tenggara. Itu sebabnya, harmoni perdagangan maritim terjalin secara intensif dengan beberapa kekuasaan di wilayah – wilayah penyangga sekitar. Misalnya, kita temukan harmonisasi perdagangan jalur Ternate berkisar 1500 M dan jalur Makassar 1600 M. Di saat yang bersamaan, harmonisasi perdagangan tersebut membawa asimilasi dan afirmasi kultural masyarakat Gorontalo lewat terbukanya saluran  islamisasi.

Baca juga: Cerita Dari Sampul Belakang & POTOH, Napas Terakhir Perang Ideologi

Bagian pertama buku ini menyajikan formulasi kerajaan melalui proses islamisasi dan konfederasi yang kian terjadi di penghujung abad ke – 16. Peranan raja Amay lewat jalinan kerja sama antara Kerajaan Gorontalo dan Kerajaan Palasa di Teluk Tomini (Sulawesi Tengah) terbangun secara intensif. Pada kesempatan lain, ikatan kerja sama juga memengaruhi tatanan sistem kerajaan, sehingga memberikan dampak yang signifikan dan membawa corak Islam sebagai sendi utama kehidupaan kerajaan Gorontalo.  Alhasil, kerajaan di wilayah sekitar Teluk Tomini rentan terhadap pengaruh Islam dari tanah kerajaan Ternate. Putri Owutango lah, penentu utama terjadinya transformasi nilai – nilai ajaran Islam ke dalam kehidupan kerajaan, melalui perkawinannya dengan raja Amay. Perubahan yang terjadi secara signifikan itu memcerminkan kekhasan tersendiri, betapa figur perempuan cukup memberi dampak dinamika kultural kerajaan. Dengan kata lain, perempuan dan kekuasaan justru menghadirkan indentitas kebudayaan.

Perempuan dan kekuasaan telah membawa coraknya yang semakin mengemuka dalam tradisi kerajaan. Ini nampak terjalin di saat beberapa unifikasi kerajaan terbentuk melalui perkawinan antara raja dan putri kerajaan. Misalnya Raja Wolanga (Gorontalo) dan Ratu Moliye (Limboto). Di samping itu, untuk Paguyaman dan Dempe, terdapat pula unifikasi melalui perkawinan Raja Bayahio dan Putri Wupidati. Oleh karena itu, jelas bahwa perempuan juga menempati ruang jalannya kekuasaan dalam sirkulasi sejarah masyarakat Gorontalo. Putri Rawe misalnya, meskipun sebagai seorang permaisuri raja, sosoknya menempati kedudukan sentral dalam pemahaman sejarah masyarakat Gorontalo. Kiprahnya telah membawa suasana kewibawaan kenegaraan dan kebudayaan Gorontalo melalui gerakan emansipasi kewibawaan kerajaan (hlm 49-51).

Sebagai sebuah rujukan feminisme di masa lalu, bagian kedua buku ini mencoba menghadirkan prestasi kepemimpinan perempuan Gorontalo di masa lalu. Sebut saja, Olongia Yilahudu. Seorang ahli strategi yang bijak dan berhasil mengorganisir beberapa kerajaan kecil (linula) di sekitar Gorontalo. Selain itu, yang menakjubkan untuk masanya, raja pertama Gorontalo (Hulontulangi) pun adalah seorang perempuan, Putri Bulaida (1360-1385). Tak kalah pentingnya, di Limboto kita mengenal pula kebesaran sosok Mbui Bungale  dan Ratu Tolanghula sebagi ratu pemersatu Limboto (1330). Prestasi kepemimpinannya sejak awal, Ratu Tolanghula mencoba membangun unifikasi kerajaan antara Limboto dan Suwawa ke dalam konfederasi U Duwulo Mulo, sarekat yang pertamam (hlm 51-54).

