7 Pemuda dan Losungnya

Cerita Rakyat Batu Losung di Sumatera Utara, oleh: Markus Silaen, dikutip dari tulisan Chandra Damanik

60DTK, Editorial – Dahulu ada kampung tua yang bernama Huta Simapit di pinggiran Sungai Bah Bolon, kaki Gunung Simbolon. Dengan tanah yang subur dan sumber air yang cukup, kebutuhan penduduk sangat terpenuhi.

Saat itu pula, karena jumlah penduduk masih sangat sedikit, maka bila ada seorang gadis yang baru tumbuh dewasa, Ia seketika akan menjadi primadona dan rebutan bagi hampir semua pemuda.

Singkat cerita, ada seorang gadis dewasa yang cantik, tumbuh sebaya dengan 7 pemuda yang berteman akrab di kampung pada saat itu. Tetapi mereka mulai berseteru memperebutkan gadis tersebut, yang merupakan putri satu-satunya dari pemimpin kampung tersebut. Karena hanya dia gadis yang sebaya dengan 7 pemuda ini, Si Gadis pun merasa bingung dan mengadu kepada orang tuanya.

Baca juga: Ugly? Step Back! Pretty? Go Ahead!

Bapak Si Gadis akhirnya memanggil 7 pemuda tersebut ke halaman kampung, dan menanyakan perihal itu. Mereka pun satu persatu dengan berani menyatakan bahwa mereka memang suka dan ingin melamar si gadis. Tak satu pun dari mereka yang mengalah, hingga membuat si pemimpin kampung kebingungan.

Namun, tak sengaja Bapak Si Gadis menoleh ke tengah halaman kampung itu. Di sana ada losung (tempat menumbuk padi) yang sudah tua dan mulai rusak. Losung itu terbuat dari kayu haloban yang sudah dimakan usia

“Bagi siapa yang bisa membuat losung besar yang tidak dapat rusak turun temurun dan paling cepat selesai, Ia akan aku angkat menjadi menantunya,” tantang Bapak Si Gadis.

Baca juga: Black Lives Matter

Mereka pun menerima tantangan itu, dan masing-masing langsung mencari satu batu besar untuk dipahat. Siang dan malam mereka bekerja disaksikan penduduk kampung. Namun karena sejak lama mereka sudah berteman akrab dan terbiasa bergotong-royong di ladang, mereka pun kadang lupa bahwa mereka sedang berkompetisi.

Mereka justru saling membantu satu dengan yang lain, dan saling menunggu supaya dapat selesai bersama-sama. Akhirnya pekerjaan itu selesai dalam waktu yang sama, dan mereka melaporkannya kepada Bapak Si Gadis. Saat melihat hasilnya, Bapak Si Gadis pun tercengang dan bingung, karena di depan halaman rumahnya sudah ada 7 buah losung yang telah rampung dikerjakan.

“Ya. Sebaiknya kalian istirahat dulu. Besok kita bicarakn keputusannya,” ujarnya kemudian.

Baca juga: Regenerasi Gerakan Yang Buruk

Lalu dia masuk ke rumah dan berkata pada anak gadisnya, “Kali ini bukan saya yang menentukan, tetapi kau. Apakah ada seorang dari mereka yang kau sukai?” Sambil tersenyum malu, Si Gadis menjawab, “Ada, Pak.”

“Kalau begitu saya akan berpikir dulu.” Sahut bapaknya. Ia lalu berdoa kepada leluhur dan Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi kebijaksanaan, kekuatan, dan kesaktian.

Pada malam hari, ketika 7 pemuda itu sedang tidur, Bapak Si Gadis mengangkat losunglosung itu dan membenamkannya ke sungai. Ia lalu mengunci pandangan secara gaib, yang membuat hanya orang tertentu dan juru kunci yang dapat melihat 6 losung tersebut di dasar sungai.

Baca juga: Kebiadaban Di Bahtera Asing

Batu losung yang dijadikan tempat wisata. (Foto – Istimewa)

Akhirnya tersisa satu losung yang bisa dilihat semua orang. Tetapi ketika sudah di tepi sungai, dia mengurungkan niatnya, sebab menurutnya losung itu sangat dibutuhkan di kampungnya. Akhirnya dia meletakkan losung itu di tepi sungai begitu saja.

Hari mulai pagi. Karena takut ketahuan, Bapak Si Gadis pun buru-buru pulang ke rumahnya, sementara losung terakhir itu tetap di tepi sungai.

