Polda Gorontalo Pantau Aktivitas Medsos, Cari Provokator

60DTK – Gorontalo : Menanggapi berita – berita tentang pengrusakan Musala yang terjadi di Desa Tumaluntung, Kauditan, Minahasa Utara yang muncul akhir – akhir ini, Kapolda Gorontalo, Wahyu Widada mengimbau masyarakat Gorontalo untuk tidak mudah terprovokasi, terlebih jika banyak membaca berita terkait hal tersebut melalui media sosial. Ia menegaskan, masalah tersebut biarkan saja menjadi urusan pihak kepolisian.

“Saya mengimbau agar masyarakat Gorontalo tidak terprovokasi dengan isu ataupun informasi yang beredar luas di media sosial. Mari kita percayakan pengrusakan itu kepada kepolisian. Jangan ada saling memprovokasi, apalagi di media sosial,” jelas Wahyu, Kamis (30/01/2020).

Baca juga: Kapolres Gorontalo Kota Menyayangkan Ada Perusakan Fasilitas Di Kantor DPRD Gorontalo

Ia menegaskan, insiden tersebut dilakukan oleh orang – orang tidak bertanggung jawab, untuk memprovokasi dan merusak kerukunan antar umat beragama.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Gorontalo, Wahyu Tri Cahyono menjelaskan, saat ini seluruh jajaran Polda Gorontalo sedang melakukan patroli digital di berbagai media sosial, untuk memantau pelaku – pelaku yang berpotensi melakukan provokasi, baik melalui WhatsApp, Facebook, maupun media sosial lainnya.

Baca juga: Majemuk Dalam Agama, Indonesia Harus Jaga Kerukunan

“Karena memang hasil patroli di media sosial, kami berhasil memonitor begitu masif postingan video terkait peristiwa pengrusakan tersebut,” ujar Wahyu.

Meski begitu, Wahyu menegaskan bahwa permasalahan yang terjadi di Minahasa Utara itu, kini sudah ditangani Polda Sulawesi Utara. Bahkan para pelaku pengrusakan saat ini sudah diamankan.

Baca juga: Amerika Serikat Mulai Bangun Kemitraan Dengan Organisasi Berbasis Agama

Untuk itu, Ia berharap agar para ulama, tokoh masyarakat, tokoh adat, juga para kepala daerah se – Provinsi Gorontalo bisa turut ambil peran dalam memberikan pemahaman kepada warganya untuk tetap menjaga keadaan agar aman dan kondusif. (rls)

 

Penulis: Hendra Setiawan

Sumber: Prosesnews.id