Menanam Serai, Dari Mencegah DBD Hingga Memperbaiki Ekonomi

60DTK – Gorontalo: Sore ini matahari Gorontalo tumpah ruah ke tubuh saya, meskipun waktu menunjukan pukul tiga sore. Namun, memang beginilah keadaannya, terik matahari di Gorontalo memang panas. Jika dilihat dari letak geografis Gorontalo merupakan salah satu daerah di Sulawesi yang dilewati oleh garis khatulistiwa, sama dengan Kota Palu. Jadi wajar memang sehari-hari warga Gorontalo merasakan panas dan gerah setiap harinya.

Tapi meskipun panas, warga Gorontalo tak mengurangi aktivitasnya sehari-hari. Di jalanan banyak kendaraan yang lalu lalang. Bahkan hal sangat wajar akan ditemui di setiap sudut atau bibir jalan, banyak penjual yang menjajakan aneka jualan es dan jualan lainnya sebagai pelepas dahaga atas terik matahari yang begitu panas.

Tujuan saya sore ini menuju ke Desa Lupoyo, desa yang dinobatkan sebagai desa pencegah Demam Berdarah Dengue (DBD) karena setiap rumah diwajibkan menanam tanaman serai, tanaman yang disinyalir dapat mengusir nyamuk penyebab DBD.  Bahkan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo juga membenarkan bahwa seluruh warga Gorontalo di anjurkan untuk menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk, salah satunya serai yang sudah mulai ditanam oleh warga Desa Lupoyo setahun yang lalu.

Baca juga: Kabupaten Gorontalo Dan Pohuwato Menempati Posisi Tertinggi DBD Di Gorontalo

Desa Lupoyo sendiri berada di dekat di danau Limboto, danau yang di gadang-gadang oleh peneliti akan hilang di tahun 2025 karena selalu mengalami pendangkalan setiap tahunnya.

Perjalanan saya ke Desa Lupoyo ini memakan waktu sekitar 20 menit, tapi saya menghabiskan hampir sejam. Karena alasan yang klasik, tak tahu tempatnya. Tapi kebuntuan mencari Desa Lupoyo ini akhirnya selesai, informasinya saya dapatkan melalui warga sekitar, mengandalkan bakat kemampuan alami yang selalu dipakai oleh orang banyak, ialah bertanya. Dan akhirnya saya mendapatkan alamat yang saya tuju, Desa Lupoyo.

Saya di sambut oleh beton penanda, “Anda memasuki Desa Lupoyo,” tertulis pada beton tersebut.

Baca juga: Dikes Gorontalo: Ketidakpedulian Masyarakat Penyebab Angka DBD Kian Tinggi

Bapak-bapak yang sedang asyik bersantai ria di pendopo, tepat berada di belakang beton itu ia sedang mengibaskan bajunya ke arah ke tubuhnya, ia tampak kepanasan. Saya kemudian memberi klakson kepadanya, sembari bertanya mau masuk Desa Lupoyo. Ia membalas dengan mengangguk saja.

Perjalanan itu saya lanjutkan, menelusuri aktivitas warga yang setiap harinya merawat dengan hati tanaman serai mereka. Setelah berjarak kurang lebih 100 meter dari gerbang penanda masuk ke Desa Lupoyo ini, saya di sambut oleh beberapa petak sawah yang mengering, akibat kemarau yang melanda Gorontalo, belum lagi hingga bulan Desember ini hujan yang turun belum begitu intens, akibatnya berdampak pada petani.

Saya terus melanjutkan perjalanan, melewati pematang sawah yang kering itu, masuk lebih ke dalam Desa Lupoyo, hanya sekadar mencari tahu aktivitas mereka merawat serai sebagai tanaman pencegah DBD, pun sekaligus menjadi jualan ekonomi bagi warga sekitar.

Baca juga: Musim Hujan Tiba, Masyarakat Dihimbau Waspadai Demam Berdarah

Tak jauh dari belokan yang saya lalui, beberapa rumah dan halaman depan rumah mereka tumbuh dengan subur tanaman serai tersebut. Ada yang baru ditanam beberapa hari dan ada juga tanaman yang sudah dewasa atau sekitar dua sampai tiga bulan tumbuhnya.

Tapi sayang, rumah-rumah yang setiap halamannya ditanami serai itu tertutup rapi, seperti tak ada kehidupan. Mungkin mereka tidur di jam-jam seperti ini, mengingat jika beraktivitas dengan cuaca yang panas membuat mereka tak nyaman.

Sekiranya waktu telah menunjukan pukul 16.20, hampir sejam lebih lamanya saya berputar-putar mencari desa ini. Dan naasnya, tak ada warga yang saya temui. Di jalanan hanya ada beberapa anak-anak sedang bermain.

Baca juga: Keren! Gema Paraleptik, Program Baru Pemerintah Kabgor Untuk Cegah DBD

Tanaman serai yang ditanam oleh warga Desa Lupoyo sebagai pencegah DBD. Foto: Zulkifli M.

Namun tak lama kemudian di tempat saya berhenti, dari kejauhan para warga mulai keluar dari rumahnya, ada yang membawa sapu lidi, ada yang membawa parang, mungkin mereka mau kerja bakti membersihkan lingkungan mereka.

Tapi, tepat di ujung jalan menuju Selatan, ada keadaan yang berbeda dari warga yang saya lihat. Seorang ibu rumah tangga, berdiri di tengah-tengah jalanan desa, saya memperhatikannya dengan saksama, ia seperti berbicara pada seseorang.