Saat pagi tiba, para pemuda itu heran melihat losung mereka yang sudah tak ada di tempat sebelumnya, sementara satu-satunya yang masih tersisa justru terletak di tepi sungai. Mereka pun ribut satu sama lain, saling memperebutkan losung yang tersisa.

Baca juga: Salahnya Pengelolaan Limbah Medis Covid-19, Jadi Ancaman Baru Di Masyarakat

Melihat kericuhan itu, para penduduk kampung pun memanggil pemimpin kampung untuk menyelesaikan persoalan itu. Sementara itu, agar tidak ketahuan, Bapak Si Gadis -yang juga kepala kampung itu, pura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Ia lalu seolah-olah menyerahkan masalah itu untuk diselesaikan oleh para tetua kampung dan penduduk. Padahal sebelumnya, Ia sudah menjumpai salah satu tetua kampung, dan meminta agar nanti ketika musyawarah terjadi tetua kampung itu bisa mengusulkan pendapat yang sudah dirancang olehnya.

“Begini. Tentu tidak mungkin kalian bertujuh menjadi menantu kepala kampung kita ini. Begini saja. Panggillah Si Gadis dan mintalah Ia untuk duduk di tepi losung itu. Setelah itu hampirilah Ia satu per satu. Bagi siapa yang ketika menghampiri dan duduk bersamanya di sana lalu menerima senyum dari gadis itu, maka dialah yang menjadi suaminya,” ujar si tetua kampung saat musyawarah berlangsung.

Baca juga: Kisah Bawang Merah Dan Bawang Putih: Serupa Tapi Tak Sama

“Bagaimana Bapak Kepala Kampung? Apakah Anda setuju?” Lanjut tetua itu. “Saya setuju, Pak.” Jawab Bapak Si Gadis dengan lugas, disambut tepuk tangan dari semua penduduk.

7 pemuda itu pun bertanya pada Bapak Si Gadis, “Bagaimana ini Tulang? jangan Nanti Tulang mengingkar dalam hal ini.”

“Tidak,” jawab Bapak Si Gadis. “Kalau sudah begitu musyawarah kita, saya menerima keputusan, dan mau tidak mau kalian juga harus melaksanaknnya,” ujar pemimpin kampung itu dengan tegas.

Baca juga: Menelaah Emansipasi: Kesetaraan Dalam Konsep Islam

Ketujuh pemuda tadi jadi merasa penasaran, dan mulai mencari ide masing-masing untuk menghampiri dan duduk di samping Si Gadis agar Si Gadis bisa tersenyum dan merasa senang.

Secara bergiliran mereka dipanggil satu persatu, untuk menghampiri Si Gadis yang sudah duduk di tepi batu losung itu. Tetapi 1 sampai 6 pemuda sudah menghampirinya, dan wajah Si Gadis hanya merengut seolah memandang kosong aliran sungai di depannya.

Tibalah giliran bagi pemuda yang ke-7. Ia datang dan duduk di samping Si Gadis sambil berbisik dengan tatapan yang begitu dalam dan menghanyutkan seperti riak aliran sungai, dengan bunyi desiran angin yang sepoi. Ia lalu berkata dengan bahasa setempat.

Baca juga: Suatu Penawar Untuk Kesalahan Memahami Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

“Aku tidak ingin duduk denganmu di batu ini.” Katanya. Si Gadis pun menoleh, “Maksudmu?” Tanya Si Gadis.

Si Pemuda menatapnya sambil tersenyum dan berkata, “Jangan di batu ini saja. Tapi aku ingin kita duduk besok itongahni alaman, dohot singhuta, akka tondong, ganup diha diha, naliat – nalolou ilobeini Tulang pakon atturang, nalaho patappei parsahapan botow, ase lang be hundul ham ilambungku tapi ase hundul ham bai abinganhu (artinya kurang lebih: ingin duduk di pelaminan dan di semua tempat denganmu),” ujar Si Pemuda panjang lebar.

Akhirnya Si Gadis tersenyum sambil tersipu malu. Ia merasa bagai sedang berada di syurga, di tepi sungai firdaus. Melihat itu, semua penduduk merasa senang, meski enam pemuda sebelumnya merasa sangat kecewa. Namun sebagai sahabat, mereka berusaha menerima dengan ikhlas dan lapang dada.

Baca juga: Berjuang Dengan Pena: Cara Perjuangan Ala Kartini

Hingga saat ini, cerita ini masih sangat dipercaya. Jika duduk di batu itu, hingga kini orang-orang masih sering tersenyum, dan dibuat semakin kasmaran. (rds)