Tidak Benar, Ratusan Pohon Kelapa di Boliyohuto Ditebang Karena Harga Anjlok

60DTK – GORONTALO : Camat Boliyohuto, Adriyanto Pilomonu angkat bicara dan memberi klarifikasi tegas terkait penebangan ratusan pohon kelapa di Desa Tolite, Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo (Kabgor) yang katanya dilakukan oleh para petani sebagai bentuk protes karena kesal harga kelapa dan kopra tak kunjung normal.

Diketahui, usai mendengar masalah ini, pada tanggal 16 September 2019 pagi Ia pun berinisiatif mengumpulkan para petani dan menggelar pertemuan di Kantor Desa Tolite yang juga turut dihadiri oleh Ketua Kelompok Tani, Saipul Ahmad, dan Babinsa, untuk bertanya dan mengklarifikasi langsung ke para petani agar dapat mencapai titik terang masalah tersebut. Hasilnya, Adriyanto pun menerangkan bahwa benar ada penebangan pohon kelapa oleh petani di Dusun Datahu, Desa Tolite, namun bukan karena kesal dengan harga kelapa dan kopra yang anjlok, melainkan karena alasan – alasan lain untuk keberlangsungan pertanian itu sendiri.

Baca : Harga Kelapa Anjlok, Nelson Lapor Ke Moeldoko

“Pohon yang kami tebang itu karena kelapanya sudah tidak produktif, kerdil, atau tidak berbuah. Kalaupun ada yang berbuah, jumlahnya hanya satu sampai empat buah, itu pun kecil – kecil. Selain itu, pohon – pohon ini juga sangat menganggu tanaman tebu yang kebetulan ditanam di bawah pohon kelapa,” terang Adriyanto panjang lebar, mengutip apa yang disampaikan para petani kepadanya.

Setelah mendapat klarifikasi dari para petani, Ia pun memutuskan menuju ke lokasi penebangan pohon untuk melihat kondisi secara langsung, sekaligus bertemu dengan pemilik pohon, Suryono, seorang warga Desa Gandasari, Kecamatan Tolangohula, yang beberapa waktu lalu menjual pohon kelapanya kepada pihak ketiga seharga Rp.110 ribu/pohon.

Baca : Tangani Masalah Kelapa, Nelson Usulkan Pembentukan Otoritas Kelapa Indonesia

“Pohon – pohon ini sudah tidak produktif lagi, beberapa bahkan sudah tidak berbuah. Kalaupun ada buahnya, yaa paling dua sampai 3 buah saja per pohon. Hasilnya tidak seimbang dengan biaya panjat kelapa dan operasional lainnya. Apalagi sekarang harga kopra sedang anjlok,” ungkap Adriyanto, kali ini mengutip perkataan Suryono padanya.

Adriyanto pun menerangkan, selain alasan – alasan itu, Suryono juga mengaku alasan kedua Ia menjual pohon – pohon itu adalah karena pertumbuhannya mengganggu tanaman pokok usahanya, yakni budi daya tebu.

Baca : Resmi! Kabgor Akan Jadi Tuan Rumah Festival Kelapa Internasional 2020

“Ini juga mengganggu tanaman pokok usaha saya, tebu. Hal lainya juga, pohon – pohon ini sering tergenang air kalau air sungai meluap, bahkan beberapa kali suka hanyut dibawa air,” tukas Adriyanto, masih mengutip Suryono yang ternyata juga memiliki ikatan KSO dengan Pabrik Gula Tolangohula itu.

Diketahui, Suryono memiliki lahan seluas 16 hektare tepat di pinggir bantaran sungai, yang sudah ditanami 560 pohon kelapa sejak puluhan tahun lalu, meski baru – baru ini sudah ditebang sekitar 50 pohon. (Nikhen/rds)

 

 

 

.

 

Comments are closed.