Kabupaten Pohuwato Masuk Zona Teraman Stunting

60DTK-Gorontalo:  Pencegahan stunting di Gorontalo mengalami tren yang sangat baik, apalagi pencegahan dan penanganan yang dilakukan di Kabupaten Pohuwato. Menurut data dari Riskedas (Riset Kesehatan Dasar) Daerah tahun 2018 Kabupaten Pohuwato sudah berada dalam daerah yang aman atau ditandai dengan zona hijau.

Kabupaten lain seperti Boalemo, Gorontalo Utara, dan Kota Gorontalo masuk dalam zona merah atau terbilang tidak aman. Sedangkan Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo masuk dalam zona kuning yang berarti berada di pertengahan atau dalam tahap pelaksanaan pencegahan dan penanganan stunting.

Data Riskedas tahun 2018 yang memetakan Pohuwato sebagai daerah teraman dari stunting turut dibenarkan oleh Kepala Bidang Kesmas, PP, dan KB, Diskes Provinsi Gorontalo, Rosina Kiu.

Saat ditemuai di kantornya, Selasa (5/10/2019) Rosna Kiu mengatakan, Kabupaten Pohuwato sudah terbilang baik dalam pencegahan stunting di Gorontalo, dalam pemetaan Riskedas tahun 2018 kemarin area Pohuwato masuk dalam zona hijau  yang berarti daerah ini sudah bagus penanganan dan pencegahan stunting.

“Yang masih tanda merah ini Kabupaten Boalemo dengan presentase 33,39 persen ,Kabupaten Gorontalo Utara 30,15 persen dan Kota Gorontalo. Selain itu Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo berada di situasi yang perlu pencegahan dan penangan secara merata,” ujar Rosina saat ditemui di kantornya dan memberikan keterangan mengenai stunting di Gorontalo.

Rosina juga mengungkapkan, zona hijau tadi berada pada taraf teraman ditandai dengan presentase pencegahan dan penanganan Pohuwato berada di bawah 20 persen, dan bila presentase berada di atas 20 persen itu bisa dikategorikan belum aman, dan zona merah yang sesuai pemetaan dari data Riskedas menandakan keadaan tak aman.

“Gorontalo dan Bali mengalami tren penurunan secara signifikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Terhitung dari tahun 2015, 2016, 2017. Kabupaten Pohuwato, dan Kabupaten Gorontalo menunjukan penurunan secara signifikan dalam hal pencegahan dan penanganan sehingga kedua daerah tersebut dijadikan lokus penelitian terhadap pencegahan stunting di Gorontalo,” papar Rosina Kiu.

Kata Rosina, tren menurunnya angka stunting ini juga dipengaruhi oleh upaya Intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Dalam hal intervensi spesifik pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mendorong sekaligus membuat adanya peraturan Gubernur No. 49 tahun 2018 tentang pembentukan tim pencegahan dan penaggulan masalah stunting terintegrasi di Provinsi Gorontalo.

“Program intervensi spesisfik yang mengerjakan hal ini sektor kesehatan, dan intervensi sensitif dikerjakan dari luar sektor kesehatan seperti Dinas Pertanian untuk menunjang pangan lokal sebagai makanan kesahatan bagi ibu hamil, Dinas Perikanan untuk menyuplai ikan buat ibu hamil dan anak stunting; serta Dinas PUPR dalam hal ini pembangunan jamban dan penanganan sanitasi di lingkungan masyarakat,” urainya secara jelas.

Ia juga menambahkan, bahwa sangat baik bagi ibu hamil dan kesehatan anak yang terkena stunting untuk mengkonsumsi kelor. “Pencegahan melalui makanan juga sangat diperlukan. Kelor banyak mengandung vitamin C, Zat Besi, dan Kalsium serta zat-zat lainnya yang begitu tinggi.”

Meskipun belum dilakukan penelitian, tapi Rosina menduga Beberapa faktor yang menjadikan Pohuwato bisa masuk dalam zona hijau karena masyarakatnya mulai menanam kelor dan mengkonsumsinya secara rutin.

“Kabupaten/kota yang sudah mulai menanam kelor ialah Pohuwato, di sana tanaman kelor mulai ditanami dan dikonsumsi juga di masyarakat. Gerakan mulai mengkonsumsi daun kelor ini, saya rasa juga mendorong angka penurunan stunting yang sangat signifikan di Pohuwato,” katanya saat di wawancarai.


Penulis: Zulkifli Mangkau

Comments are closed.