Sudah Sembilan Hari Harga Beras Gorontalo Termahal di Indonesia, Pemprov Tidak Punya Solusi? 

60DTK.COM, Gorontalo : Harga beras di pasar modern Gorontalo masih bertahan di angka Rp20.250 per kilogram berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Selasa, 28 Juli 2026. Angka tersebut menjadikan Gorontalo sebagai provinsi dengan harga beras tertinggi di Indonesia selama sembilan hari berturut-turut sejak 20 Juli 2026.

Harga beras Gorontalo tercatat lebih tinggi dibanding Papua Rp20.100 per kilogram, Sumatera Barat Rp19.700, Sulawesi Tengah dan Papua Barat Rp18.450, serta Kalimantan Selatan Rp18.050. Sementara harga beras termurah nasional berada di Jawa Tengah, hanya Rp16.900 per kilogram.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini terjadi di tengah musim kemarau panjang yang berdampak pada produksi gabah petani lokal. Kepala Dinas Kumperindag Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka, sebelumnya menyebut penurunan produksi akibat kemarau sebagai salah satu penyebab kenaikan harga pangan.

Meski penyebabnya telah diidentifikasi, hingga kini belum terlihat dampak nyata dari langkah-langkah yang sebelumnya disampaikan pemerintah daerah, seperti pengendalian distribusi di pelabuhan, penambahan lahan penumpukan kontainer, maupun perbaikan distribusi BBM.

Jaminan stok dari Bulog Gorontalo sebesar 2.400 ton hingga Desember 2026 juga belum mampu menahan harga di pasar modern. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya persoalan pada distribusi atau mekanisme harga di tingkat pedagang.

Tidak hanya beras, tiga komoditas strategis lainnya juga masih tercatat sebagai yang termahal secara nasional, yakni:

  • Minyak goreng: Rp27.900/kg
  • Telur ayam: Rp55.900/kg
  • Daging ayam: Rp61.450/kg

Seluruh harga tersebut merupakan data PIHPS per 28 Juli 2026 dan menempatkan Gorontalo di posisi tertinggi nasional untuk keempat komoditas tersebut.

Situasi ini dinilai memberi tekanan serius terhadap daya beli masyarakat. Pengamat dan pelaku sektor pangan menilai pemerintah daerah perlu segera melakukan langkah konkrit.

Seperti operasi pasar murah, percepatan distribusi stok cadangan, dan penguatan pengawasan rantai distribusi, mengingat dampak kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Pos terkait