Sebulan Setelah PENAS, Gorontalo Malah Jadi Daerah dengan Harga Beras dan Minyak Goreng Termahal di Indonesia

60DTK, Gorontalo : Di tengah gaung keberhasilan penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan 2026, masyarakat Gorontalo masih harus menghadapi kenyataan pahit. Berdasarkan data **Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS)** per 22 Juli 2026, Gorontalo tercatat sebagai provinsi dengan harga minyak goreng pasar tradisional dan beras pasar modern tertinggi di Indonesia.

 

Bacaan Lainnya

Data PIHPS menunjukkan harga minyak goreng di pasar tradisional Gorontalo mencapai Rp27.000 per kilogram pada 20 Juli 2026, kemudian naik menjadi Rp27.100 per kilogram pada 22 Juli 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh provinsi di Indonesia.

 

Sementara itu, harga beras di pasar modern bertahan di angka Rp20.250 per kilogram selama tiga hari berturut-turut, yakni 20 hingga 22 Juli 2026. Meski stabil, harga tersebut juga menjadi yang tertinggi secara nasional.

 

Sebagai perbandingan, harga beras pasar modern di Jawa Tengah hanya berkisar Rp16.850 hingga Rp16.950 per kilogram, atau sekitar Rp3.300 lebih murah dibandingkan Gorontalo. Adapun harga minyak goreng pasar tradisional termurah tercatat di Sulawesi Barat sebesar Rp23.250 per kilogram, terpaut sekitar Rp3.850 dari harga di Gorontalo.

 

Temuan ini menjadi perhatian karena muncul hanya sekitar satu bulan setelah Gorontalo menjadi tuan rumah PENAS, agenda nasional yang selama ini diproyeksikan sebagai etalase kemajuan sektor pertanian dan perikanan.

 

Meski demikian, tingginya harga pangan tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan penyelenggaraan PENAS. Harga di tingkat konsumen dipengaruhi banyak faktor, di antaranya biaya logistik, rantai distribusi, ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta keseimbangan antara produksi dan permintaan.

 

Namun, data tersebut menunjukkan bahwa tantangan mendasar dalam tata kelola pangan di Gorontalo masih belum teratasi. Momentum besar di sektor pertanian belum diikuti dengan kondisi harga kebutuhan pokok yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

 

Ke depan, peningkatan produksi perlu dibarengi dengan pembenahan sistem distribusi, efisiensi logistik, serta penguatan pasokan lokal agar manfaat pembangunan sektor pertanian benar-benar dirasakan masyarakat melalui stabilitas harga pangan.

Pos terkait