Serba-serbi Pasar Senggol di Kabgor Setelah “Hilang” Dua Tahun

  • Whatsapp
Suasana malam pertama Pasar Senggol di Terminal Limboto, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/04/2022). (Foto: Andi 60dtk)

60DTK, Kabupaten Gorontalo – Cuaca pada malam itu memang tidak cukup cerah. Pada siang dan sore hari, beberapa wilayah di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, sempat diguyur hujan sedang. Meski begitu, kondisi ini tak menyurutkan keinginan masyarakat untuk datang di malam pertama Pasar Senggol Limboto, Sabtu (16/04/2022).

Hal ini wajar saja. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir sejak tahun 2020, penyelenggaran pasar senggol di Terminal Limboto tak pernah mendapat izin dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo. Sebabnya, tidak lain karena pada waktu itu kasus penularan covid-19 masih tinggi-tingginya.

Bacaan Lainnya

“Saya sudah mencanangkan tahun ini (2022) adalah tahun kebangkitan. Untuk itu, pasar senggol di Kabupaten Gorontalo kita laksanakan supaya ekonomi dapat berjalan dan bangkit,” ujar Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo pekan lalu.

Kebijakan pemerintah tersebut pun disambut antusias oleh masyarakat. Buktinya, ratusan pengunjung mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua, ramai-ramai datang dan memadati hampir setiap sudut Teminal Limboto.

Wajah setiap pengunjung tampak tak henti-hentinya menoleh ke arah kiri, kanan, untuk melihat barang-barang yang mungkin mereka cari dan sukai. Bahkan kaki mereka hampir tidak ada lelahnya melangkah dan berjalan dari satu lapak ke lapak lainnya.

Suasana malam pertama Pasar Senggol di Terminal Limboto, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (16/04/2022). (Foto: Andi 60dtk)

“Alhamdulillah tahun ini ada senggol. Kita semua senang karena kegiatan ini terakhir dilaksanakan di 2019 lalu,” aku salah satu pengunjung asal Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Yuliana Abdullah (30).

Bagi sebagian orang, termasuk Yuliana, berbelanja di pasar malam memang dianggap lebih bagus dibanding harus ke toko. Satu alasan yang sudah jadi rahasia umum, di sini mereka dapat saling tawar-menawar harga barang dengan pedagang.

“Kalau di pasar malam begini semua barang kita tinggal serba lihat, beda kalau di toko. Misal toko perabotan, hanya perabotan semua. Kalau di sini ada sandal, pakaian, satu kali semuanya. Jadi saya lebih senang belanja di senggol dan saya sudah biasa,” tandasnya.

Sambutan antusias atas kebijakan pemerintah daerah ini juga datang dari para pedagang. Riko Mahajani (43), pedagang minyak wangi mengaku sangat bersyukur pasar senggol kembali dilaksanakan. Sebabnya, pada momen ini penghasilannya akan meningkat dari hari-hari biasa.

“Menurut saya, penghasilan di pasar malam itu lebih banyak dibanding berjualan di pasar-pasar biasa atau harian, karena banyak masyarakat akan datang. Selain melihat suasana, mereka juga akan membeli,” ungkap pedagang asal Desa Pantungo, Kecamatan Telaga Biru tersebut.

Pertambahan penghasilan karena adanya pasar malam juga ikut dirasakan oleh Ronal Umar (30), salah satu warga yang menawarkan jasa parkir kendaraan tepat di depan Terminal Limboto.

“Saya hari-harinya hanya jualan ikan di pasar. Kalau ada senggol seperti ini saya buka parkir, jadi ada pendapatan tambahan. Penghasilannya lumayan, kalau lihat tahun-tahun lalu paling sedikit dalam satu malam itu saya dapat Rp100 ribu,” tandasnya.

 

Pewarta: Andrianto Sanga

Pos terkait