Baca juga: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Keunggulan Mbui Bungale sebagai pembesar kerajaan terlihat ketika meletakkan tata negara melalui jalan diplomasi dan keamanan. Ini terbukti dari peran komunitas Wuwabu (kelompok netral antar kerajaan) dalam menjaga keseimbangan (bibia), kesatuan (huhuta), dan keserasian (timenga), di lintas limo poholaa kerajaan Gorontalo, Limboto, Suwawa, Bolango, dan Atinggola. Suatu ketika, komunitas Wuwabu dengan kekuatan diplomasinya, berhasil membawa dan memulangkan Putri Ntobango dan Putri  Tilaya dari tawanan Gowa. Dikarenakan Gowa dalam perang saudara Gorontalo dan Limboto, Gowa berpihak pada kerajaan Gorontalo (hlm 55-60).

Pada periode yang lumayan panjang, abad ke – 20 dalam bagian ketiga buku ini, tampaknya juga indentitas kultural perempuan dan ruang publik masih terintegrasi dalam sinopsis perjuangan menggapai kemerdekaan. Kita bisa menyaksikan hadirnya perempuan – perempuan Gorontalo dalam merumuskan gerakan – gerakan emansipasi. Mereka tak kalah hebatnya dengan saudari – saudari mereka yang berada di pulau Jawa, Sumatra, dan lain – lain. Perempuan – perempuan Gorontalo dengan gagasan pemikirannya berhasil mendirikan organisasi modern sebagai langkah aspiratif perempuan pribumi pada umumnya. Di masa ini, ada relatif banyak tokoh perempuan yang terlibat. Mereka mendirikan organisasi yang bergerak di bidang sosial maupun usaha untuk mencapai kemerdekaan, sebut saja Setia Ibu, Gerakan Kebangsaan Wanita (GERKIWAN), yang dipelopori oleh Ina Datau, Ruida Intan Uno-Monoarfa, Aisa Wartabone, Saripa Hala dan lain sebagainya.

Kepeloporan perempuan – perempuan Gorontalo dalam gerakan aliansi kebangsaan di abad 20 ini, selain mendirikan organisasi pergerakan, tidak ketinggalan juga wacana dan diskursus intelektual. Hadirnya komunitas Taman Kepoetrian, membawa pikiran – pikiran perempun Gorontalo yang sangat signifikan mewarnai media cetak Soeruan di tahun 1941. Putri Sedar adalah sosok figur yang sering tampil dalam majalah Soeruan ini. Dalam catatan lain, bagian ketiga buku ini menggali arti pentingnya organisasi perempuan Gorontalo terhadap perjuangan melewan hegemoni aparatur Belanda. Organisasi wanita pertama di Gorontalo tahun 1920, De Gorontalosche Mohammedansche Vrauwen Vereniging  melalui organisasi Wanita Islam Gorontalo dan disusul oleh Putri Setia 1928 pun tampil. Kenyataan sejarah ini setidaknya menegaskan dan memperlihatkan kepada kita peran perempuan Gorontalo di dunia pemikiran yang sangat menentukan jalannya patriotisme dan nasionalisme di tingkat lokal, mengingat kesan umum bahwa organisasi perempuan hanya berkisar di wilayah Jawa dan Sumatra.

Baca juga: Monolog, Puisi, Dan Lagu Sendu Dalam Refleksi GESTAPU Di Akhir September

Sampailah kita pada sebuah kesimpulan kepiawaian perempuan – perempuan Gorontalo yang selalu mengisi kiprah semangat juang dan ketegaran jiwa yang tinggi dalam perjalanan kebudayaan dan kebangsaan kita. Perempuan dan kekuasaan adalah satu hubungan yang integral dalam tatanan sosial budaya masyarakat Gorontalo. Sudah tentu kewibawaan dan predikat perempuan – perempuan Gorontalo cukup memberikan nuansa kearifan untuk diwariskan pada generasi hari ini dan akan datang. (rds)

 

Editor: Nikhen Mokoginta

Comments are closed.