Tapi karena jarak yang jauh saya tak bisa mendengar. Saya kemudian mendekat, melihatnya lebih dekat, nampaknya dia sedang memanggil anaknya untuk menghidupkan air dari sumur mereka.

Baca juga: Menurut Data Dinas Kesehatan, Selama Dua Tahun Terakhir Angka DBD Di Gorontalo Masih Tinggi

Sore itu, perempuan paruh bayah itu, sedang menyirami tanaman serai yang selama ini ia tanam.

Selang panjang yang ia pegang di tangan kanannya tiba-tiba keluar air yang sangat deras, “Mama sudah,” teriak anaknya dari dalam rumah. Ia kemudian mulai menggerakan selang itu ke tanaman serainya, dengan penuh semangat ia mulai melakukan aktivitas sore itu.

Tanaman serai yang ia sirami seperti hidup kembali, mulanya layu, kini serai itu seperti bergairah kembali. Mendapatkan sesuap air yang ia harapkan sehari-hari untuk mempertahankan hidupnya agar tak mati. Butiran-butiran air satu per satu mengalir ke tanah, melewati setiap daun-daun serai itu.

Baca juga: Hingga 30 Januari 2019, Angka Pengidap DBD Capai 329 Kasus

Menanam Serai, Pencegah DBD dan Perbaikan Ekonomi

Ibu Sowan Angiu nama perempuan yang saya lihat tadi, ia berumur  50 tahun. Sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga dan dalam setahun terakhir mulai aktif menanam dam memelihara serai.

Sore itu, tampaknya langit mau mengajak senja muncul, dan Ibu Sowan sedang asik dengan selang yang ia genggam. Beberapa serai yang ia tanami satu per satu ia sirami. Hampir setiap harinya aktivitas ini ia jalani. Dari pagi hari ataupun sore hari.

Menurut Ibu Sowan sendiri, hampir di setiap rumah warga di Desa Lupoyo menanam serai dan berbagai macam tanaman lainnya. Ada yang menanam serai untuk pencegahan DBD ada pula untuk dijual atau dikonsumsi sendiri.

Baca juga: Ingin Jangkau Masyarakat Di Desa Terpencil, Dikes Kabgor Upayakan Mobil Klinik

“Rata-rata orang di sini menanam serai, bisa dilihat dari halaman rumah atau di belakang rumah mereka pasti ada tanaman satu ini,” kata Ibu Sowan kepada saya, Selasa (26/11/2019).

Tanaman serai yang ditanam Ibu Sowan di samping kanan rumahnya yang saat ini telah menjadi kebun kecil miliknya. Foto: Zulkilfi M.

Ia juga menuturkan, bahwa tujuannya menanam serai ini mengikuti intruksi pemerintah desa sebagai tanaman pencegah penyakit DBD, dan tanpa ia sadari menanam serai juga menguntungkan dari sisi ekonomi bagi dirinya dan beberapa masyarakat yang ada di sini.

“Sudah lama menanam serai, boleh di hitung sudah setahun lebih. Selain itu desa juga sudah punya program menanam serai ini dari tahun kemarin. Program yang digalang pemerintah desa ini untuk mencegah DBD di kampung kami desa Lupoyo. Tapi di samping itu, ada juga yang beli serai yang kami tanam ini. Tidak semata-mata untuk kami tanam sebagai pencegah DBD saja tapi bisa dijual juga,” tuturnya.

Baca juga: Sudah Pramuka Sejak SD, Nelson Mengaku Bangga Terima Penghargaan Satya Lencana Melati

Kata Ibu Sowan, sedari menanam serai tahun kemarin, ia mulai menjual serai baru tahun ini, dan yang ia jual pula yang  sudah tumbuh besar. “Saya jual tanaman ini per satu pohon yang sudah tumbuh besar dan tergantung ukurannya juga, paling standar dijual Rp5 ribu per pohon dan paling besar Rp10 ribu.”

“Biasanya setiap minggu orang-orang datang membeli . Ada yang membeli untuk ditanami kembali sebagai pencegah DBD dan ada juga yang membeli untuk dijadikan rempah-rempah masakan mereka. Biasanya rumah makan yang paling banyak.”

Serai milik Ibu Sowan Angiu yang sudah berumur satu bulan. Foto: Zulkifli M.

Semua tanaman yang dipelihara Ibu Sowan ini diperuntukan untuk pencegahan, tapi apa salahnya juga untuk dijadikan jualan. Tambah-tambah buat ekonomi kami di desa, katanya. Menurutnya juga, selama menanam serai ini nyamuk yang dulunya banyak di rumahnya, kini mulai berkurang. Manfaat dari menanam daun serai ini.

Baca juga: Persoalan Penyakit Masyarakat Jadi Perhatian Serius Gubernur Gorontalo

“Kalau untuk terkena DBD sendiri belum ada, tapi nyamuk di rumah yang biasanya banyak mulai hilang karena saya menanam serai hampir di setiap sudut rumah dan bahkan di samping kanan rumah saya buatkan kebun khusus untuk menanam serai ini,” ujarnya kepada saya, setelah Ibu Sowan telah selesai menyirami beberapa tanaman serainya.

“Saya juga bersyukur dengan menanam serai ini, selain juga mencegah DBD saya juga diuntungkan dari sisi ekonomi. Ada perbaikan ekonomi lah, meskipun itu tidak besar, tapi sudah lumayan buat keluarga.”

 

Penulis: Zulkifli M.

Comments are closed.